Pendekar Pagar Nusa Nunukan Siap Hadapi Siapapun Yang Mengadu Domba TNI-Polri

Keterangan foto: sejumlah Pendekar Pagar Nusa Nunukan menyatakan sikap siap melawan siapapun yang mengadu domba TNI-Polri.

Maraknya penggiringan opini serta framing dari pihak-pihak tertentu terutama di media sosial, yang sengaja mengistimewakan TNI dibandingkan dengan Polri, adalah sebuah tindakan yang sangat berbahaya. Karena sangat kental sekali kesan adanya upaya untuk mengadu domba TNI-Polri.

propaganda seperti itu dapat melunturkan kepercayaanya terhadap instansi yang dimaksud, dan akan terbentuk disharmonisasi di antara aparat keamanan.

Menyikapi hal tersebut, Pimpinan Cabang (PC) Pendekar Pagar Nusa Nunukan menilai bahwa hal tersebut adalah upaya dari pihak tertentu yang menginginkan NKRI hancur. Ketua PC Pagar Nusa Nunukan, Basri Lanta bahkan dengan tegas menyatakaan pihaknya siap melawan siapapun yang menjadi bagian dari aksi serta tindakan yang berpotesi memecah belah persatuan dan kesatuan tersebut.

Untuk itu Basri mengungkapkan bahwa berkumpulnya para Pesilat di bawah naungan Nahdlatul Ulama di Pelataran Tugu Dwikora pada Jumat 31 Mei 2019 itu bukan hanya aksi bagi takjil Ramadhan saja. Namun juga deklarasi dukungan kepada TNI-Polri dalam mengemban tugas negara serta penyatan sikap akan melawan pihak manapun yang berencana memperlemah dan membenturkan TNI dengan Polri.

“TNI dan Polri adalah sama-sama benteng negara. Bahwa ada oknum-oknumnya yang kurang sempurna, ya, tapi bukan berarti dapat menjadi alasan untuk mencaci, merendahkan bahkan menghina institusi TNI-Polri,” ujar Basri usai deklarasi.

Menurut Basri, sebagai sebuah lembaga yang lahir dari rahim rakyat, TNI-Polri tetap membutuhkan masukan dan kritikan. Namun Basri menegaskan ada perbedaan antara mengkritik dengan menghujat. Kritikan menurutnya adalah masukan disertai solusi demi kemajuan pihak yang dikritiknya, sedangkan menghujat adalah caci maki yang bertujuan menjatuhkan.

Pasca kerusuhan dari aksi masa di Jakarta pada 22 Mei 2019 lalu, Basri menduga bahwa peristiwa tersebut adalah salah satu dari skenario untuk memecah belah TNI-Polri. Apabila kedua institusi tersebut sudah tidak mempunyai keharmonisan, maka kehancuran Indonesia sebagai sebuah negara pasti akan terjadi.

“Kita lihat saja, bagaimana mereka dengan terang-terangan mencaci maki Polri setelah kerusuhan itu terjadi. Dan untuk pemanis, mereka tak segan-segan menyertakan hoax dalam cacianya. Tujuanya untuk apa kalau bukan menggiring opini agar masyarkat membenci Polri,” beber Basri.

Padahal menurut Basri, yang dilakukan Polri yang dibantu TNI dalam pengamanan pada perisriwa tersebut adalah bagian dari tindakan untuk mempertahankan kedaulatan negara. Sehingga apabila ada kesalahan dan tindakan diluar kepatutan dalam tugas mereka, Basri meminta pihak yang dirugikan agar menempuh jalur konstitusi serta mekanisme perundang-undangan.

‘Bukan malah mencaci maki Polri di Media Sosial dan lebih parah sambil disisipi hoax. Kalau seperti itu kan sudah bisa dibaca bahwa tujuanya ingin memperlemah Polri melalui kebencian dari masyarakat akibat provokasinya termasuk memframing agar TNI dengan Polri tidak akur. Cara-cara ini sangat berbahaya,” tandasnya.

Basri mengakui bahwa pihaknya bukan lembaga yang sempurna. Namun sebagai warga negara, menurutnya, adalah sebuah kewajiban untuk bersinergi dengan pihak manapun terutama aparat untuk menciptakan suasana kondusif melalui kapasitas masing-masing. Ia juga mengungkapkan bahwa dalam waktu dekat, akan menggelar deklarasi akbar dukungan kepada TNI-Polri dari semua Badan Otonom Nahdlatul Ulama di Nunukan.

“Insha Allah dalam waktu dekat pelaksanaanya. Semua anggota Banom akan kita libatkan. Kita bukan ingin gagah-gagahan, tapi ingin menyatakan bahwa TNI dan Polri tidak sendiri. Kami ada dan akan selalu mendukung kalian,” pungkas Basri.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR