Pergantian KSAL dan KSAU: Mungkinkah Berlanjut Pada Pergantian KSAD ?

Presiden Jokowi baru saja melantik Laksamana Madya Yudo Margono (AAL 1988) sebagai KSAL, dan Marsekal Madya Fajar Prasetyo (AAU 1988) sebagai KSAU, pada Rabu pagi (20/5). Promosi bagi keduanya terbilang cepat, mengingat mereka memperoleh bintang tiga belum lagi genap setahun, ketika keduanya menduduki posisi Pangkogabwilhan (Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan), pada September tahun lalu.

Benar, Kogabwilhan adalah satuan baru dalam struktur TNI, yang mengingatkan kita pada Kowilhan (Komando Wilayah Pertahanan) di masa Orde Baru dulu. Seperti halnya Kowilhan di masa lalu, yang panglimanya adalah pati bintang tiga, demikian juga dengan Kogabwilhan sekarang. Dan sungguh tidak disangka, dua Pangkogabwilhan pertama tersebut, kini sudah dipromosikan lagi untuk menjadi orang nomor satu di matra masing-masing. Kini keduanya berhak menyandang pangkat empat bintang di pundak.

Ada beberapa pengamat dan politisi yang memperkirakan KSAL (baru) Yudo Margono akan menjadi kandidat Panglima TNI, berdasarkan prinsip bergiliran (rotasi). Bila semangat rotasi dijalankan, Panglima TNI berikutnya (seharusnya) memang jatuh pada KSAL. Namun semangat rotasi ini sejatinya tidak ada basis regulasinya, hal itu sebatas komitmen di antara pimpinan tiga matra di masa awal reformasi, yang pada kenyataanya tidak berjalan sepenuhnya, mengingat Panglima TNI umumnya atau lebih sering berasal dari KSAD.

Panglima TNI adalah jabatan politis, bisa saja prinsip rotasi hanyalah satu opsi, artinya Presiden Jokowi tidak harus menjalankan prinsip rotasi tersebut, dan Jokowi memilih Andika Perkasa (KSAD, Akmil 1987) misalnya, sebagai Panglima TNI. Saya kira, Andika tetap memiliki peluang sebagai Panglima TNI berikutnya, bersama KSAL Laksamana Yudo Margono.

Secara tradisional, posisi politik AD senantiasa lebih kuat dari AL dan AU. Dan lagi dari segi generasi, KSAU dan KSAL termasuk “muda”, tentu akan sulit mengendalikan jenderal-jenderal dari AD dari Akmil 1985 sampai Akmil 1987. Teka-teki siapa yang yang akan menjadi Panglima TNI berikutnya masih akan berlangsung sampai beberapa bulan ke depan.

Matra darat sendiri sudah bersiap-siap bila Andika akhirnya benar-benar dilantik sebagai Panglima TNI, dengan menyiapkan Letjen Herindra (lulusan terbaik Akmil 1987, kini Irjen TNI). Bila Herindra kelak menjadi KSAD, seolah Herindra mendapatkan kembali apa yang menjadi haknya. Meskipun nanti hanya menjabat KSAD sekitar setahun, itu bukanlah masalah, yang lebih penting dicatat, Herindra sudah memperoleh posisi yang memang menjadi hak dia.

Sekitar setahun lalu nama Letjen Joni Supriyanto (Akmil 1986, Kasum TNI) sempat muncul sebagai kandidat KSAD, menggantikan Andika. Namun melihat perkembangan, ketika Kepala Staf lain (termasuk Kapolri) sudah diisi perwira dari Angkatan 1988, apa mungkin Joni masih berpeluang? Bila Joni tetap naik, alih generasi di matra darat terkesan mandeg, tidak seperti di matra lain.

Alih generasi adalah isu yang krusial di TNI, khususnya di matra darat, yang jumlah perwiranya jauh lebih banyak ketimbang matra laut dan udara. Dalam mutasi besar baru-baru ini, yang melibatkan sekitar 400 perwira, sekitar 300 di antaranya adalah perwira dari AD. Kemudian bila kita telisik sejumlah nama perwira tersebut, ada beberapa di antaranya masih berasal dari generasi senior, yakni Akmil 1985 dan Akmil 1986, sementara kini tren Kepala Staf (termasuk Kapolri) adalah Angkatan 1988.

Di matra udara, masih juga terdapat nama senior, yakni Marsekal Madya Kisenda Wiranatakususmah (AAU 1986, Kepala Bais TNI), yang segenerasi dengan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan KSAU sebelumnya (Marsekal Yuyu Sutisna). Artinya pada setiap matra selalu ada problem penumpukan perwira senior, utamanya di matra darat.

Namun sejauh yang saya amati, belum terlihat figur kuat yang muncul dari Akmil 1988. Salah satu indikasi pemunculan figur adalah berdasarkan pangkat, belum ada Akmil 1988 yang telah menyandang bintang tiga (letjen). Justru di Akmil 1989 sudah ada, meskipun belum resmi, yaitu Mayjen Eko Margiyono (kini Pangdam Jaya) yang sedang bersiap menjadi Pangkostrad. Tetapi apa mungkin Akmil 1988 bakal terlewat dari posisi KSAD, mengingat perwira dari generasi ini jumlahnya sangat besar, merupakan gabungan dari dua angkatan, yakni Akmil 1988A dan Akmil 1988B.

 

Penulis : Aris Santoso, sejak lama dikenal sebagai pengamat militer (khususnya TNI AD). Kini bekerja sebagai editor buku paruh waktu
Penulis : Aris Santoso, sejak lama dikenal sebagai pengamat militer (khususnya TNI AD). Kini bekerja sebagai editor buku paruh waktu

Penulis : Aris Santoso, dikenal sebagai pengamat militer, terutama TNI AD, yg saat ini bekerja sebagai editor buku paruh waktu

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR