Orang Sleman tentang Raja Salman

Perkenalkan saya orang Sleman dari Kasultanan Yogyakarta. Sleman konon berasal dari kata leman artinya gajah. Mungkin dulu daerah kami banyak gajah. Karena itu tak heran Kesebelasan Sleman (PSS) baru-baru ini dihukum PSSI karena melakukan sepakbola gajah. Sleman konon juga berasal dari Sulaeman. Entah apa hubungannya dengan Nabi Sulaeman. Yang jelas mereka yang percaya bumi berbentuk datar, juga percaya Borobudur dibangun oleh Nabi Sulaiman.

Saya mengucapkan ahlan wa sahlan. Selamat datang di Jakarta dan Bali. Sebagai orang Sleman, saya tak perlu sluman-slumun ke Jakarta atau Bali atau menjadi siluman untuk salaman dengan Raja Salman. Karena itu saya menulis opini ini.

Salaman Raja Salman dengan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menjadi viral di media sosial. Sebenarnya itu hal biasa. Bukankah Pak Ahok adalah gubernur saat ini. Hal sama dilakukan Gubernur Ali Sadikin saat kedatangan Raja Faisal pada 1970. Saat itu Bang Ali mendampingi Presiden Soeharto. Namun ternyata ada yang tak suka dengan salaman  Raja Salman dan Pak Ahok. Menurut penganut bumi datar, foto itu hoax hanya karena ada Ahok. Menurut kabar, orang yang paling tak suka adalah yang sehari sebelumnya tak mau salaman dengan Ahok saat bertemu di pengadilan di Pasar Minggu. Saat itu dia menjadi saksi ahli atau ahli bersaksi, entahlah.

Kunjungan Raja Salman ke Indonesia kali ini sungguh bersejarah. Terakhir Raja Faisal berkunjung ke sini pada 1970.  Raja Salman raja ke7 Arab Saudi bertemu Presiden RI ke7 Joko Widodo. Kunjungan Raja Arab Saudi sejak 47 tahun lalu. Namun anehnya, Raja Salman berkunjung ke DPR hanya 47 menit. Meski demikian, anggota DPR nyaris datang semua. Tak ada yang tidur. Semua memegang smartphone, kita tahu orangnya banyak yang tak smart. Mereka sibuk sefie atau mengambil gambar Raja Salman. Kunjungan itu juga seolah mendelegitimasi ulama yang mengaku mampu mengumpulkan 7 juta massa.

Pidato Raja Salman hanya sebentar, tak sampai lima menit. Ia mengucapkan terima kasih atas sambutan yang meriah dan penuh persahabatan dari pemerintah dan rakyat Indonesia. Semoga sambutan pemerintah dan rakyat Indonesia kepada Raja Salman berdampak positif terhadap TKI di Arab Saudi. Tapi ngomong-ngomong kenapa saat Raja Salman pidato  ada anggota DPR yang mengucap amain-amin memangnya Raja Salman sedang berdoa? Dengan santai ia menjawab, “Pidatonya kan harapan baik buat dua bangsa ya saya amini…”

Tamu negara pidato itu hal biasa. Saat Presiden Amerika Serikat Barack Obama berkunjung ke Indonesia, ia pidato di Universitas Indonesia, Depok. Di UI Obama mengucapkan beberapa kata bahasa Indonesia, di antaranya: apakabar, terima kasih, sate, bakso. Raja Salman pidato di DPR juga menyelipkan kata dalam bahasa Indonesia misalnya: dewan, majelis, musyawarah. Tapi kata-kata itu aslinya dari bahasa Arab. Tentang pilihan tempat pidato juga menunjukkan siapa pemimpin itu. Obama memilih pidato di hadapan para mahasiswa, calon pemimpin masa depan. Raja Salman pidato di hadapan anggota dewan, pemimpin yang (banyak) bermasa….lah.

Saya tahu kedatangan Raja Salman ke Indonesia adalah untuk meningkatkan hubungan dengan Indonesia terutama di bidang investasi dan perdagangan. Jadi itu semua urusan dunia. Tapi tahukah, sementara Raja Salman ke Indonesia untuk urusan dunia. Di Jakarta ada yang membawa pilkada sampai urusan akhirat.Ada pihak yang mengancam tak akan menyolatkan orang meninggal yang mendukung Ahok.

Tentang investasi Arab Saudi ke Indonesia, bagi saya hal ini tidak mengherankan alias biasa saja. Kenapa? Karena selama ini devisa jutaan  warga Indonesia melalui perjalanan haji dan umrah tiap tahunnya mengalir ke sana. Saya justru heran mengapa dari 11 MOU Arab Saudi-Indonesia,  tak ada mengenai perlindungan terhadap Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi?

Selain kunjungan resmi, Raja Salman dan rombongan akan berlibur di Bali. Bukan NTB (Nasibnya Tergantung Bali), destinasi Wisata Syariah nomor satu di Indonesia. Ada bocoran kenapa Raja Salman berwisata ke Bali. Ternyata sang raja ingin bertemu kerabat yang tinggal di situ: Happy Salman. Selain artis Indonesia yang kini tinggal di Bali itu, ada dua kerabat lainnya yang  juga terjun di dunia artis, yaitu Salman Khan (Bollywood)  dan Salman Hayek (Hollywood).

Anggota rombongan yang terdiri 10 menteri, 25 pangeran dan total sekitar 1.500 orang akan menikmati keindahan Bali. Salah satu anggota delegasi saat di sekitar Kebun Raya dan Istana Bogor mengagumi kesuburan tanah Indonesia. Ketika itu Bogor tiba-tiba hujan.  Maklum namanya juga Kota Hujan. Tak berapa lama di sekitar Kebun Raya segera muncul semacam tanaman  jamur warna-warni yang cepat membesar. “Sungguh tanah yang subur. Saya baru menyaksikan di sini selama saya berkeliling dunia menemani raja,” ucap seorang delegasi. Anggota delegasi lain yang lebih dulu datang ke Indonesia mengatakan, “Bro, itu bukan jamur..itu ojek payung tahu…”

Masih seputar rombongan Raja Salman, saya dua kali memposting foto-foto Pangeran Abdullah bin Mutaib bin Abdul Saud (konon pangeran tertampan sedunia) dan Puteri Ameera yang cantik melalui akun Facebook saya, dengan sebuah pertanyaan apakah ia ikut rombongan? Tak lama setelah itu saya ditanya oleh seorang netizen, “Apakah Mia Khalifa ikut rombongan juga?”

Kunjungan Raja Salman ini diharapkan menjadi momentum peningkatan hubungan kerjasama yang setara dan saling menguntungkan antara Arab Saudi dan Indonesia. Pasalnya selama ini ada semacam perasaan inferior pada bangsa Indonesia terhadap bangsa Arab. Inferior terhadap Arab Saudi termasuk Timnas PSSI. Selama ini belum pernah Timnas kita mengalahkan kesebelasan Arab Saudi. Bisa jadi para pemain Indonesia grogi berhadapan dengan pemain lawan yang namanya mirip para nabi. Timnas kita pernah kalah 0 : 8 dari Arab Saudi. Kita baru menyadari lawan Arab Saudi ternyata semua pemain kita pemain bertahan.

Antara Indonesia dan Arab Saudi ada banyak persamaan. Selain dalam bidang agama, dua negeri juga sama-sama dekat dengan Amerika Serikat. Dalam sejarah, Indonesia (1975) pernah menginvasi Timor Leste dan Arab Saudi (2015) menyerang Yaman. Keduanya didukung Amerika Serikat. Meski begitu, dalam soal Palestina Arab Saudi dan Indonesia sedikit berbeda. Ada sebuah pepatah Arab, musuh (dari)  musuhku adalah kawanku. Karena itu tak heran musuh Iran yaitu Israel menjadi kawan Arab Saudi meski Israel menjajah Palestina.

Akhirnya, saya ingin mencatat beberapa hal. Pertama, ternyata para putri keluarga Raja Salman ada yang tak mengenakan hijab. Mereka bahkan hidup di alam modern, meski tinggal di luar Arab Saudi. Kedua, Raja Salman ternyata biasa saja bersalaman dengan perempuan. Terbukti anggota kabinet dan Megawati Soekarnoputri disalami dengan hangat. Hal ini berbeda dengan mantan menteri Kominfo era sebelumnya yang enggan bersalaman dengan Michelle Obama. Ketiga, dan ini paling penting, Kerajaan Arab Saudi ternyata anti terorisme dan radikalisme bahkan mengajak Indonesia bersama memerangi terorisme dan radikalisme.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR