Novanto Hadiri Peringatan Hari Santri Nasional di Probolinggo

Di Pondok Pesantren Syekh Abdul Qodir Al Jailani, Ketua DPR RI Setya Novanto Hadiri Peringatan Hari Santri Nasional di Probolinggo (Rijal Ilyas)

Ketua DPR RI Setya Novanto hadiri peringatan Hari Santri Nasional 2017 di Probolinggo. Setelah menempuh perjalanan darat sekitar 4 jam lebih dari Kabupaten Malang, hari Minggu sore (22/10), Novanto dan rombongan tiba di Pondok Pesantren Syekh Abdul Qodir Al Jailani – Kabupaten Probolinggo, untuk menghadiri peringatan Hari Santri Nasional.

Novanto datang bersama Bupati Probolinggo Ibu Puput Tantriana, Ketua Komisi II DPR RI Bapak Zainudin Amali, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Bapak Roem Kono, Wakil Ketua Komisi VII Bapak Satya Yudha, Wakil Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan yang juga Anggota Komisi III DPR RI Bapak Adies Kadir, Anggota Komisi XI DPR RI Bapak Misbakhun, Anggota Komisi VII Ibu Eni M Saragih, Anggota Komisi VIII Bapak Hasan Aminuddin, serta Staff Khusus Ketua DPR RI Bapak Yahya Zaini.

Novanto terlihat mengenakan kopiah dan sarung, ciri khas warga Nahdiyin. Novanto juga mendapatkan sorban tanda kehormatan dari pengasuh pondok pesantren KH Hafid Aminuddin.

“Kehadiran saya disini tidak semata karena kedudukan sebagai Ketua DPR, tetapi juga karena saya warga Nahdiyin. Beberapa bulan lalu saya mendapat kehormatan menerima Kartu Tanda Anggota NU yang diberikan langsung oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, sehingga sejak saat itu saya resmi menjadi warga Nahdiyin. Oleh karena itu, saya ingin selalu dekat dengan para ulama dan santri, seperti pada hari ini.” ujar Novanto dalam sambutannya.

Menurut Novanto, peran kyai dan santri dalam perjuangan merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan mendapat tempat yang terhormat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itu, DPR RI mendukung Presiden Joko Widodo menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.

“Kebijakan tersebut merupakan hadiah terindah dari Presiden Joko Widodo yang akan dikenang sepanjang masa oleh ummat Nahdiyin.” kata Novanto.

Pengakuan terhadap kiprah ulama dan santri tidak lepas dari Resolusi Jihad yang dikumandangkan oleh Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari, yang saat itu sebagai Rais Akbar Nahdlatul Ulama, pada 22 Oktober 1945.

“Tanpa Resolusi Jihad NU tersebut, tidak akan pernah ada peristiwa 10 November di Surabaya yang diperingati sebagai Hari Pahlawan. Saya sangat bangga menjadi warga NU.” ujar Novanto.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR