PDAM Akan Menambah Embung Untuk Mengatasi Kelangkaan Air Bersih di Nunukan

Embung sungai Bolong Nunukan nampak kekeringan akibat kurangnya suplai air dari hulu (Edy Santry)

Dampak dari cuaca kemarau yang berkepanjangan mulai November hingga saat ini di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara), telah mengakibatkan beberapa Embung Penampungan air bersih yang mengalami kekeringan. Pun apabila kadang hujan turun, debit air tak mengalami peningkatan yang signifikan sehingga berimbas pada belum mampunya Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Nunukan mensuplai air ke pelanggan secara optimal. Akibatnya, terjadi kelangkaan air bersih di Nunukan,

“Memang akibat dampak kemarau ini, mulai bulan November pelayanan kita kurang maksiml. Kalau sebelumnya kita mampu suply air ke pelanggan secara merata, kini kita terpaksa harus melayani masyarakat secara bergilir atau dengan mekanisme zonasi,,” tutur Direktur PDAM Nunukan, Masdi, Minggu (1/2/2020).

Menurut Masdi, langkah yang saat ini dilakukan sebagai upaya menbah debit air adalah dengan melakukan pengerukan Embung Sungai Bolong yang merupakan Embung terbesar dari embung lainya di Pulau Nunukan. Selain itu, sebagai langkah jangka panjang, Masdi mengugkapkan bahwa Pemerintah saat ini tengah mengupayakan pembebasan lahan guna menambah yg telah ada.

“Memang sudah ada yang selesai contohnya Embung serbaguna Sungai Fatimah. Namun saat ini masih dalam tahap uji coba pengisian,” jelasnya.

Pembebasan lahan lainya, ungkap Masdi, saat ini tengah dilakukan Pemerintah Daerah Nunukan di wilayah yang sama yakni di Sungai Fatimah. Kapasitas Embung menurut Masdi nantinya bakal mencapai sekitar 500.000 meter kubik. Untuk tahun ini, menurutnya telah dibebaskan lahan seluas 5 hektar di lokasi tersebut dengan rincian 4 hektar untuk Embung penampung air sedangkan 1 hektar lagi untuk IPA dengan kapasitas 100 liter setiap detik.

“Berarti nanti dapat mensuply sekitar delapan ribu (8.000) pelanggan,” paparnya.

Terkait kelangkaan air bersih sendiri, menurut Masdi, selain karena kemarau yang cukup panjang, juga daya tampung resapan secara alam berupa hutan kian hari kian menipis. Memang beberapa waktu lalu pihak PDAM telah melakukan reboisasi, namun hal tersebut tentu membutuhkan proses yang cukup panjang.

“Untuk itu kepada masyarakat, saya minta maaf apabila pelayanan kami saat – saat ini kurang maksimal. Namun kami tetap berupaya memaksimalkan yang menjadi tugas kami,’ ujar Masdi.

Senada dengan Masdi, Pembina dan Pendiri Generasi Nunukan Hijau (GNH), Feby mengungkapkan bahwa saat ini Pulau Nunukan sangat kekurangan resapan alam. Eksploitasi yang lahan yang seharusnya menjadi penyimpan air telah menyebabkan sumber – sumber mata air tak lagi aktif.

“Kita sudah survey, keringnya Embung tersebut selain karena kemarau, juga karena air dari hulu sungai sangat minim akibat tak mengalirnya sumber – sumber air,” terang Feby.

Untuk itu Feby meminta kepada masyarakat agar tak terlalu menyalahkan PDAM Nunukan. Karena menurutnya PDAM sudah sangat maksimal dalam melayani pelanggan. Kepedulian masyarakat terhadap keseimbangan alam, ungkap Feby, juga menjadi penentu berlimpah atau langkanya air bersih.

“Saya kira PDAM sudah sangat maksimal, bahkan sampai turun lakukan reboisasi. Saya menghimbau kepada masyarakat, marilah kita cintai alam dan jagalah keseimbangannya. Karena Tuhan memberikan anugerah dan musibah itu tergantung perbuatan hambaNya,” pungkas Feby

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR