Peran Pemuda dalam Sejarah Bangsa

Dialog Kebangsaan di Kampus Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) “APMD” Yogyakarta, Rabu, 26 Oktober 2016. Foto: Tass/indeks

“Tahun 1928 pemuda bersatu melawan penjajah. Tahun 1998 pemuda bersatu melawan negara. Sekarang dan ke depan pemuda harus berorganisasi, bersatu, berjejaring dan merebut negara dari tangan korporasi untuk rakyat”.

Itulah benang merah yang disampaikan moderator pada Diskusi Kebangsaan bertema “Narasi Peran Pemuda dalam Sejarah Bangsa”, 26 Oktober 2016 di kampus Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) “APMD” Yogyakarta.

Diskusi Kebangsaan diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STPMD “APMD”. Tampil sebagai pembicara, Dr. Baskara T Wardaya (sejarawan, dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta), Dr. Abdur Rozaki (dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta), dan Dr. Yuni Satia Rahayu (dosen STPMD “APMD”). Diskusi yang dipandu Tri Agus Susanto itu dihadiri seratusan mahasiswa termasuk utusan dari BEM se DIY.

Menurut Yuni Satia Rahayu, setiap membicarakan peran pemuda dalam sejarah, acap kali kila lupa peran perempuan. Perempuan dalam sejarah pergerakan nasional masih dipandang sebelah mata. Proklamator Soekarno, menurut Wakil Bupati Sleman (2010-2015) ini tercatat sering menjadi pembicara dalam kegiatan Kursus Politik Perempuan. Kumpulan makalah Bung Karno kemudian diterbitkan menjadi buku berjudul “Sarinah”. Kepada para mahasiswa yang merupakan inti dari pemuda, Yuni berpesan agar tetap menjaga elan kepeloporan pemuda. Karena, pemuda adalah garda terdepan kemajuan bangsa.

Sejarawan Baskara T Wardaya mengupas lebih dalam tentang kejadian seputar Sumpah Pemuda 1928. Menurut Romo Bas, demikian penulis buku-buku sejarah ini dipanggil, sekitar tahun 1927 sampai pertengahan 1928, keinginan para pemuda se Indonesia untuk bersatu. Selama itu para pemuda terhimpun dalam organisasi yang berbasis kepada etnis, suku atau agama. Meski begitu pada 1926 Partai Komunis Indonesia (PKI) yang umumnya kaum pemuda memberontak melawan Belanda.

Kongres Pemuda yang dihadiri sekitar 700 pemuda itu pada akhirnya menyetujui beberapa putusan yang bersejarah. Rangkuman sidang itu ditulis dan dibacakan oleh Mohammad Yamin. Kita kemudian mengenal sebagai Sumpah Pemuda. Pada kongres itu juga untuk pertama kali dikumandangkan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya oleh Wage Rudolf Soepratman meski hanya dengan biola tanpa syair.

Abdur Rozaki mantan aktivis UIN, berbicara tentang pemuda dan masa depan bangsa. Menurut Wakil Dekan ini, pemuda bisa digolongkan menjadi tiga. Pertama, pemuda sebagai agensi atau penggerak. Pemuda ini biasanya aktif di organisasi kampus kemudian biasanya terjun ke dunia politik atau kemasyarakatan. Kedua, pemuda sebagai pebisnis. Ini penting karena dengan makin banyaknya anak muda di jalus bisnis maka bisa menciptakan banyak lapangan kerja. Ketiga, pemuda sebagai agen masalah (trouble maker). Mereka umumnya pemuda yang galau, kesepian, tetapi pandai di bidang IT. Akhirnya mereka ada yang terjun ke dunia kriminalisme atau terorisme.

Jack, panggilan akrab Abdur Rozaki, mengajak para pemuda khususnya mahasiswa APMD untuk merebut dan mengisi kepemimpinan di desa-desa. ”Mari kita membangun Indonesia dari desa-desa,” kata Jack.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR