Para Intelektual Dayak Di Nunukan Membentuk Ikatan Cendekiawan Dayak Nasional

Para intelektual Dayak di Perbatasan usai rapat Pembentukan Ikatan Cendekiawan Dayak Nasional Sabtu (9/2/2019), di Nunukan. (Edy Santry)

Masyarakat Dayak sebagai salah satu suku asli di Pulau Kalimantan terus berupaya dalam membangun daerahnya agar bisa sejajar dengan masyarakat lain yang ada di Indonesia. Untuk mempercepat akselarasi kemajuan itu para aktivis, tokoh dan intelektual Dayak membentuk organiasasi yang diharapkan dapat merumuskan blue print peradaban dan kemajuan Dayak dimasa yang akan datang.

Organisasi yang menyatakan diri independen dari intervensi politik praktis tersebut dikukuhkan dengan nama Ikatan Cendekiawan Dayak Nasional (ICDN) yang strukturnya dari tingkat nasional hingga setiap Kabupaten Kota di Kalimantan.

Berdasarkan mandat pengurus ICDN pusat nomor: 03/DP-ICDN/I/2019 Serfianus yang juga menjabat sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Nunukan dipercaya menahkodai organisasi tersebut. Untuk menjalankan aktifitas organisasi, dipercayakan kepada Lumbis Pangkayungon.

Serfianus melalui pesan tertulisnya kepada Redaksi mengungkapkan, bahwa secara umum kondisi masyarakat Dayak yang tersebar di Kabupaten Nunukan masih jauh tertinggal dibanding masyarakat dan daerah lain di Nusantara.Kendati demikian masyarakat Dayak yang berada wilayah perbatasan memiliki komitmen tinggi dalam menjaga keutuhan NKRI dan menjadi patok-patok hidup diperbatasan.

“Memamg bila dibandingkan dengan saudara-saudara lain yang berada di Perkotaan, kita tentu masih jauh tertinggal. Namun kita tetap berupaya mengejar ketertinggalan tersebut dan terus menggenggam komitmen untuk menjadi Patok Hidup di Perbatasan ini,” ujar Serfianus, Sabtu (9/2/2019).

Sehingga menurut pria yang akrab dipanggil Serfi tersebut, dibentuknya Ikatan Cendekiawan Dayak sesuai dengan arahan dan petunjuk pimpinan pusat diantaranya selain untuk menjadi wadah para pemerhati adat dan tradisi juga diharapkan dapat menjadi sarana mensosialisasikan seluruh potensi Dayak yang ada di Indonesia.

“Sebagai think tanker Dayak terhadap kemajuan Budaya, Pendidikan, Ekonomi, Sosial Budaya dan Kesehatan masyarakat Dayak dalam kehidupan Berbangsa dan Bernegara, Dayak sebagai Etnis penduduk asli pulau Kalimantan perlu bersatu, semangat, Aktif dan bangkit dari kemarginalan untuk bertindak dan berpikir maju dalam menghadapi arus moderniasi,” imbuhnya.
Selain itu, ICDN juga diharap dapat meminimalisir atau memupus potensi saling unjuk kelebihan dari tiap-tiap kelompok. Serfi menegaskan, kepentingan demi kekuasaan adalah sebuah hal uang wajar, namun harus diraih dengan cara yang bermartabat sesuai koridor yang telah ditetapkan perundang-undangan.

“Kita harus membuktikan bahwa masyarakat Dayak adalah etnis yang Berbudaya dan Beragama sebagai bagian Bangsa Indonesia. Maka tujuan dibentuknya ICDN ini adalah untuk mewujudkan hal tersebut,” tandasnya.

Sementara Lumbis Pangkayungon mengungkapkan bahwa ICDN adalah ‘Rumah Besar’ kaum terdidik, Cendikiawan, Tokoh Dayak dan intelektual muda yang dibangun dengan semangat kebersamaan. Sehigga Serfi menyatakan bahwa persatuan dan kesatuan serta mengedepankan dialog harus menjadi nafas dari organisasi yang terdiri dari perwakilan Dayak Lundayeh, Dayak Agabag, Dayak Tahol, Dayak Okolod dan Dayak Kenyah ini.

“Semoga tujuan mulia ini akan senantiasa mendapat ridho dari Tuhan agar kita dapat bersama-sama mewujudkan wilayah Perbatasan yang Mandiri, Berdaulat dan Berkepribadian,” kata Lumbis.

BAGIKAN

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR