PC GP Ansor Nunukan Ajak Bangsa Indonesia Lebih Aktif Menjaga 4 Pilar Kebangsaan

Wakil Ketua PC GP Ansor Nunukan Iswanto mengajak bangsa Indonesia lebih aktif mengawal 4 Pilar Kebangsaan

Indonesia adalah salah satu negara istimewa dari yang ada di dunia ini. Indonesia adalah 1 negara yang harus dipikul 1.340 suku yang berbeda kultur dan juga terdiri dari masyarakat yang beragam agama yang tentu saja sudah pasti berbeda dalam sudut pandangnya. Hal tersebut diungkapkan Wakil Ketua Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Nunukan (PC GP Ansor Nunukan), Iswanto disela-sela Dialog Kebangsaan yang di helat di Sebatik, Sabtu (22/12/2018).

Namun hingga saat ini, lanjut Iswanto, Indonesia tetap utuh menjadi sebuah negara besar kendati ujian dari berbagai arah datang menerpa. Tetapi menurutnya, perkembangan bangsa kita pada saat ini cukup memprihatinkan, dan mengharuskan kita kembali ke khitoh saat bangsa ini berdiri.

“Bukan hanya tentang tindakan, pola pikir sebagian anak bangsa saat ini sudah lepas dari koridor cita-cita para pendiri bangsa. Saat ini kita lebih bangga dalam buruk sangka ketimbang tabayun dan lebih mengedepankan penghakiman daripada memaafkan,” ujarnya.

Menurut pria yang juga ketua salah satu serikat Buruh di Nunukan tersebut, seharusnya seluruh masyarakat dapat menyudahi pemikiran-pemikiran menggawatkan yang disertai sikap mendramatisasi keadaan yang sarat dengan provokasi.

Suasana dialog kebangsaan di Kabupaten Nunukan
Suasana dialog kebangsaan di Kabupaten Nunukan

“Sudah saatnya kita sudahi pikiran-pikiran yang cenderung menggawatkan atau mendramatisasi keadaan disertai pandangan yang ekstrem, provokatif, dan berlebihan. Kita tutup ruang ruang pikiran negatif itu dengan membuka ruang dialog untuk menumbuhkan pikiran pikiran sehat,” ajaknya.

Lebih lanjut Iswan menyatakan bahwa 4 pilar atau konsensus nasional yakni Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945 adalah hal yang final menjadi jalan hidup bangsa Indonesia. Untuk itu ia menegaskan bahwa Demokrasi yang berlaku di Indonesia bukan kebebasan pendapat tanpa batas, tapi Demokrasi yang terbingkai dalam konsensus nasional tersebut.

“Ibarat ikan dalam akuarium yang bebas berenang tapi ada kaca pembatas, begitu pula dengan bangsa Indonesia. Kita bebas tentukan hak dan pendapat tapi jangan sampai menabrak norma,etika dan koridor kebangsan,” tandas Directur Eksekutif Rimba Raya Institute tersebut.

Dialog Kebangsaan tersebut digelar oleh PC GP Ansor Nunukan sebagai salah satu sarana silaturahim untuk masyarakat di Nunukan dari berbagai latar belakang. Sekretaris PC GP Ansor Nunukan Agus Salim menyatakan bahwa dialo serupa akan terus digelar walau dalam tema yang berbeda.

“Kita akan terus gelar acara sepeti ini. Namun kita juga tegaskan bahwa sebuah kegiatan akan mubazir tanpa implementasi di lapangan. Maka dari itu setelah dialog ini, kami akan lebih aktif mengajak masyarakat diperbatasan ini agar keharmonisan di Perbatasan ini tetap terjaga,” tuturnya.

Dalam acara yang bertema “Toleransi Antar Umat Beragama Sebagai Perekat Kebangsaan dan Keutuhan NKRI” tersebut, berbagai pihak seperti dari Muspika yang ada di Pulau Sebatik, Perangkat Desa , Ketua Adat, Tokoh Agama, Pelajar, OKP dan Ormas serta LSM yang ada di Pulau Sebatik. Semua yang hadir nampak antusias sejak awal hingga ahir terutama saat dialog H Herman mewakili Tokoh Masyarakat dan 2 Nara Sumber lain dari FKUB dan Kepala Kesbangpol Nunukan.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR