Penahanan Ratna Sarumpaet, Projo: Harus Dicari Aktor Intelektualnya

Budi Ari Seriadi Ketum Projo, dalam 19 tahun reformasi

Malam ini, Jumat (5/10/2018), Ratna Sarumpaet ditahan secara resmi oleh Direktorat Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Metro Jaya. Atas penahanan Ratna Sarumpaet tersebut, Projo-organisasi massa pendukung Jokowi, melalui ketuanya Budi Arie Setyadi, berharap agar Polri dalam hal ini penyidik Dirkrimum Polda Metro Jaya, dapat menguak kasus hoax Ratna Sarumpaet sampai ke akar-akarnya.

Budi mendorong pihak kepolisian untuk membuka tabir kasus ini selebar-lebarnya. Dan mencari kemungkinan adanya aktor intelektual dibalik kasus ini.

“Apa betul kehebohan ini tidak ada perencana dan pelakunya? Proses hukum harus menguak sampai ke akar-akarnya,” ujar Budi Arie lewat pesan tertulisnya kepada indeksberita.com.

Ia mendorong agar Polri mendalami kasus Hoax Ratna Sarumpaet, karena ia yakin penyidik Polri memiliki data lengkap terkait kasus ini. Ia juga  meyakini, penetapan Ratna sebagai tersangka dan kemudian menahannya, adalah langkah tepat untuk membuat kasus ini menjadi terang benderang.

“Menjadikan Ratna tersangka dan menahannya, menggambarkan kemajuan penyidikan kasus ini. Selanjutnya Polisi tinggal mencari pihak-pihak yang terlibat dalam memproduksi kehebohan hoax nya Ratna tadi, kemudian mencari siapa yang mendistribusikannya, serta membiayai dan mengoperasikan robot-robot di sosial media,” pungkasnya.

Seperti diketahui, sebelumnya beredar isu bahwa Ratna Sarumpaet mengalami kekerasan fisik pada tanggal 21 September 2018, yang dilakukan oleh 3 laki-laki tak dikenal di Bandung. Bersamaan dengan isu tersebut juga dimunculkan foto Ratna dalam keadaan bengkak dan luka jaitan di wajahnya.

Isu dan foto itu kemudian semakin viral saat Fadli Zoon, Fahri Hamzah dan bahkan Amin Rais dan Prabowo sendiri kemudian ikut menyebarkannya ke publik, melalui pernyataan keprihatinannya atas kondisi Ratna tersebut, melalui media. Baru kemudian tanggal 3 Oktober diketahui bahwa isu tersebut merupakan hoax.

Melalui konprensi pers yang ia gelar di kediamannya di Tebet, Ratna mengakui bahwa ia telah berbohong, dan mengungkapkan bahwa sebenarnya tak ada penganiayaan terhadap dirinya seperti yang selama ini informasinya beredar. Dan foto wajahnya dalam keadaan bengkak, yang sebelumnya dikatakannya sebagai akibat dari pemukulan, pada kesempatan tersebut, dia akui pula sebagai dampak dari operasi plastik yang dilakukannya pada tanggal 21 September 2018 di Klinik Bina Estetika.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR