Nasi Goreng Telor Mata Kebo

Tri Agus S. Siswowiharjo

“Nasi goreng di sini lebih enak dari nasi goreng Hambalang,” kata Prabowo Subianto disambut tertawa hadirin, termasuk para wartawan, saat konperensi pers usai  pertemuan dengan Susilo Bambang Yudhoyono di Puri Cikeas pada 27 Juli 2017. Pak SBY intelejennya bagus sampai tahu kesukaan saya nasi goreng, lanjut Prabowo. “ Pak SBY tahu kelemahan saya, jadi setelah disuguhi nasi goreng semua saya setuju saja ha ha ha,” Prabowo dan hadirin tertawa. Baiklah. Karena sudah banyak pakar menulis soal pertemuan SBY dan Prabowo, maka tulisan ini sengaja membahas yang tidak penting, bagaimana komentar di media sosial terhadap pertemuan antara SBY dan Prabowo.

Prabowo juga menyatakan Presidential Threshold 20-25 % itu lelucon. Sungguh pernyataan  ini lelucon yang tidak lucu. Bukankah pada pilpres 2009 dan 2014 lalu sudah dilakukan?  Samsul Maarif, seorang warganet menulis “Jokowi: PT 20/25% itu kan berlaku sejak Pilpreas 2009-2014. Kenapa baru sekarang diributkan? Kalau Pak Prabowo bisa jawab, bakal dikasih sepeda”

Soal nasi goreng, kuliner Indonesia yang mendunia, rupanya menginspirasi seorang warganet menulis status Facebook dan cuitan di Twitter begini: “Apa persamaan dan perbedaan antara Obama dengan Prabowo? Keduanya suka nasi goreng. Bedanya Obama dua kali menjadi presiden.”

Masih tentang nasi goreng, Dadang Christanto, perupa kita yang tinggal di Australia menulis, “Menu Spesial hari ini: Nasi Goreng dengan Telor Mata Kebo!:

Warganet juga menanggapi isu rencana “menjodohkan” Prabowo dengan anak SBY, Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY. Ini salah satu komentar warganet:  “Dua eks perwira militer menjajaki maju sebagai pasangan dalam  pilpres 2019. Yang  tua besar karena mertuanya, yang muda  dianggap besar karena bapaknya.”

Bukan itu saja. Sebuah status yang mengaku ‘bukan Ibas’ menulis, “Saya Cuma tak ingin pengalaman mertua saya pada 2014 terjadi pada kaka saya di 2019 (mirip Ibas)”

Komentar kritis lainnya juga bisa kita lihat di dumay, misalnya, “Mega dua kali gagal pada pilpres langsung 2004 dan 2009. Itu salah satu sebab tak maju 2014. Prabowo juga gagal dua kali, 2009 dan 2014. Tapi tampaknya ia akan maju lagi.”

Amin Mudzakkir, seorang peneliti dari LIPI yang kini selalu eksisi di Facebook, menulis “Jadi capres itu memang tak ada batasnya? Mungkin dalam hal ini berlaku pepatah lama: kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda.”

Tak hanya Prabowo yang dikritik, SBY juga disorot terutama soal bagaimana ia menggunakan bahasa Inggris. Coba simak komentar seorang warganet, “Power must not go unchecked, agar tak abuse of power dan accross the line.” Di bawahnya ada hestek ngertiorason dan manapowerbank?

Soal penggunaan bahasa, Hairus Salim dari Jogja menulis, “Prabowo butuh SBY. Sedangkan SBY butuh konsultan berbahasa Indonesia yang baik dan benar”.

SBY dan Prabowo yang mengkhawatirkan Pemerintahan Jokowi tentang pemilu, dijawab oleh seorang Facebooker, “Mereka menuntut pemilu yang beradab, sementara jejak mereka di pilkada menunjukkan sebaliknya.” Jawaban ini cukup telak, karena pada Pilkada Jakarta awal tahun ini, kedua tokoh ini bergandeng tangan dengan ormas radikal dengan kampanye yang brutal.

Dua warganet balik mengkritisi SBY dan Prabowo soal abuse of power. “Abuse of power itu menculik aktivis, korupsi proyek mangkrak:  begitu bung Prabowo mbah SBY.” (Trisno Yulianto). “Ide mengawasi penguasa agar tak melakukan abuse of power sangatlah tepat, jangan sampai kasus Antasari terulang.”  (Hernawa Ren).

Sudah bukan rahasia lagi politisi kita, termasuk eks tentara suka baperan. Mereka tak belajar dari para politisi kita era Demokrasi Liberal. Pandangan politik boleh berbeda tetapi tetap bisa ngopi bersama. Boleh jadi, politisi mantan jenderal, perlu belajar dari Senator John McCain. Ini tulisan seorang warganet, “Wahai eks tentara belajarlah pada veteran John McCain. Meski Republiken, ia gabung Demokrat gagalkan upaya Trump ubah Obamacare.” McCain pernah dikalahkan Obama pada pilpres 2008, tapi ia mendukung Obama dalam soal Obamacare. Ia tak setuju gagasan Presiden Donald Trump yang sama-sama dari Republik.

Bagaimana tanggapan Jokowi soal pertemuan SBY dan Prabowo dan kemungkinan pasangan pesaingnya pada Pilpres 2019? Seorang warganet menulis seolah Jokowi, begini: “Saya ndak mikir mau Prabohay, Prabanies, Pradoko bahkan Prabotan. Saya fokus kerja kerja kerja.”

SBY dan Prabowo mengritik Presiden Jokowi  yang dikhawatirkan akan abuse of power, namun warganet tahu petuah lama, “Ketika satu jari menunjuk ke orang lain, maka empat jari menunjuk ke diri sendiri.”

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR