Pembatasan Sosial dan Disiplin Diri: Catatan dari pinggiran Jakarta

Virus Covid-19 (istimewa)

Wabah virus Corona (Covid-19) datang secara tiba-tiba. Seluruh elemen masyarakat bisa dikatakan tidak siap menghadapi bencana berskala global tersebut. Bila pemerintah saja terkesan masih gagap menghadapi situasi buruk tersebut, bisa dibayangkan apa yang terjadi di masyarakat bawah, situasinya tentu lebih kacau lagi.

Penulis yang kebetulan tinggal di kawasan daerah penyangga Jakarta, tepatnya Bekasi, sempat melihat langsung bagaimana kekacauan dimaksud terjadi. Pada pertengahan Maret, ketika sekolah-sekolah di Bekasi (Kota maupun Kabupaten) diliburkan, apa yang sebelumnya saya khawatirkan, benar-benar terjadi.

Sekolah-sekolah diliburkan, bukan berarti libur sepenuhnya, namun selaras dengan konsep “work from home”, demikian juga dengan siswa-siswa yang tetap belajar seperti biasa, namun dari rumah melalui daring, dimana para guru tetap memberi panduan dan tugas belajar, hanya tidak secara tatap muka. Bagi warga kebanyakan, mungkin karena kurang sosialiasi, atau ada problem wawasan, liburan kali ini dianggap sebagai liburan biasa, sehingga kita masih menyaksikan bagaimana anak-anak usia tanggung, tetap bermain kesana-kemari, atau bermain bola seperti hari yang lain, tanpa ada rasa takut sedikit pun atas bahaya yang sedang menebar ancaman.

Jasa mobil keliling rekreasi anak-anak (odong-odong) tetap saja berjalan, dengan penumpangnya sebagian besar adalah balita, kelompok yang sangat rentan terpapar virus Corona. Demikian juga dengan penjaja jalanan, pengamen ondel-ondel, atau pekerja harian, tetap saja melakukan aktivitas seperti biasa. Demikianlah realitas yang terjadi pada masyarakat bawah, sebuah dilema memang. Bagi rakyat bawah yang bekerja di sektor informal, memang harus terus bekerja, agar tetap bertahan hidup.

Situasi semakin diperparah dengan ketiadaan sosialisasi dan disiplin masyarakat kita yang rata-rata rendah. Ketika pemerintah pusat menerapkan kebijakan social distancing (pembatasan gerak masyakat), resonansinya di tingkat lapangan terbilang lambat, padahal Bekasi masih bagian dari metropolitan Jabodetabek.

Bila sosialisasi cepat, kita tidak akan melihat pemandangan mencemaskan, seperti anak-anak tanggung yang bermain kian kemari, atau balita yang tetap terlihat ceria ketika naik odong-odong. Tentu saja anak-anak tersebut kurang paham soal wabah yang sedang mengancam, artinya ada problem wawasan pada orangtua anak-anak tersebut. Bila para orangtua telah memperoleh pemahaman yang cukup, selanjutnya bisa menjaga anak-anak agar tetap di rumah.

Presiden Joko Widodo sendiri menyerukan, agar masyarakat terus melakukan pembatasan sosial, menghindari kerumunan, dan menjaga jarak antar-orang. Hingga saat ini, menjaga jarak antar-orang dianggap cara terbaik memutus mata rantai penyebaran virus Corona.

Kita tidak boleh abai atas percepatan penyebaran virus Corona, mengingat Indonesia masuk kategori tertinggi dalam jumlah kematian. Dihubungkan dengan kasus konkret di atas, selain sosialisasi, juga diperlukan semacam “patrol” baik dari anggota Polri atau Satpol PP. Termasuk melibatkan pengurus RT/RW, dalam ikut menjaga dan mengontrol pergerakan warganya. Melibatkan pengurus RT/RW tentu lebih efektif, karena warga dalam RT yang sama, umumnya saling kenal.

Bila warga masih saja dianggap “membandel” , tentu pemerintah terpaksa melakukan pembatasan sosial lebih ketat. Sungguh pilihan yang sulit, mengingat masyarakat kita terbiasa berkumpul atau bersilaturahim, baik antar-kerabat atau antar-teman. Selalu ada hikmah dari sebuah kejadian, salah satunya adalah melatih disiplin diri, dengan cara “memaksa” diri kita untuk tetap tinggal di rumah (stay at home).

Soal disiplin diri masih menjadi problem dalam masyarakat kita, salah satu contoh yang paling gamblang adalah keengganan dalam mengantre, seperti saat membeli tiket angkutan umum, atau saat membayar di kasir pasar swalayan. Saat ini adalah momentum untuk meningkatkan kualitas disiplin diri kita.

Disiplin diri hari ini adalah, bekerja atau belajar (bagi siswa) dari rumah, tidak berkumpul, dan menhindari perjalanan. Perlu ada kesadaran bersama, bahwa dengan cara itulah kita bisa “menang” menghadapi wabah Corona.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR