Pengungsi ex Desa Kinokot, Ingin Pulang Ke Indonesia Tak Kesampaian

Keinginan sedikitnya 450 jiwa dari 112 Kepala Keluarga Pengungsi ex Desa Kinokot, yang saat ini bermukim di Kampung Silungai, Nabawan, Sabah-Malaysia  untuk pulang ke tanah air, tampaknya terus diterpa rintangan. Mereka menjadi pengungsi akibat konfrontrasi RI-Malaysia sekitar 1963-1966.

Setelah perwakilan mereka melakukan audiensi dengan Pj.Gubernur Kalimantan Utara Triyono Budi Sasongko, pada Mei 2016 sampai saat ini, belum ada tindak lanjut dari pemerintah. Pada hari Jumat (14/4/2017), bertambah lagi kesedihan mereka, karena wafatnya Nanduyon Tulamus. Buat warga Pengungsi eks Desa Kinokot, Nanduyon merupakan salah satu tokoh yang selama ini gigih memperjuangkan agar mereka dapat kembali ke Indonesia.

Nasionalisme dan rasa cinta pada Indonesia yang dimiliki Nanduyon, bukan hanya diakui oleh para pengungsi ex Desa Kinokot yang sekarang bermukim di Silungai-Sabah saja. Jiwa merah putih Nanduyon juga dibenarkan dan diakui oleh kebanyakan masyarakat yang bermukim di Kecamatan Lumbis Ogong, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara.

Koboyon, salah seorang Ketua Adat yang juga mantan Kepala Desa Labang, Kecamatan Lumbis Ogong , menuturkan bahwa salah satu bukti jiwa nasionalis yang dimiliki oleh Nanduyon adalah wasiat yang pernah disampaikan padanya bahwa apabila dirinya meninggal,agar dapat dikubur di tanah kelahiranya (Indonesia-red). Dan dirinya mengamanatkan agar pusaranya dilingkari tanda dengan warna Merah Putih.

“Apus Aku Kubulon da Tanah am Nagara Nu Ulun Nu Sino Kadiwian Nu Umul Ku Alih, Abisa Poyk am Kipalin aku da Alagang Am Pulak (Saya tidak mau dikubur di tanah orang dan negara orang, jika boleh buatlah panji warna Merah dan Putih di kuburanku nanti ya),” ujar Koboyon kepada indeksberita.com (16/4/2017), menirukan wasiat Nanduyon tersebut dengan nada sedih, karena tak dapat melaksanakan wasiat Almarhum.

Kesedihan bukan hanya dirasakan oleh warga ex Desa Kinokot yang saat ini berada di  Silungai-Malaysia saja, namun juga dirasakan oleh semua anggota Organisasi Pemuda Penjaga Perbatasan RI. Melalui Ketua Umumnya, Paulus Murang, wafatnya salah seorang tokoh dari Pengungsi ex Desa Kinokot tersebut seharusnya menjadi Perhatian Pemerintah Pusat agar dapat segera memfasilitasi kepulangan mereka dari Malaysia ke Indonesia.

“Almarhum Nanduyon mungkin bagi para Pejabat negara bukan siapa-siapa. Tapi bagi kami dan bagi siapa saja yang masih mempunyai rasa  kecintaan terhadap Indonesia, beliau adalah Ikon perjuangan aktualisai Nasionalisme di Tapal Batas,” tuturnya.

Paulus juga berharap agar Pemerintah dalam kesungguhanya mengedepankan pembangunan di Perbatasan, hendaknya bukan hanya sekedar wacana. Menurutnya, persoalan di wilayah perbatasan khususnya perbatasan RI-Malaysia di Lumbis Ogong sudah sangat memprihatinkan. Geliat pembangunan yang dilakukan oleh Kerajaan Malaysia di wilayah Nabawan, Keningau dan Tenom yang berbatasan langsung dengan Lumbis Ogong harusnya menjadi cambuk buat Pemerintah.

“Lemah dan kuatnya Nasionalisme, itu juga tak lepas dari cara pemerintah memperlakukan rakyatnya. Seharusnya Negara ini bersyukur mempunyai warganya (Pengungsi eks Desa Kinokot) di Silungai-Malaysia yang penuh dengan kemudahan fasilitas pelayanan publik, tapi masih ingin pulang ke Indonesia dengan membuka kembali Desa Kinokot sebagai salah satu basis masyarakat dalam menjaga kedaulatan NKRI,” pungkasnya.

Sebagaimana Pemberitaan sebelumnya, keberadaan para pengungsi ex Desa Kinokot yang saat ini bermukim di Kampong Silungai, Sabah-Malaysia berawal dari terjadinya ketegangan politik konfrontasi antara Pemerintah RI dengan Malaysia pada tahun 1963 – 1966. Desa Kinokot tempat tinggal mereka luluh lantak yang membuat mereka terpaksa mengungsi ke Sinolob. Dan ketika konfrotasi usai, saat mereka berniat pulang untuk membangun kembali Desa Kinokot, entah kenapa Pemerintah Kerajaan Malaysia justru memindahkan mereka ke Kampung  Bantul-Sabah. Dan terahir mereka dipindahkan ke Kampong Silungai.

BAGIKAN

1 KOMENTAR

  1. Siapa tak ingin jadi Indonesia?!!! Terlebih yg secara hirtories mmg warga Indonesia. Negara ini dlm10 thn kedepan, Malay bukan tandingannya,Amerika saingan terdekat kita, nasionalisme-jangan ditanya. Mmg saat ini kaum konservatif menguasai gelanggang perpolitikan bersama dg kaum pragmatisme dan kaum mumpung, ttp tidak lama.

TINGGALKAN KOMENTAR