Pemekaran DOB Kabudaya Memperkuat 4 Pilar Kebangsaan di Perbatasan

Sebagian Anggota  Forum Komunikasi Nasional Percepatan Pembentukan  Daerah Otonomi Baru (Forkonas PP DOB) berfoto bersama dengan Ketua MPR ,Zulkifli Hasan, di  Ruang Nusantara V, Gedung DPR -MPR RI, Jakarta, Jumat (2/6/2017).

Walau Pemerintah masih bersikukuh Pemekaran dan Pembentukan DOB masih moratorium, namun para Presidium dari tiap-tiap calon DOB, termasuk salah satunya DOB Kabudaya Perbatasan, tak lantas patah semangat. Bahkan ketatnya seleksi yang dipersyaratkan oleh Pemerintah dalam membentuk DOB, justru mereka anggap sebagai tantangan dan pembuktian bahwa wilayahnya layak dimekarkan.

Seperti yang terjadi pada Jumat (2/6/2017) lalu. Bertempat di Gedung Nusantara V Senayan,Jakarta, Forum Komunikasi Nasional Percepatan Pembentukan  Daerah Otonomi Baru (Forkonas PP DOB) yang terdiri dari lembaga perjuangan dan Presidium dari berbagai Calon DOB diseluruh Indonesia, resmi dikukuhkan .

Deklarasi tersebut juga tampak dihadiri oleh Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan dan sejumlah Tokoh sperti Muslim SHI (Anggota Komisi X DPR RI) dan beberapa tokoh lainya. Dalam sambutanya, Zulkifli Hasan mengharap semua elemen dapat bersatu untuk berjuang bersama dalam rangka memenuhi keinginan masyarakat dan sekaligus mencari solusi menyangkut anggaran. Dia juga mengucap selamat atas terbentuknya forum tersebut.

Beberapa orang dari Presidium Calon DOB yang saat ini tengah menjadi sorotan nasional karena kompleksitas yang terjadi diwilayah tersebut yakni DOB Kabudaya Perbatasan. Calon DOB Kabudaya Perbatasan  ini menjadi isu nasional terkait OBP (oustanding boundary problem-wilayah yang masih dipersengketakan) Republik Indonesia dengan Kerajaan Malaysia, di Sei Simantipal- Sei Sinapad yang luasnya ditaksir mencapai 154.000 hektar.

Persoalan di wilayah Calon DOB Kabudaya Perbatasan mencuat kepermukaan setelah ditemukanya bwbepa fakta, seperti kewarganegaraan ganda, minimnya akses transportasi dan sarana pelayanan publik di wilayah tersebut hingga permasalahan Banjir kiriman dari Sabah-Malaysia yang tiap terjadi,selalu menggenangi 4 Kecamatan dan puluhan Desa diwilayah yang kaya akan SDA tersebut.

Aswnawi Arbain, Anggota Presidium DOB Kabudaya PerbatasanAsnawi Arbain, Anggota Presidium DOB Kabudaya Perbatasan

Asnawi Arbain, salah seorang anggota Presidium dari Calon DOB tersebut, kepada IndeksBerita , Minggu (4/6/2017), menuturkan bahwa disamping demi terciptanya sarana pendekatan pelayanan publik , Pembentukan DOB Kabudaya Perbatasan juga dapat merupakan tolak ukur gagal dan berhasilnyanya Nawacita.

“Dalam butir ketiga Nawacita itu kan jelas, yang mana poin dari butir tersebut adalah membangun Indonesia dari pinggiran. Dan kami warga Perbatasan ingin menikmati hasil dari Nawacita dalam bentuk DOB,” papar pria yang juga Anggota DPRD Kalimantan Utara itu.

Asnawi melanjutkan bahwa Perbatasan adalah wajah sebenarnya dari sebuah negara. Pesatnya Pembangunan di Tenom, Keningau, Nabawan dan daerah lain di Malaysia yang bersebelahan dengan Kecamatan Lumbis Ogong,Kabupaten Nunukan, seharusnya dapat menjadi cambuk buat Pemerintah Indonesia dalam menciptakan kesejahteraan rakyatnya di Perbatasan.

“Pesatnya pembangunan di wilayah Malaysia ,sedikit banyak akan berpengaruh pada kehidupan masyarakat di wilayah Indonesia yang berbatasan langsung dengann wilayah itu. Ketika timbul rangsangan dihati  masyakat yang menginginkan kehidupannya selayaknya kehidupan Malaysia,itu sebenranya tanda-tanda lunturnya nasionalisme,apalagi jika sampai adanya ketergantungan terhadap pelayanan dan vasilitas di Malaysia,ini yang berbahaya,” tegasnya.

Ucapan Asnawi tersebut bukan sebuah ucapan yang tanpa alasan, mengingat jarah tempuh masyarakat Indonesia dalam mendapatkan Pelayanan publik seperti Kesehatan hingga kebutuhan lainya, lebih dekat ke Kota-Kota di Malaysia daripada ke kota-kota di wilayah indonesia yang notebene Negeri mereka.

Sebagai contoh, jika ada warga Lumbis Ogong yang ingin berobat apabila sakit, maka jarak yang harus ditempuh untk mencapai Kota Mansalong (kota di Indonesia yang terdekat dari wilayah mereka) dapat memakan waktu hinga 5-6 jam perjalanan Perahu (karena satu-satunya akses transportasi yanga ada hanya melewati sungai) sementara untuk mencapai kota-kota di Malaysia hanya ditempuh dngan waktu sekitar 45 menit. Untuk itu Asnawi menegaskan bahwa Pemekaran DOB Kabudaya Perbatasan juga sebagai benteng Nasionalisme di Tapal Batas.

“Dari heteroginitas Masyarakat dan hal-hala lainya yang berkaitan dengan permasalahan Perbatasan,maka saya berani katakan bahwa DOB Kabudaya Perbatasan adalah juga merupakan wujud penguatan 4 Pilar Kebangsaan,” pungkas Politisi PAN tersebut.

 

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR