Pengelolaan Lahan Tidur di Nunukan Oleh Kodim, Motivasi Ekonomi di Perbatasan

Pengelolaan lahan tidur di Nunukan menjadi ladang cabai oleh Kodim 0911/Nunukan (Edy Santry)

Upaya Kodim 0911 Nunukan menggarap lahan tidur menjadi ladang produktif, terus mendapat apresiasi dari masyarakat. Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Utara, Andi Zakaria mengungkapkan, pengelolaan lahan tidur di Nunukan oleh Kodim 0911 tersebut, bukan sekedar program namun juga pelajaran kepada semua pihak dalam merawar alam.

“Sangat luar biasa. Ini sebuah terobosan yang kelihatan sepele namun dampaknya luar biasa bagi masyarakat,” tutur Andi kepada Pewarta, Sabtu (9/2/2019).

Andi meminta agar semua pihak baik petani dan pemangku kepentingan untuk merespon apa yang telah dilakukan Kodim 0911/Nunukan tersebut sebagai motivasi bersama mengingat banyaknya lahan-lahan tidur di wilayah Nunukan yang apabila dikelola dengan baik sebagaimana yang dicontohkan TNI, pasti ketergantungan pangan di Perbatasan bisa terpangkas dengan sendirinya.

“Apa yang telah dilakukan Kodim ini seakan membuka mata kita bersama bahwa Nunukan ini sebebarnya kaya sumber daya alam. Tinggal kita mampu tidak mengelolanya dengan baik. Disatu sisi, apabila semua lahan tidur di Nunukan ini mampu dimanfaatkan seperti yang Kodim lakukan, saya sangat yakin kita pasti mampu untuk berswasembada pangan,” ujar Politisi Partai Bulan Bintang tersebut.

Senada dengan Andi Zakaria, Sekretaris Jenderal Indonesia Pilar Innstitute, Syafaruddin Thalib sangat mengapresiasi dengan terobosan Kodim Nunukan dalam hal pemberdayaan lahan tidur menjadi lahan produktif tersebut. Syaffar menilai, saat ini masyarakat Nunukan suka atau tidak suka harus mengakui bahwa masih menggantungkan bahan pangan dari wilayah lain. Padahal Nunukan sendiri menurut Syafar adalah wilayah yang gemah ripah loh jenawi apabila dikelola dengan baik.

“Padahal sudah sekian tahun kita berjalan, ternyata baru hari ini kita semua sadar bahwa kita sebenarnya kaya namun kemalasan kita lah yang mengikat kita selalu berada dalam ketertinggalan dam lebih ironis adalah ketergantungan pangan,” ujar Syafar.

Menurut Syafar Pemerintah Daerah mestinya segera merespon dengan apa yang telah dilakukan Kodim tersebut melalui kebijakan-kebijakan konkrit berbasis pertanian. Pembinaaan Kelompok Tani, Perbanyak Insfratruktur Pertanian seperti pembuatan jalan-jalan tani hinga adalah solusi tepat untuk menindak lanjuti atas ide-ide Kodim tersebut.

“Kalau saya menilai, Kodim sedang menyampaian pesan kepada kita bahwa apabila tanah-tanah tidur, benar-benar dimanfaatkan, pasti Ketahanan Pangan yang saat ini digelorakan Pemerintah akan segera terwujud. Kodim sudah menyampaikan pesan baik, tolong respon dan reaktif lah,” tandasnya.

Sementara itu Ketua Serikat Tani Nasional (STN) Cabang Nunukan ,Agus Lempang ketika dikonfirmasi membenarkan bahwa saat ini banyak lahan-lahan kosong dan cenderung terbengkelai. Apa yang dikatakan Dandim 0911/Nunukan Let Kol Czi Abdillah Arif mengenai terbengkelainya lahan-lahan produktif di sebagian wilayah Perbatasan adalah fakta.

“Cek saja di Nunukan Selatan, itu masih banyak area yang seharusnya bisa digunakan untuk sawah justru dibiarkan menjadi semak belukar,” papar mantan aktivis LMND tersebut.

Pemerintah Daerah, menurut Agus, seharusnya mempunyai ketegasan pada para pemilik lahan-lahan tidur tersebut agar segera memanfaatkan tanahnya demi kepentingan bersama. Karena minimnya regulasi tentang pemgusan lahan, menurut Agus juga menjadi penyebab banyaknya lahan tidur di wilayah Perbatasan.

“Masyarakat cenderung dibiarkan membuka lahan bahkan bisa jadi masuk kawasan hutan lindung dan setelah hutan dibuka, dibiarkan menjadi lahan tak terawat, tahu-tahu sudah terpasang papan dengan tulisan DIJUAL. Ini kan sebuah pembiaran dari Pemerintah dengan alasan hak masyarakat,” ujarnya.

Seharusnya, menurut Agus, jika Pemerintah menenukan hal seperti itu, agar Pemerintah segera mengkondisikan lahan tersebut menjadi lahan bersama yang dikelola pihak terkait dari Pemerintah demi kepentingan masyarakat Nunukan. Agus mencontohkan, misalnya tanah yang terbiar itu dimanfaatkan sebagai lahan persawahan atau perladangan yang hasilnya nanti dikelola untuk masyarakat juga.

“40 hektar Sawah saja apabila ditanami Padi dan dirawat dengan baik, itu hasil panennya akan mampu menopang pemduduk yang tinggal di Pulau Nunukan dalam jangka waktu yang bukan sebentar. Apalagi lahan tidur di Nunukan ini kemungkinan bisa mencapai ratusan hektar. Andai itu dimanfaatkan, apa Nunukan tidak akan akan bisa jadi salah satu Lumbung Pangan Nasional?,” tandasnya.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR