Om Telolet Om

ilustrasi

Bahagia itu sederhana. Sekelompok anak-anak dan remaja bahkan ada orang dewasa membawa kertes bertuliskan “Om Telolet Om” di pinggir jalan. Sejurus kemudian ada bus AKAP (antar kota antar provinsi) mendekati kelompok anak dan remaja itu dan kendaraan umum roda enam  itu membunyikan klakson: telolet…telolet..telolet. Kelompok anak dan remaja itu tertawan. Sebagian mengabadikan bus dan teloletnya memalui handphone mereka dan tak lama lagi muncul di media sosial.

Itulah yang kini sedang viral di media sosial kita. Bahkan seorang DJ kondang mancanegara mengunggah beberapa film “Om Telolet Om”.  Di media sosial kini kita bisa menyaksikan beberapa orang memegang kertas bertuliskan “Om Telolet Om” termasuk Sandiaga Uno. Tak lama kemudian sebuah mobil (bukan bus) datang dan membuka kaca. Tiba-tiba Anies Baswedan berbicara, “Memangnya saya om kamu!”. Tak mau kalah, Basuki Tjahaja Purnama juga berpose foto dengan baju kotak-kotaknya, lengkap dengan tulisan “Om Telolet Om”.

Terkait dengan heboh “Om Telolet Om” di seantero negeri, Menteri Perhubungan melarang sopir bus AKAP membunyikan klakson sembarangan. Ia beralasan akan membahayakan pengguna jalan lainnya. Namun larangan tak tertulis Menhub ini dikritik banyak orang. “Masak pak menteri tak ingin rakyat bahagia. Ini hiburan rakyat yang amat sederhana kok pakai dilarang-larang,” begitu banyak kalangan beralasan. Tak terlalu lama, Menhub melunak. Ia menghargai kreatifitas masyarakat dan kementeriannya merencanakan akan membuat festival telolet. Namun pengemudi tetap dihimbau berhati-hati bertelolet di jalanan.

Presiden Jokowi minggu ini (23/12) juga mengomentari tentang fenomena ini. “Ini kekuatan dan potensi media sosial. Menurut saya, ini sebuah kesederhanaan, kesenangan, kebahagiaan, dari rakyat untuk mendapatkan hiburan atau kegemarannya. Tetapi tetap harus hati-hati. Masak bus baru keluar terminal langsung dicegat Om Telolet Om,” ujar Jokowi sambil tertawa.

Di media sosial banyak netizen mengomentari maraknya “Om Telolet Om”. Savic Ali, pegiat NU Online,  menyambut positif fenomena ini. “Sejauh semangat dan kebiasaan “Om telolet Om” msh kuat, masyarakat Indonesia gak akan jadi masyarakat yang ekstrem dan radikal.” Demikian tulis Savic di halaman Facebooknya yang berdekatan dengan keberhasilan Densus 88 menembak mati tiga terduga teroris di Tangerang. Status Savic langslung disukai ratusan jempol.

Denny January Ali yang menggunakan nama Bung Joss di Facebook, sangat serius menanggapi “Om Telolet Om”. Katanya, “Om Telolet Om” dari anak anak Indonesia kini menjadi trending dunia. Anak anak itu berkumpul di pinggir jalan. Setiap bus antar kota lewat mereka berteriak berharap, sambil mengacungkan kertas bertuliskan “om telolet om.” Supir bus pun memainkan klaksonnya: telolet, telolet. Anak anak melompat kegirangan. Betapa kebahagiaan bisa datang dari hal yang begitu mudah, begitu sederhana.

Bos LSI ini juga menulis “Om Telolet Om”, dalam interpretasi politik. Anak anak berdiri di pinggir jalan menunggu bus kota lewat. Mereka lalu riang berteriak Om Telolet Om. Supir bus kota lmembunyikan klakson telolet-telolet, lalu berlalu. Anak anak senang dan menunggu bus kota berikutnya untuk mendengar klakson yang lain. Anak anak itu wakil dari rakyat Indonesia yang menunggu pemimpinnya. Seruan “Om Telolet Om” itu artinya, pemimpin sejahterahkan rakyatmu, bahagiakan mereka.

Supir bus kota yang lewat itu simbol pemimpin yang datang setiap pemilu. Klakson yang ia bunyikan itu janji politiknya. Dan janji itu sudah membuat rakyat girang. Walau setelah berjanji, seperti bus kota dan supirnya, pemimpin segera berlalu. Namun girangnya rakyat sementara jika hanya janji. Sebagaimana girangnya anak anak itu sementara jika hanya bunyi klakson yang mereka dengar. Demikian Denny JA eh Bung Joss.

Lain lagi Andy Yoes Nugroho, pegiat Sastra Gunung asal Temanggung, Jawa Tengah. Kata Andy, ternyata di balik frasa yang dianggap misterius itu terdapat musik. Bunyi telolet mirip dengan electronic arpeggiator yang kerap terdengar efek suaranya di ajang festival. Lalu para musisi merespon dengan membuat lagu remix telolet dan disambut antusias oleh penggemar musik elektronik.

Wabah “Om Telolet Om” menyebar sangat cepat dan menjangkiti kalangan luas, termasuk selebriti olahraga dan obama. Apakah telolet, yang artinya “‘honk your horn”, akan diterima oleh masyarakat dunia menjadi bahasa universal seperti musik?

Kuncinya adalah Amplifikasi. Amplifiernya Internet, lebih khusus lagi media sosial. Itu kata  Ichwan Prasetyo, wartawan dan pegiat sastra di Solo. “Itulah mengapa kesukaan anak-anak mencegat bus berklakson nyaring itu jadi semacam genre budaya pop–selintas digemari banyak orang lalu menghilang. Itulah mengapa orang-orang bodoh jadi berlagak cendekiawan. Itulah mengapa orang-orang berilmu cetek, dangkal, berlagak ahli agama. Itulah mengapa bangunan toleransi dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika diusik. Itulah mengapa Ahok jadi terdakwa penistaan agama yang nyata-nyata tidak dia lakukan.” tulis Ichwan di laman Facebook.

Komentar sekenanya juga muncul di media sosial dengan memlesetkan kata telolet. Misalnya: Om Telat Om; Om Toilet Om; Om Tulalit Om; Om Toleran Om dan lain-lain. Ada yang menyandingkan Telolet dengan KohAhok. Keduanya jika dibaca dari belakang (dibalik) tetap sama bunyinya. Namun ada juga komentar serius yang menunjukkan kebodohan penulisnya. Yaitu mengaitkan “Om Telolet Om” dengan keyakinan agama Hindu dan Yahudi.

Terompet, Vuvuzela dan Diabolica:

Terompet mendunia bukanlah hal baru. Pada perhelatan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan vuvuzela, terompet khas Afrika mendunia, sangat terkenal, karena dipakai para pendukung timnas Afsel untuk menyatakan dukungannya. Vuvuzela adalah alat musik yang memiliki panjang sekitar 65 cm dan menghasilkan tekanan suara sebesar 127 desibel.

Pada Piala Dunia 2014 muncul diabolica, yang berarti “setan” juga sebuah terompet. Namun terompet ini diciptakan oleh dua pria Belgia, David dos Santos dan Fabio Lavalle. Mereka ini adalah pencinta berat sepak bola, dan tentu saja skuad Setan Merah Belgia, sehingga benar-benar berniat membuat terompet yang diperbolehkan dibawa masuk ke stadion. Maklum, saat ini vuvuzela telap ditetapkan sebagai benda terlarang di pertandingan sepak bola, karena suara yang dihasilkannya bukannya memberi semangat, tapi malah membuat sakit telinga.

Diabolica terdengar seperti suara burung, bukan suara yang memekakkan telinga seperti vuvuzela. Selain itu diabolica memiliku fungsi lain, yakni bisa menjadi teleskop sehingga penonton bisa melihat pertandingan dengan lebih jelas. Ide membuat diabolica muncul empat tahun lalu, saat kedua pria ini berada di Madrid menonton pertandingan Real Madrid. Mereka melihat ada penonton yang terompet gasnya disita, sehingga timbul gagasan membuat terompet yang tidak mengganggu pertandingan, dan aman dari sitaan petugas keamanan.

Kembali ke “Om Telolet Om”, fenomena itu mengingatkan kita bahwa pada suatu saat angkutan bus pernah berjaya di negeri ini, terutama Jawa dan Sumatera. Mereka meraja jalur Pantura dan Lintas Sumatera.  Lihat saja nama-nama terkenal P.O (Perusahaan otobus) di bawah ini: Lur Agung (Cirebon, Kuningan), Safari Dharma Raya (Temanggung), Putera Remaja (Yogyakarta), Ramayana (Magelang), Budiman (Tasik Malaya), Arimbi (Banten), Eka (Surabaya), Sumber Kencono/Sumber Selamet (Surabaya), Rosalia Indah, Loren, Maju Lancar, Kramat Djati, Gunung Harta, Pahala Kencana, Efisiensi dan lain-lain.

Soal terompet sesungguhnya tiap akhir tahun atau menjelang tahun baru selalu banyak pedagang terompet dadakan untuk pesta menyambut pergantian tahun. Iwan Fals bahkan mengabadikan terompet pada sebuah lagu “Galang Rambu Anarki” yang diciptakan pada 1982.

Galang rambu anarki anakku

Lahir awal januari menjelang pemilu

Galang rambu anarki dengarlah

Terompet tahun baru menyambutmu

Galang rambu anarki ingatlah

Tangisan pertamamu ditandai bbm

Melambung tinggi…

Dalam media sosial sesuatu yang viral dan menghibur tak perlu dilarang. Fenomena “Om Telolet Om” itu seperti viralnya humor Mukidi. Tak terlalu lama menjadi trending topic lalu segera meredup karena muncul hal baru. Setidaknya, munculnya humor Mukidi dan “Om Tolelet Om” merupakan jeda sejenak karena selama ini media sosial dipenuhi ujaran kebencian yang memuakkan.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR