Penjualan Burung Rangkong Berhasil Digagalkan BKSDA Sulteng

Burung Rangkong berhasil digagalkan penjualannya (istimewa)

Penjualan Burung Rangkong berhasil digagalkan pihak BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Provinsi Sulawesi Tengah. Burung rangkong adalah salah satu satwa endemik di Pulau Sulawesi.

Kelompok burung ini mempunyai nama lain, antara lain burung Julang, burung Enggang, dan burung Kangkareng. Burung ini termasuk satwa yang dilindungi.

Kepala BKSDA Provinsi Sulawesi Tengah, Haruna mengatakan bahwa burung tersebut kemungkinan akan perjualbelikan pemiliknya di Kota Palu. Kemudian dari Palu akan dikirim ke luar daerah seperti Surabaya, Makasar, Kalimantan, bahkan ke luar negeri.

“Bisa jadi juga ke luar negeri. Kalau kita lihat cara-cara yang dia lakukan,“ kata Haruna, Ahad, 15 Oktober 2017.

Masih kata Haruna, pengkapan dapat dilakukan karena ada masyarakat yang melihat, kemudian memberi informasi kepada dirinya, tentang adanya rencana penjualan satwa langka dari Buol yang dilindungi. Atas informasi tersebut, maka dia lalu bertindak untuk menggagalkannya.

“Namun sayang saat kami di kardus itu hanya terdapat nomor kontak. Yang kemudian kami hubungi, setelah itu kami tunggu beberapa saat tidak ada yang datang. Mungkin saja penangkapan ini sudah bocor,“ jelas Haruna.

Penjualan burung Rangkong ini, memang kerap terjadi di Provinsi Sulawesi Tengah. Berbagai macam modus dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Peristiwa penggagalan penjualan burung rangkong yang terjadi pada Sabtu, 14 Oktober 2017 itu. Pihak pelaku melakukan dengan cara menitipkan kepada perusahaan travel dari Buol menuju ke Kota Palu.

Ada empat ekor burung Rangkon yang diamankan; tiga berjenis kelamin jantan dan satu betina. Burung itu terbungkus di dalam kardus dengan melakban paruh burung Rangkong. Pelaku hanya menuliskan nomor ponsel pada kardus.

“Burungnya saya amankan di kantor BKSDA Sulteng untuk sementara waktu, sampai mencari siapa pemiliknya,“ ucap Haruna.

Burung Rangkong merupakan satwa yang dilindungi Undang-undang No. 5 tahun 1990  tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem. Haruna menjelaskan, empat burung Rangkong itu usianya tidak sama, ada yang satu tahun dan dua tahun. Dan selama diamankan di kantor BKSDA, lanjuta Haruna, akan juga dirawat.

“Sebab kita tahu sendiri, burung itu sudah mulai kurus. Sepertinya tidak pernah dikasih makan. Nati setelah perawatan kita lepaskan di Cagar Alam Pangi Binang, Kabupaten Parigi Moutong,“ kata Haruna.

Sebagaimana diketahui, burung Rangkong ini sebenarnya masih banyak di hutan-hutan lindung di Sulawesi Tengah. Namun karena perbuatan orang tak bertanggungjawab terancam mulai  punah.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR