Pemanggilan Menteri Munculkan Dugaan tentang Reshuffle Kabinet atau…?

Pemanggilan sejumlah menteri Kabinet Kerja oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Istana Negara selama dua pekan terakhir, memunculkan dugaan bahwa perombakan atau reshuffle kabinet semakin dekat sebagaimana rumor yang beredar belakangan ini. Benarkah?

Bermula Rabu (13/7/2016). Tiga menteri nampak sudah hadir sejak pagi di Istana Kepresidenan. Mereka adalah Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar dan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Ferry Mursyidan Baldan. Tak lama berselang, Menko Perekonomian Darmin Nasution terlihat masuk ke kompleks Istana Kepresidenan.

Besoknya, Kamis (14/7), giliran Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Budi Waseso (Buwas), Kepala Badan Intelijen Nasional (BIN) Sutiyoso, Menteri Kesehatan Nila F Moelok, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menko Polhukam Luhut Binsar Pandjaitan dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung yang dipanggil Jokowi.

Sepekan kemudian atau Jumat (22/7), nampak Menteri PU Basuki Hadimuljono, Menteri PPPA Yohana Yambise dan Menteri Koperasi UMKM Anak Agung Gde Ngurah Puspayoga, datang ke Istana Kepresidenan.

Lantas, apakah pemanggilan itu juga membahas perombakan kabinet?

Semua menteri yang dipanggil  kompak menampik adanya pembicaraan soal reshuffle. Pembicaraan dengan presiden, kata mereka, hanya berkaitan dengan pelaksanaan dan sekaligus evaluasi terhadap beberapa tugas kementeriannya masing-masing.

Terpisah, Juru Bicara Presiden Johan Budi SP mengatakan, evaluasi memang terus menerus dilakukan oleh Presiden Jokowi. Hal itu adalah lumrah dilakukan oleh seorang Presiden.

“Evaluasi dilakukan terus menerus. Bahwa ada yang ditanya, kemudian perkembangan pekerjaan yang bersangkutan, adalah hal yang biasa,” kata Johan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (22/7/2016).

Dalam rangka itu, kata Johan, semua menteri dipanggil oleh. Namun waktunya tidak bersamaan. “Kemarin juga ada menteri dipanggil, sekarang juga. Ini bagian evaluasi kinerja,” katanya.

Johan mengaku tolok ukur seorang menteri di-reshuffle adalah saat evaluasi kinerja oleh presiden.

Menurutnya, menteri yang kemungkinan kecil kena kocok ulang adalah yang tepat dalam menerjemahkan perintah presiden di kementerian masing-masing.

“Namanya pembantu presiden, gimana kebijakan presiden diimplementasikan. Tolok ukur reshuffle atau tidak ya evaluasi kinerja. Tapi perlu dipahami evaluasi tidak hanya satu titik waktu tertentu. Panjang,” ungkapnya.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR