Penghargaan “Nobel Asia” Magsaysay Award 2017, Diterima Abdon Nababan Akhir Agustus 2017

Alasan Mengapa Magsaysay Award 2017 diberikan kepada Abdon Nababan (AMAN)

Ramon Magsaysay Award Foundation pada Kamis (27/7) di Manila, Filipina mengumumkan Abdon Nababan terpilih sebagai penerima Ramon Magsaysay Award 2017 untuk kategori Community Leadership dari seluruh Asia. Acara penyerahan Magsaysay, yang dikenal sebagai “Nobel Asia” tahun ini dijadwalkan pada 31 Agustus 2017 di Manila.

Abdon Nababan, sekjen Aliansi Masyarakat selama dua periode, menurut Ramon Magsaysay Award Foundation, merupakan seorang pemimpin yang membawa perubahan. Keberanian dan advokasinya menjadi suara dan wajah bagi Masyarakat Adat di Indonesia.

Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN)  menyambut hangat penghargaan Ramon Magsaysay Award 2017 yang diberikan kepada Abdon Nababan. Penghargaan Nobel Asia ini secara resmi sudah diumumkan pada Kamis, 27 Juli 2017.

Rukka Sombolinggi, Sekretaris Jenderal AMAN periode 2017-2022, menilai Abdon memang sangat pantas mendapatkan penghargaan ini. Menurutnya, Abdon merupakan seorang pemimpin yang visioner dan memiliki strategi yang kuat dalam melakukan perubahan.

Memimpin organisasi sebesar AMAN melewati masa transisi untuk berubah dari strategi konfrontasi ke engagement, hanya bisa dilakukan oleh seorang pemimpin yang visioner dan memiliki strategi yang kuat dalam melakukan perubahan, dan Abdon telah membuktikan kualitas kepemimpinannya,” kata Rukka.

Abdon sendiri tidak tahu siapa pengusul namanya dan bagaimana proses seleksi Ramon Magsaysay Award ini. Yang jelas, dalam periode kepemimpinannya, ia berjuang agar AMAN bisa memberikan kontribusi positif terhadap perjuangan hak-hak Masyarakat Adat di negara ini.

“Hasil dari perjuangan AMAN diantaranya, melahirkan Putusan Mahkamah Konstitusi no. 35/PUU-X/2012 tentang Hutan Adat, pencantuman peta wilayah adat sebagai peta tematik oleh Badan Informasi Geospasial, dan Inkuiri Nasional oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia tentang pelanggaran hak-hak Masyarakat Adat di kawasan hutan. AMAN pun secara aktif mendorong dan memfasilitasi Rancangan Undang-Undang Masyarakat Adat (RUU MA). RUU ini kini ada di Program Legislasi Nasional DPR RI untuk 2017,” urai Abdon.

Untuk diketahui, Abdon merupakan pemimpin perjuangan Masyarakat Adat di Nusantara, bahkan sebelum era reformasi. Acara lima-tahunan Kongres Masyarakat Adat Nusantara menunjuknya sebagai Sekretaris Jenderal AMAN, di dua periode, yaitu 2007-2012 dan 2012-2017. Kini Abdon duduk di Dewan AMAN Nasional 2017-2022 mewakili Region Sumatera.

Atas dasar capaian Abdon tersebut, maka masyarakat adat, terutama di Sumatera Utara, mendorongnya untuk maju sebagai Gubernur Sumatera Utara, agar agenda kesejahteraan dan keadilan, terutama berkaitan dengan tanah rakyat dan tanah ulayat dapat terus diperjuangkan.

“Saya senang dan bangga karena saya mewakili puluhan ribu orang yang selama 24 tahun terakhir berjuang bersama saya dalam gerakan masyarakat adat di Indonesia,” kata Abdon.

Mengenai usulan masyarakat adat dan AMAN yang mencalonkan dirinya sebagai calon Gubernur Sumatera Utara, Abdon menyatakan bahwa dirinya sulit menolak permintaan mereka dan berusaha untuk mewujudkannya. Sedangkan jalur politik mana yang akan diambil, Abdon menyatakan bahwa ia akan ikuti semua proses yang memungkinkan agar mandat komunitas masyarakat adat bisa diwujudkannya.

“Ini mandat organisasi dan mandat teman-teman. Semua proses yang mungkin tentu akan saya tempuh,” ujar Abdon.

Sekjen Aman lalu menambahkan apa yang sudah dijelaskan Abdon, bahwa dibawah kepemimpinan Abdon pula, AMAN berhasil memasukan agenda perjuangannya untuk masyarakat adat dalam program kerja Presiden Jokowi.

“Masih di periode kepemimpinan Abdon, AMAN memastikan pencantuman enam poin terkait Masyarakat Adat di dalam Visi dan Misi Presiden Joko Widodo (dikenal sebagai NAWACITA). Hasil paling nyata adalah penyerahan Surat Keputusan Pengakuan Hutan Adat kepada 9 Masyarakat Adat oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara pada akhir Desember 2016,” pungkas Ruka.

Ramon Magsaysay Award adalah penghargaan untuk kepemimpinan yang menginspirasi dan membawa perubahan. Beberapa nama yang pernah mendapat penghargaan ini adalah Dalai Lama ke-14 pada 1959, Abdurrahman Wahid (Gusdur) pada 1993, dan Syafi’i Ma’arif (PP Muhammadiyah) pada 2008.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR