Pemuda Nunukan Deklarasi Melawan Politik Uang dan SARA

Penandatanganan deklarasi melawan politik uang di Nunukan. (Edy Santry)

Puluhan aktivis dari berbagai elemen dan Mahasiswa serta Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Nunukan yang tergabung dalam Sahabat Bawaslu berkumpul di Pelataran Tugu Dwikora, Kota Nunukan, Senin (26/11/2018). Kehadiran mereka di pusat kota Nunukan tersebut adalah untuk melalukan deklarasi melawan politik uang dan melawan politisasi SARA.

Jamal, aktivis dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Nunukan dalam orasinya mengatakan bahwa pada saat ini generasi muda dituntut untuk bukan hanya sebagai pewaris negara namun lebih tepatnya adalah generasi yang bertanggung jawab terhadap arah perjalanan bangsa. Menurut Jamal, mustahil akan tercipta tatanan negara yang mampu mewujudkan keadilan sosial apabila para pengambil kebijakan adalah sosok tak bertanggung jawab dan berjiwa korup.

“Tahun 2019 bulan april kita akan melakukan pemilu serentak, dimana pada tanggal 17 april kita akan menentukan nasib bangsa ini kedepannya sehingga dalam menentukan pilihan kita harus cerdas dalam memilih, dalam politik segala upaya dilakukan untuk menang, namun tidak sedikit yang ingin menang dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan amanat pancasila dan undang-undang sehingga akan melahirkan pemimpin yang korup,” ujar Jamal.

Di sisi lain menurut Jamal, selain politik uang, yang sangat berbahaya dan kerap terjadi dan sangat berpotensi mengancam keutuhan dan kesatuan bangsa serta menimbulkan perpecahan di NKRI adalah politisasi SARA. Disamping aksi nyat, menurutnya perkembangan media sosial juga sangat mempengaruhi terjadinya konflik SARA imbas dari kontestasi Pemilu.

IMG-20181126-WA0512

“Media sosial dengan akses penyebaran yang praktis dan sangat mudah untuk disiarkan, dengan demikian kita dihadapkan dengan media yang dapat memicu perpecahan dengan banyaknya berita-berita bohong atau yang biasa kita sebut hoaks. Sehingga emosi kita dipermainkan oleh berita-berita yang muncul dalam media sosial yang kita gunakan,” ujarnya.

Jamal mencontohkan peristiwa aksi pembunuhan di Madura akibat postingan di media sosial dan tak lain karena persoalan Pilpres yang sedikit banyak telah menyita perhatian publik. Menurutnya, hal tersebut adalah sikap konyol akibat fanatisme buta akibat mulai menipisnya selimut nasionalisme.

“Jika kita benar-benar mengaku berbangsa Indonesia, saya yakin hal tersebut tak kan terjadi,” pungkas Jamal

Sementara itu, Ketua Bawaslu Kabupaten Nunukan Muhammad Yusran menyebut bahwa politik uang adalah kanker demokrasi yang menggerogoti sendi-sendi generasi bangsa. Apalagi menurut Yusran, praktik money politik dapat menyerang siapa saja dan dari latar belakang mana saja. Karena semakin lama gaya dan cara para pelaku money politik makin beragam. Namun menurutnya hal tersebut bukan tak mungkin untuk diberantas.

“Disinilah peran pemuda sebagai tonggak bangsa harus siap melakukan perubahan dengan segala resiko. Tapi jangan takut, selama berpijak pada hal yang benar akan ada pihak-pihak benar lain yang membelanya,” ujarnya.

Sedangkan untuk elemen yang hadir dalam deklarasi tersebut antara lain, HMI Komisariat Tarbiyah/Politeknik Nunukan, Kohati Tarbiyah/Politeknik Komisariat Nunukan, PMII Komisariat Perbatasan,IPM, GMKI, LPD,GNH,TNBA,FBN, PNC dan GP Ansor. Aksi diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan diahiri dengan penandatanganan Deklarasi oleh masing-masing perwakilan.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR