Perbaikan Nasib Guru Honorer Harus Menjadi Bagian Dari Penggunaan 20 Persen Anggaran Pendidikan di APBN

Ratusan guru honorer demo Bupati Bogor (18/5/2017). Foto Eko Octa-indeksberita.com

Saat membaca berita dari indeksberita.com mengenai demonstrasi perbaikan nasib guru honorer ke kantor Bupati Bogor, saya sebagai guru honorer, merasa tersentuh. Tersentuh akan perjuangan mereka, yang sayangnya saya tak bisa ikut mengambil bagian dari aksi tersebut.

Saya menyesal tidak bisa menjadi bagian dari aksi tersebut karena kebetulan menjadi pengawas ujian kenaikan kelas di salah satu SMK di Bogor. Untuk menebus “kesalahan” itu maka saya buat tulisan ini, sebagai bagian dari ekspresi aspirasi teman-teman. Mungkin tidak sebanding antara tulisan dengan perjuangan teman-teman lain yang berorasi dan berpanas-panasan dalam aksi kemarin. Tetapi setidaknya, tulisan ini menjadi bagian dukungan dalam bentuk lain.

Terkadang saya suka sedih, kenapa nasib kami sebagai tenaga pengajar, tidak dihargai. Kenapa kami sebagai guru honorer hanya digaji dengan ala kadarnya?

Kami merasa diperlakukan semena-mena oleh pemerintah, padahal katanya tugas kami mencerdaskan generasi muda itu mulia. Tapi mengapa jerih payah kami, daya intelektual kami dihargai dengan rendah?

Kami dituntut tertib administrasi sebagai guru, tetapi honor kami masih jauh di bawah UMP/UMR.  Untuk mendapat honor 1 koma 5 saja kami alhamdullilah, walau itu berarti tanggal 1 ambil gaji tanggal 5 sudah koma. Tapi  malah lebih sering kami dapat honor cuma sajuta itupun juga singkatan dari : sabar, jujur dan taqwa.

Katanya undang’undang mewajibkan 20% dari anggaran negara (APBN) untuk pendidikan, mengapa anggaran tersebut tidak. menyentuh ke arah perbaikan nasib guru honorer? Untuk apa saja anggaran pendidikan yang besarnya 20% dari APBN tersebut? Bagaimana pula dengan APBD?

Jika sebagian anggaran tersebut disisihkan untuk peningkatan honor para guru honorer, kami yakin kualitas pendidikan akan meningkat, karena pasti kami akan mengajar dengan lebih bersemangat. Dan kami juga yakin bahwa itu tidak akan mengganggu biaya pendidikan yang diberikan negara untuk anak didik.

Tulisan saya ini berusaha untuk mengetuk kepedulian siapa pun, untuk mau memperjuangkan nasib kami, nasib guru honorer. Mereka yang memiliki akses pada kekuasaan tolong titip pesan ini ke Bupati, Walikota, atau Gubenur, kalau perlu ke Presiden RI. Karena kesabaran kami dalam mengajar, maka kalian semua ada. Wassalam

Artikel ini dikirim oleh Mardiansyah Fanata, biasa dipanggil Rio. Seoramg Giru Honorer di sebuah SMK di Bogor

Artikel ini dikirim oleh Mardiansyah Fanata, biasa dipanggil Rio. Seoramg Guru Honorer di sebuah SMK di Bogor

 

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR