Pecatur Muda Membuka Kotak Pandora Prestasi Catur Indonesia

Tim Catur Indonesia yang berlaga di ASEAN Age Group Chess Championship ke-18 tahun 2017, berpose dengan medalinya masing-masing usai penutupan kejuaraan yang berlangsung di Kuantan, Malaysia, sejak 25 November-3Desember 2017. (Foto: Merry Damayanti).

Selusin pecatur muda Indonesia membawa kabar gembira dari kota Kuantan, Malaysia. Mereka berhasil membukukan prestasi gemilang di ajang Asean Age Group Chess Championship ke-18 yang dihelat sejak 25 November hingga 3 Desember 2017.

Mereka adalah Muhamad Agus Kurniawan yang tanding di kelompok umur 20 tahun ke bawah, Ryan Maheswara Pratama Mendala (U-18), Putu Luhur Apngal Kusuma (U-16), Dicky Aditya (U-14), Nayaka Budidarma (U-12), Elang Shalahudin Alfaruq (U-10), Muazzam Bilal Wicaksana (U-8), Regita Desyari Putri (G20), Diajeng Theresa Singgih (G18), Christine Elisabeth (G16), Laysa Latifah (G12), dan Frida Nadine Fellicia (G10).

Dari tiga nomor yang dipertandingkan yakni Catur Klasik, Catur Cepat, dan Catur Kilat, tim Catur yang dikirim PB Percasi dengan dukungan JAPFA dan Surya Citra Televisi (SCTV) ini, berhasil menyabet 13 medali emas, 5 perak, dan 4 perunggu.

“PB Percasi tak menargetkan apapun, kecuali memfasilitasi mereka untuk menambah pengalaman bertanding khususnya di level internasional. Jadi ini adalah hasil yang baik. Saya sangat bahagia untuk mereka,” kata IM Lisa Lumondong, manajer sekaligus pelatih tim Indonesia, lewat telepon selularnya di Jakarta, Senin (4/12).

Untuk diketahui, ke-12 pecatur tersebut adalah para juara nasional di kelompok umurnya masing-masing pada Kejuaraan Nasional Catur ke-46 yang berlangsung di Cipayung, Bogor, pada 16-22 Juli 2017 lalu.

“Ini hasil yang sangat membanggakan dan membesarkan hati, terutama pencapaian prestasi mereka di nomor Catur Standar. Kita akan upayakan agar ke depan mereka bisa bertanding di event Catur lainnya,” kata GM Utut Adianto, Ketua Umum PB Percasi.

Sebagai catatan, raihan prestasi tahun ini adalah yang terbaik sepanjang partisipasi Tim Catur Indonesia di kejuaraan ini. Sebelumnya, tim Indonesia meraih 12 medali emas saat kejuaraan ini berlangsung di Hue City, Vietnam, pada 10-19 Juni 2012 silam.

Emas terbanyak berikutnya diraih tim Indonesia ketika menjadi tuan rumah kejuaraan ini di Jakarta pada 2006 dengan 9 medali emas. Selanjutnya di Tarakan pada 2011 dengan 8 emas, kemudian di Chiang Mai, Thailand, 2013 dengan 6 medali emas, dan 5 medali emas diraih pecatur Indonesia di Subic, Filipina, pada 2010.

Berikut perincian medali Tim Catur Indonesia di Asean Age Group Chess Championship 2017:

AAG

Kotak Pandora

Pengiriman pecatur pemula dan yunior ke sejumlah kejuaraan internasional merupakan salah satu kegiatan prioritas dalam rangkaian program pembinaan prestasi jangka panjang PB Percasi yang saat ini dipimpin oleh GM Utut Adianto.

“Prestasi akan dapat terwujud ketika pembinaan dilakukan secara sistematis, profesional, dan konsisten. Pelatihan, pengiriman atlet ke luar negeri, mengikuti berbagai kejuaraan Catur, dan melakukan evaluasi hasil pertandingan, adalah siklus yang tak boleh terputus,” kata Utut.

Saat ini banyak pecatur muda usia yang berprestasi dan tersebar di berbagai daerah. Menurut Utut, untuk mendorong prestasi mereka ke jenjang yang lebih tinggi bukanlah proses mudah dan instan. Karenanya, PB Percasi saat ini tengah merancang model pelatihan nasional dan jangka panjang. Nantinya, peserta pelatnas adalah pecatur berprestasi, lulus seleksi, dan yang dinilai memiliki bakat hebat.

Namun, Utut mengakui bahwa untuk merealisasikan program tersebut memerlukan dana yang tidak sedikit. “Selain untuk mengirim atlet ke luar negeri, dana itu juga termasuk untuk membayar pelatih yang handal dan profesional. Pengalaman kami dan di cabang olah raga lainnya membuktikan bahwa prestasi itu mahal,” kata Utut di sejumlah kesempatan.

Seperti diketahui, hampir satu dekade lalu, program serupa pernah digelar PB Percasi atas inisiatif dan dukungan penuh Pembina Utama Catur Indonesia, Eka Putera Wirya, dan GM Utut Adianto.

Apa yang kemudian dikenal publik sebagai program “Dream Team”, itu setidaknya berhasil menasbihkan Susanto Megaranto jadi Grand Master (GM), Taufik Halay (IM), dan Tirta Chandra Purnama (IM).

“Saya optimistis dengan kepemimpinan Utut. Dia tahu betul siapa pecatur berbakat dan apa yang harus dilakukan terhadap mereka. Upaya yang harus dilakukan untuk itu pasti tak akan mudah, tapi bukan hal yang tak mungkin dilakukan. Kita semua harus mendukungnya,” ujar Eka Putra Wirya.

Tentu, itu adalah optimisme yang wajar dari seseorang yang telah sekian lama membina dan mencintai Catur dengan sepenuh hati.

Karenanya, raihan prestasi yang dibukukan oleh tim Catur di atas setidaknya dapat membuka “kotak Pandora” lahirnya generasi pecatur Indonesia yang berprestasi internasional.

Kebutuhan untuk itu mutlak bagi prestise Catur Indonesia di dunia, baik sekarang maupun di masa depan. Modalitasnya cukup besar. Selain memiliki potensi besar pecatur berbakat, sejumlah pecatur Indonesia juga telah menorehkan berbagai prestasi hebat di berbagai kejuaraan dan turnamen internasional selama kurun waktu empat tahun terakhir.

Jadi, bukan hal yang tak mungkin bila salah satu atau sebagian dari mereka kelak bisa meraih gelar Grand Master sebagaimana yang dicanangkan oleh PB Percasi. Terlebih, ketika selama satu dekade terakhir Indonesia kehilangan 4 GM (Ruben Gunawan, Edhi Handoko, Herman Suradiredja, dan terakhir Ardiansyah). Sehingga saat ini hanya tersisa 3 orang GM putra yakni Utut Adianto, Cerdas Barus, dan Susanto Megaranto.

Sementara di kelompok puteri Indonesia hanya punya dua orang Woman Grand Master (WGM) yaitu Irene Kharisma Sukendar dan Medina Warda Aulia.

Catatan di atas cukup jomplang bila dibandingkan dengan beberapa negara Asia lainnya seperti China, Iran, India, Vietnam, dan Filipina.

PB Percasi tidak mungkin sendiri untuk mengejar capaian negara-negara tersebut di atas. Sudah saatnya, semua pihak termasuk negara dan swasta mendukung penuh upaya untuk mengembalikan kejayaan Catur Indonesia.***

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR