Palagan Dading Kalbuadi: Dari Banyumas Hingga Timor Leste

Nama jalan di sebuah kota bisa menjadi penanda sejarah (lokal) kota tersebut. Itu sebabnya kita menjadi paham mengapa figur seperti Brigjen (Anumerta) Ign Slamet Rijadi menjadi nama jalan yang membelah Kota Solo, karena kebetulan beliau memang berasal dari Solo. Sementara di kota seperti Jakarta, nama Slamet Rijadi hanya dijadikan nama seruas jalan yang tidak terlalu besar (terlebih bila dibandikan Solo), di kawasan Matraman, Jakarta Timur.

Fenomena itu juga terjadi  pada kota-kota di kawasan eks Karesidenan Banyumas, di sana terdapat jalan bernama Pasukan Pelajar IMAM. Penulis sendiri ketika pertama kali melihat nama jalan itu di Purbalingga (awal 1990-an), agak heran juga, karena belum familier dengan nama satuan tersebut. Setelah berusaha mencari informasi singkat di lokasi, baru agak jelas, bahwa Pasukan Pelajar IMAM adalah tentara pelajar yang bergerak di sekitaran eks Karesidenan Banyumas, dan sebagian eks Karesidenan Kedu. Salah satu anggotanya yang kemudian menjadi orang besar di Jakarta, adalah Letjen Purn Dading Kalbuadi (lahir Cilacap, 14 April 1931).

Hidup Bersahaja

Dading sendiri adalah figur yang menarik. Tidak seperti perwira tinggi pada umumnya, yang cenderung bergaya hidup hedonis setelah masuk jajaran elite, sementara Dading Kalbuadi tetap hidup bersahaja. Dia tidak meninggalkan kegemaran lamanya, yaitu menikmati nasi bungkus. Kegemarannya menikmati nasi bungkus, merupakan refleksi perjalanan hidup Dading yang akrab dengan operasi tempur, dan selalu ingin  dekat dengan anak buahnya.

Dading Kalbuadi sudah terlibat pertempuran sejak usia belia, pada periode Perang Kemerdekaan (1946-1949), saat Dading masih duduk di bangku SMP Purwokerto. Dia tergabung dalam Pasukan Pelajar IMAM (Indonesia Merdeka atau Mati), yang umumnya beranggotakan pelajar di Kota Purwokerto, ibukota eks Karesidenan Banyumas. Satuan ini didirikan seputar bulan Oktober 1945, jadi hampir bersamaan dengan berdirinya TNI.

Satuan ini terbilang unik, karena Pasukan Pelajar IMAM secara komando terpisah dari Tentara Pelajar (TP) Jateng yang berpusat di Solo, di bawah pimpinan Mayor Achmadi. Hal ini bagian dari semangat tradisi banyumasan, sebagai daerah “pinggiran” yang tidak selalu tunduk pada Solo dan Yogya, sebagai pusat kultur Mataraman. Aspirasi ini rupanya juga merembes di kalangan generasi mudanya, sehingga mereka membentuk pasukan pelajar secara mandiri, lepas dari bayang-bayang satuan TP.

Sementara di Purwokerto sendiri ada juga satuan TP yang berafiliasi ke TP Solo, yaitu Kompi 340 TP Purwokerto, yang didirikan menjelang Clash I (Juli 1947) . Satuan ini lebih populer dengan sebutan Kompi Encung, karena komandannya bernama Letnan Encung Abdullah Sajadi. Encung sendiri sebelumnya adalah anggota dari Pasukan T Ronggolawe, yang bermarkas di Salatiga. Anggota Pasukan T Ronggolawe juga terdiri dari pelajar yang diasuh langsung oleh sesepuh TNI AD Kolonel GPH Djatikusumo. Salah seorang anggota Pasukan T (Tjadangan) Ronggolawe yang kemudian menjadi tokoh nasional adalah Sudharmono, SH (Wapres RI 1988-1993).

Pasca Perang Kemerdekaan, Dading Kalbuadi tetap melanjutkan karir sebagai tentara, dengan bergabung dalam Korps Baret Merah (Kopassus). Selama bergabung dalam RPKAD (nama terdahulu Kopassus), tidak ada operasi tempur yang tidak diikuti Dading. Mulai palagan menumpas DI/TII di Jawa Barat, operasi PRRI/Permesta di Sumbar, hingga Operasi Seroja di Timor Leste. Saat terlibat dalam operasi menumpas gerakan separatis PRRI di Muaralabuh (Sumbar), Dading hampir saja tewas, akibat lehernya terkena pecahan mortir.

Persahabatan Dengan Benny

Prestasi operasi tempur Dading mencapai puncaknya saat memimpin Operasi Flamboyan (1974), sebuah operasi tempur semi tertutup di Timor Leste, yang menjadi pendahulu dari Operasi Seroja. Di tengah palagan Operasi Seroja inilah, Dading dipromosikan sebagai brigadir jenderal. Sampai sekarang nama Dading masih dijadikan referensi perwira muda, sebagai model komandan tempur sejati di era Indonesia modern.

Dading bisa berangkat ke Timor Leste, atas perintah langsung sahabat lamanya, yaitu Benny Moerdani. Mereka sebenarnya sama-sama anggota tentara pelajar, namun beda kesatuan, Benny adalah anggota TP di Solo. Keduanya sempat jumpa di Solo, karena Dading menyelesaikan SMA-nya di Solo (SMA peralihan khusus pelajar pejuang).Keduanya bertemu kembali saat sama-sama masuk di P3AD (Pusat Pendidikan Perwira Angkatan Darat) di Bandung. Kebersamaan mereka terus berlanjut, sebab selepas dari P3AD,  keduanya bergabung ke Korps Baret Merah (RPKAD). Tak berlebihan kiranya bila disebut Dading sebagai alter ego dari Benny.

Pada dasawarsa 1970-an, Benny adalah tokoh kunci intelijen, khususnya untuk operasi yang memerlukan pengerahan pasukan. Saat memerlukan orang yang tepat guna memimpin infiltrasi ke wilayah Timtim, Benny teringat pada sahabat lamanya, yakni Dading Kalbuadi. Berangkatlah Dading ke wilayah Timtim, yang saat itu masih masuk wilayah jajahan Portugal. Dalam operasi penyusupan ini, Dading banyak dibantu yuniornya di Baret Merah, seperti Yunus Yosfiah (Akmil 1965), Sofian Efendi (Akmil 1965), Sutiyoso (Akmil 1968), dan seterusnya. Operasi penyusupan tersebut diberi nama sandi Operasi Flamboyan

Prestasi Dading dalam memimpin Operasi Flamboyan, kemudian dilanjutkan dengan Operasi Seroja (operasi militer terbuka), rasanya tidak perlu dibahas lagi, bukankah hal itu sudah banyak diketahui masyarakat. Dading baru ditarik dari palagan Timor Leste, setelah salah satu tim yang dia pimpin berhasil melumpuhkan  Presiden Timor Leste “Merdeka” Nicolao Lobato. Dading selanjutnya diangkat sebagai Pangdam Udayana di Bali (1978-1983).

Bertemu Bekas Musuh

Pada penggal terakhir karier Dading Kalbuadi sebagai pejabat negara, Dading bersama rekan-rekannya sesama tentara pelajar, mengambil inisiatif untuk mengadakan reuni dengan bekas musuhnya dulu, yaitu mantan anggota Bataliyon Infanteri 425 Koninklijke Landmacht (Angkatan Darat Belanda). Reuni bersejarah ini diadakan di awal tahun 1991, saat Dading masih menjabat Inspektur Jenderal Dephan (kini Kemenhan).

Acara puncak reuni  berupa napak tilas di lokasi mereka dulu berhadap-hadapan, mulai dari wilayah Banyumas, Wonosobo, hingga berujung di Sapuran, yang sudah masuk Kabupaten Purworejo. Dari pihak eks tentara pelajar, selain Pasukan Pelajar IMAM, turut reuni pula mantan anggota Pasukan T Ronggolawe dan eks TP Purwokerto (Kompi Encung).

Resepsi malam penutupan diselenggarakan di rumah Dading Kalbuadi yang berhalaman luas, di Bulak Rantai, Jakarta Timur. Pada resepsi malam penutupan tersebut hadir pula Benny Moerdani,  saat itu menjabat Menteri Pertahanan, jadi atasan langsung Dading. Selain menghormati “bekas musuh” kehadiran Benny juga bermakna bagi perkembangang politik di Tanah Air (saat itu).

Kehadiran Benny  bisa dianggap sebagai rekonsiliasi damai dengan Wapres Sudharmono, yang hubungan mereka sempat tegang  menjelang Sidang Umum MPR tahun 1988. Benny dianggap menghembuskan berita, bahwa Sudharmono adalah mantan anggota Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia), pasukan yang berhaluan kiri di masa Perang Kemerdekaan.

Pada malam itu clear sudah, bahwa Sudharmono adalah mantan anggota Pasukan T Ronggolawe, bahkan menjadi salah satu komandannya. Meski Sudharmono tidak sempat hadir, namun tidak mengurangi makna “perdamaian” antara Benny dan Sudharmono.

 

Aris Santoso, sejak lama dikenal sebagai pengamat militer, khususnya TNI AD.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR