Peluncuran Album Kedua John Tobing

Peluncuran Album Kedua Koh Tobing Jumat (10/11/2017) di Sanggar Maos Tradisi di Sleman DI Yogyakarta

Nama John Tobing bukan asing lagi di kalangan aktivis 80an dan setelahnya. Hampir semua mahasiswa dan aktivis pernah menyanyikan lagu karya John Tobing. Ya lagu itu tak lain adalah “Darah Juang”. Tak heran acara peluncuran album berjudul “Bergeraklah Mahasiswa” menjadi semacam ajang reuni lintas generasi,, ketika pada tahun 2013 album pertama berjudul “Romantika Revolusi” diluncurkan.

Jumat malam (10/11) lalu, Sanggar Maos Tradisi di Sleman DI Yogyakarta, tampak ramai. Rumah Joglo yang dikelola Dr. Arie Sujito, dosen dan aktivis UGM itu, berada di tengah kampung Desa Donoharjo. Malam itu ada hajatan khusus, peluncuran album kedua John Tobing. Beberapa nama yang hadir antara lain Menteri Tenaga Kerja Mohammad Hanif Dhakiri, dosen senior UGM Heru Nugroho dan Nadjib Acza, perupa Yayak Yatmika, aktivis LSM Sugeng Bahagiyo, Afnan Malay, mantan Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu, dan staf di Kantor Staf Presiden FX Rudy Gunawan.

Menurut John Tobing, mahasiswa Indonesia harus tahu banyak rakyat miskin dan harus menjadi motor bangkitnya melawan kondisi keterpurukan. “Terlebih bila kondisi politik di luar kampus berjalan tak sesuai kemampuan nalar mahasiswa seperti yang terakhir ini kondisi intoleransi dan perbedaan yang masuk ke dalam kampus,” ujar musisi berkacamata tebal ini.

hanif5

Dengan album ini John Tobing berharap mahasiswa Indonesia tidak hanya diam. “Tapi bergerak ke arah yang lebih maju, ideal, ilmiah, profesional hingga ke arah mencerdaskan bangsa,” tambah John Tobing.

Acara dimulai dengan semacam testimoni tentang proses kreatif dan politik John Tobing oleh kawan-kawannya, dimulai sambutan Arie Sujito, dilanjutkan testimoni dari Hanif Dhakiri, Sugeng Bahagiyo, dan Rudy Gunawan. Beberapa lagu John Tobing dibawakan oleh band yang mayoritas personelnya dari mahasiswa filsafat UGM, almamater John Tobing.

Selain bicara tentang proses kreatif dan politik John Tobing terutama lewat “Darah Juang” Hanif Dhakiri juga tampil membacakan puisi sendiri tentang Widji Thukul. Ia berapi-api bak sedang aksi. “Lambe, mulut, congor kini bebas bicara. Di mana kamu Thuklul? Dimana?” teriak Hanif Dhakiri, menteri paling kiri ini.

hanif

Kata Arie Sujito, tuan rumah Maos Tradisi, “Pak menteri itu dulu anak desa tak kerja kini menteri yang mengurusi orang kerja.” Tentu saja hadirin tertawa sebab kalimat Arie Jito mengutip syair Darah Juang.

Afnan Malay juga tampil membaca puisi-puisi pendeknya yang disimpan di smartphone. Penulis “Sumpah Mahasiswa” ini mengawali dengan memberi hormat kepada pertama dosen senior Heru Nugroho, kedua Hanif Dhakiri, baru tuan rumah Arie Sujito. Puisi-puisinya sangat pendek, sampai hadirin tak tahu, ternyata puisi sudah selesai dibaca. “Puisi kok pendek-pendek,” celetuk penonton. “Memangnya aku Deny JA, puisi ada catatan kaki” jawab Afnan disambut geerr hadirin. Afnan melanjutkan, “Puisi Thukul sudah bunyi. Kalau puisi Deny JA butuh orang untuk membunyikannya,” hadirin kembali geerr….

Yayak Yatmaka seniman yang sering membuat ilustrasi menghebohkan termasuk Tanah Untuk Rakyat pada 80an, tampil membawakan lagu-lagu progresif. Acara ditutup dengan menyanyi bareng lagu legendaris karya John Tobing “Darah Juang” yang telah menjadi milik bersama.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR