Oknum PPM Ditangkap Polisi Malaysia, Konjen RI Tawau Akan Mengawal Kasusnya

Kepala Perwakilan RI untuk Tawau, Sabah-Malaysia, Krishna Djaelani jelaskan tentang adanya 15 WNI diantaranya oknum PPM ditangkap Polisi Malaysia (Eddy Santry)

Oknum PPM ditangkap Polisi Malaysia di Tawau pada 20 Januari 2018 lalu. Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KRI) Tawau, Sabah, Malaysia akan mengawal kasus penangkapan 15 WNI (dua diantaranya anak-anak)  oleh Polisi Diraja Malaysia, yang sebagian diantaranya adalah anggota PPM (Pemuda Panca Marga).

“Sampai saat ini kami masih menunggu hasil hasil pemeriksaan aparat (penyidik Kepolisian Malaysia) setempat. Namun kami pastikan akan mengawal kasus ini,” ujar Kepala Perwakilan RI di Tawau Krishna Djaelani kepada indeksberita.com, Jumat (26/1/2018).

Sebagaimana diketahui,pada 20 Januari 2018 pihak Polis Diraja Malaysia (PDRM) telah melakukan penangkapan terhadap 15 orang WNI diantaranya adalah oknum anggota PPM di dalam sebuah rumah tidak bernomor di Kampung Tas Andrassy, Tawau, Sabah-Malaysia.

Kejadian tersebut berawal dari informasi masyarakat Kampong Tas Andrassy kepada detektif PRDM yang mengatakan adanya sekelompak orang yang memakai pakaian loreng menyerupai tentara sedang berkumpul di sebuah rumah.

Atas dasar laporan tersebut, pihak PDRM lantas mengadakan penyelidikan dan setelah melalui pembuktian maka dilakukan penangkapan ke rumah tersebut dan didapati berjumlah 15 orang yang terdiri atas 8 (delapan) laki-laki dan 7 (tujuh) perempuan. Dalam penggeledahan, satu di antaranya memiliki paspor, sedangkan yang lainnya tidak ada dokumen.

PRDM juga menemukan sebanyak 11 kartu anggota dengan bertuliskan “Markas Daerah Pemuda Panca Marga Sulsel Keluarga Besar TNI-POLRI”. “Kesatuan Anak Veteran Republik Indonesia (KAVLI).

Dari pemeriksaan awal terhadap orang yang diduga sebagai pimpinan dan mengaku sebagai anggota Pemuda Panca Marga (PPM), Polis Diraja Malaysia mendapati pengakuan bahwa PPM masuk ke daerah Sabah sejak 2015 dengan alasan menjaga kebijakan warga Indonesia yang bekerja di Sabah.

Dari pengakuan tersebut juga diketahui bahwa mereka yang masuk sebagai anggota PPM tidak dipungut biaya. Akan tetapi untuk mendapatkan Kartu Tanda Anggota (KTA) PPM, mereka wajib menyetorkan dana 800 ringgit dan untuk membeli perlengkapan seragam, mereka juga harus menyetor sekitar 500 hingga 1.000 ringgit Malaysia.

Sementara itu ,dilansir dari Bernama, Pesuruhjaya Polisi Sabah, Datuk Ramli Din membenarkan hal penangkapan tersebut. Datuk Ramli mengungkapkan bahwa mereka yang sudah mempunyai KTA Pemuda Panca Marga dijamjikan akan kebal hukum di Malaysia walau tanpa identitas atau dokumen yang sah.

“Kita juga mendapati ada anggota organisasi ini yang ditipu dan dijanjikan konon dengan mengikuti organisasi ini akan mendapatkan imunitas dari undang-undang Malaysia,” ujar Datuk Ramli.

Karena yang ditangkap tersebut adalah Warga Negara Indonesia, maka Konjen RI merasa wajib untuk memberikan pendampingan dan bantuan hukum sesuai prosedur dari UU yang berlaku di Malaysia.

“Iya,tentunya kita akan memberikan bantuan atau pendampingan kepada mereka,” pungkas Krishna.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR