Ngobrol Seru Bareng Ulil Tentang Ngaji Kitab Ihya’ dan Lainnya

Foto Kegiatan "Ngobrol Seru Bareng Ulil Abshar Abdalla".

Minggu malam (4/2), usai Jogja diguyur hujan, Kafe Basabasi di Sorowajan Baru, Bantul, tampak ramai. Bahkan formasi kursi dikurangi untuk lesehan. Malam itu kafe milik pengusaha muda Edi Mulyono itu menampilkan gus Ulil (Ulil Abshar Abdalla). Tapi kali ini ia tak bicara Islam liberal. Diskusi diawali dengan penjelasan Ulil tentang Ngaji Kitab Ihya’ serta kecintaannya terhadap Imam Al Ghazali.

Kitab Ihya’ Ulumuddin adalah kitab yang sangat penting dalam peradaban Islam. Ada ulama bahkan secara hiperbola mengatakan, “Jika seluruh perpustakaan di dunia ini terbakar, termasuk perpustakaan UIN, dan kitab ihya’ tak terbakar maka sudah cukuplah…”. Semoga perpustakaan UIN tak terbakar ya,” tambah Ulil di depan hadirin yang umumnya mahasiswa dan dosen UIN Sunan Kalijaga Jogja.

Ada pandangan yang mengatakan kitab ihya’ dan ajaran Imam Ghazali membuat Islam tertinggal dari Barat. Ghazali membawa Islam ke spriritual dan menjauhi sain. Ulil mengatakan pandangan itu keliru. Di Barat pada abad lampau, dari sedikit tokoh Islam, kitab-kitab Ghazali lah yang paling banyak dipelajari. Ia bahkan disejajarkan dengan Descartes.

Terkait apakah getolnya Ulil ngaji ihya’ baik melalui Facebook maupun kopi darat (kopdar) merupakan bentuk pertobatan kenakalannya di masa lalu. Ulil menjawab diplomatis. Pernyataan itu tak seluruhnya benar. Ia tak mengiyakan semua dan tak membenarkan seluruhnya. Ditegaskan, bahwa dalam diri orang progresif itu perlu spiritualitas. Dengan ngaji ihya’ bukan berarti dirinya mengajak orang tak progresif.

Kita beruntung hidup di Indonesia, bisa membahas kitab ihya’ Al Ghazali sambil tertawa di kafe seperti di Basabasi. Ini tak mungkin terjadi di Mesir apalagi di Arab Saudi. Kata Ulil yang pernah dicekal masuk ke Malaysia itu, umat Islam Indonesia itu umumnya tak radikal dan toleran karena dua hal. Peranan para wali dan beredarnya humor di masyarakat.

Dalam Islam sebenarnya banyak ditemukan kitab-kitab yang membahas humor. Humor sufi, Abunawas salah satu contohnya. Humor itu diperlukan untuk mempermudah dan menyegarkan komunikasi tapi bukan untuk ‘ngenyek’. Soal humor tentu kita tak bisa menafikan peran Gus Dur. Bersama NU, Gus Dur menjadikan wajah Islam Indonesia lebih toleran. Salah satunya melalui humor.

Hairus Salim sebagai moderator mengatakan sebenarnya membahas Al Ghazali itu mudah. “Al Ghazali, El Rumi dan Abdul Kadir Zaelani itu bersaudara ayahnya Ahmad Dhani. Jadi untuk mengetahui tiga anaknya pelajarilah ayahnya,” ujar Salim disambut tertawa hadirin.

Kini Ulil makin padat jadwalnya untuk ngaji ihya’ di Facebook melalui live streaming, dibantu istrinya yang sangat paham medsos. Juga jadwal kopi darat yang dibatasi sebulan sekali, karena dia pun ada pekerjaan lainnya. Agenda dari awal sampai akhir tahun 2018 ini telah penuh.

Sejauh ini yang mengikuti pengajian bisa sampai dua puluh ribu. Namun mungkin karena kuota dan wifi serta sebab lain maka yang stabil aktif sekitar 300 orang. “Jumlah ini sama dengan jumlah murid Ghazali yang mengikuti ceramah-ceramahnya,” jelas Ulil yang selama acara mengenakan blangkon.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR