Perayaan Setahun Desa Adat Sumerta Menolak Reklamasi Teluk Benoa

Perayaan 1 tahun Masyarakat Desa Adat Sumerta menolak reklamasi

Tepat pada hari Minggu, 31 Juli 2017 Desa Adat Sumerta yang terletak  di Kecamatan Denpasar Timur, Kota Denpasar, merayakan perayaan satu tahun tonggak sejarah Desa Adat Sumerta menolak reklamasi Teluk Benoa, Bali. Jika tahun lalu Desa Sumerta bersama Desa Tanjung Bungkak melakukan deklarasi dengan menyalakan obor dan longmarch, kali ini Desa Sumerta mengadakan panggung hiburan musik yang di isi oleh kelompok band The Dissland, Scared of Bums, Masekepung dan beberapa band lokal lainnya.

Acara dibuka dengan penampilan musik, dan dilanjutkan dengan pidato sambutan oleh ketua panitia penyelenggara, I Nyoman Gegel Juniarta. Perayaan satu tahun tonggak sejarah Desa Sumerta menolak reklamasi Teluk Benoa ini merupakan penegasan sikap penolakan dan juga merupakan bentuk solidaritas Desa Sumerta terhadap desa-desa di daerah pesisir Teluk Benoa.

I Nyoman Gegel Juniarta dalam pidatonya mengatakan “Jika ujung kuku sakit, maka seluruh badan juga akan terasa sakit” yang menurutnya berarti penolakan Desa Sumerta merupakan bentuk solidaritas terhadap masyarakat di desa-desa pesisir yang terdampak secara langsung oleh rencana reklamasi Teluk Benoa.

Solidaritas Desa Sumerta diapresiasi oleh Koordinator ForBALI, I Wayan Gendo Suardana, yang mengatakan bahwa “ini pertama kalinya ada gerakan basis tolak reklamasi yang bermetamorfosis menjadi gerakan di desa yang menamakan diri mereka Barisan Pemuda Perjuangan Sumerta (Bamper Sumerta) semoga kedepannya hal serupa banyak ditiru oleh basis-basis lain dan semakin bulat tekad untuk menolak rencana reklamasi teluk benoa” imbuhnya.

Pada kesempatan tersebut, Bendesa Adat Sumerta juga melantik BAMPER (Barisan muda perjuangan) SUMERTA dengan penyerahan bendera Bamper Sumerta serta pemotongan tumpeng.

Acara ini dilanjutkan dengan penyerahan donasi acara kepada perwakilan Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) yang diterima oleh Direktur Eksekutif WALHI Bali, Suriadi Darmoko, diatas panggung Suriadi Darmoko.

“Tepat pada 30 Juli satu tahun yang lalu telah menjadi tonggak sejarah bagi perlawanan masyarakat Desa Sumerta terhadap kerakusan dan ketamakan investor serta kesewenang-wenangan pemerintah”. Ujarnya.

Acara dilanjutkan oleh penampilan musisi-musisi penolak reklamasi dan ditutup dengan penampilan Band Masekepung yang merupakan band dari Desa Adat sukawati yang aktif terhadap gerakan penolakan rencana reklamasi teluk benoa.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR