Periode Singkat Soedirman dan Oerip Soemohardjo

Foto Oerip Soemoharjo (Wikipedia)

Dari segi durasi, kepemimpinan Soedirman dan Oerip Soemohardjo di awal republik terbilang singkat, kurang dari tiga tahun. Namun justru karena itu, figur mereka menjadi abadi. Menjadikan mereka tidak sempat terpapar ideologi kekuasaan, sebagaimana elite TNI generasi berikutnya.

Sebagaimana kita tahu, tak lama setelah keduanya berpulang, kelompok militer sudah melakukan eksperimen politik (praktis) melalui Peristiwa 17 Oktober (1952), yang dianggap tonggak keterlibatan militer di ranah politisi sipil.

Setiap kombinasi pimpinan TNI adalah unik, biasa disebut sebagai eenmalig (sekali saja). Benar, setiap periode selalu memiliki ciri tersendiri. Tentu kombinasi antara Soedirman (selaku Panglima Besar) dan Oerip Soemohardjo (selaku Kepala Staf Umum) meninggalkan kesan teramat dalam, mengingat mereka memimpin TNI pada episode yang paling krusial dalam sejarah Indonesia modern.

Keduanya saling melengkapi, tanpa harus menafikan karakter masing-masing. Secara kebetulan pula, antara Soedirman dan Oerip memiliki ikatan kultural terkait tradisi militer, yang menjadikan keduanya bisa cepat saling menyesuaikan diri. Soedirman dari Banyumas, sementara Oerip dari Purworejo, dua kawasan yang sejak lama dikenal sebagai pusat rekrutmen bagi anggota KNIL (Tentara Kerajaan Hindia-Belanda).

Posisi Kepala Staf Umum

Salah satu bagian paling menarik dari pasangan Soedirman dan Oerip, adalah bagaimana persepsi publik terhadap keduanya, benar-benar kontras. Oerip praktis kurang dikenal. Gambaran itu bisa kita saksikan di ibukota negara (Jakarta), ketika nama Jalan Oerip Soemohardjo hanyalah sebuah jalan kecil tak jauh dari Pasar Mester, Jatinegara. Sama sekali tak sebanding dengan Jalan Soedirman, di kawasan yang sejak awal merupakan episentrum sektor jasa dan bisnis di Jakarta.

Penempatan Jalan Oerip di sebuah sudut sempit di timur Jakarta, bahkan warga Jakarta pun banyak yang tidak mengetahui keberadaan jalan itu, adalah simbolisasi paling pas bagi karakter Jenderal Oerip, yang cenderung pendiam, dan tidak suka menonjolkan diri. Kita sama sekali tak pernah tahu kapan Oerip berpidato, apalagi mendapati pidatonya dicatat sebagai peristiwa bersejarah.Terkait posisinya di TNI, saya belum pernah menemukan teks yang menyebutkan, kapan Oerip meletakkan jabatan secara formal selaku Kepala Staf Umum (Kasum), dan kemudian posisi itu diserahkan pada siapa.

Informasi seputar itu boleh dikata sangat sumir, mirip perjalanan hidup Oerip sendiri, yang masih diliputi kabut misteri. Salah satu teks yang pernah saya temukan ada pada buku Mengenal Pimpinan ABRI 1945-1990 (terbitan Mabes ABRI, 1990), yang sedikit memberi informasi soal periode kepemimpinan Oerip. Rupanya jabatan
Kasum itu tidak diberikan kepada siapa-siapa, setelah Oerip pensiun. Jabatan Kasum Markas Besar dihapus. Yang muncul kemudian adalah jabatan Wakil Panglima Besar, yang dijabat oleh AH Nasution, sementara posisi Sudirman selaku Panglima Besar tetap tidak tergantikan.

Sekadar tafsir bisa diajukan di sini. Dalam level pimpinan TNI, hanya ada dua jabatan yang mapan dari masa ke masa, yaitu Panglima TNI (termasuk Panglima Besar) dan kepala staf angkatan, di luar posisi ini, bisa muncul atau “hilang” sementara. Kira-kira fenomena seperti itulah yang menimpa Oerip. Mengingat otoritas sipil enggan untuk menggeser Oerip secara terbuka, mengingat figur dan perannya yang demikian besar, maka jalan tengah yang dipilih adalah dengan meniadakan posisi Kasum.

Untuk mendampingi Soedirman sebagai orang kedua di Markas Besar, dibentuklah posisi baru yang disebut Wakil Panglima Besar. Dengan demikian jabatan Nasution menjadi rangkap, yaitu Wakil Panglima Besar dan Komandan MBKD (Markas Besar Komando Djawa), dengan pangkat jenderal mayor (setara brigjen sekarang).

Periode singkat

Kebersamaan Soedirman dan Oerip memang tidak lama. Oerip sudah menjadi Kasum Mabes TKR (Tentara Keamanan Rakyat, nama terdahulu TNI) sejak awal kemerdekaan. Dalam posisi sebagai Kasum TKR inilah, Oerip memfasilitasi pemilihan Panglima Besar pada Desember 1945, sehingga muncul nama Sudirman. Pada awal tahun 1948, Oerip sudah meletakkan jabatan sebagai Kasum TNI, jadi secara efektif kebersamaan mereka hanya dua tahun.

Namun kebersamaan mereka yang relatif singkat, meninggalkan jejak yang teramat dalam, itulah fase paling bergelora bagi republik yang baru saja berdiri. Masalahnya berpangkal pada perbedaan strategi dalam melawan Belanda, antara pendekatan diplomasi atau dengan cara militer. Pendekatan diplomasi dipersonifikasikan melalui dua tokoh yang kebetulan sempat menjadi Perdana Menteri, masing-masing Sutan Sjahrir dan Amir Sjarifudin.

Pada masa-masa pelik ini, Soedirman sempat bersepakat dengan kelompok Persatuan Perjuangan (pimpinan Tan Malaka), yang juga memiliki aspirasi pendekatan militer dalam menghadapi Belanda. Berkat kedekatan dengan kelompok PP inilah, hingga kemudian memunculkan salah satu frasa Soedirman yang paling terkenal: “lebih baik bagi kita diatom daripada merdeka kurang dari 100 persen.”

Dalam konflik berkepanjangan seperti itu, Oerip tetap fokus membenahi pasukan, terutama negosiasi dengan pasukan paramiliter, yakni sejumlah laskar perjuangan, yang jumlah personelnya seolah tak terbatas. Sementara Oerip sendiri, sebagai perwira produk sebuah akademi (Akademi Militer KNIL), menginginkan pasukan TNI yang (dalam istilah sekarang) efektif dan efisien. Lebih ideal bagi TNI, dengan jumlah personel terbatas, namun memiliki kompetensi dalam operasi militer, kira-kira begitu visi yang ada pada Oerip.

Dalam situasi penuh tekanan tersebut, baik Soedirman dan Oerip sudah beberapa kali mengajukan pengunduran diri dari jabatan pimpinan, baik secara bersamaan maupun sendiri-sendiri. Bagi otoritas sipil, dalam hal ini Sukarno dan Hatta, tentu dirasa lebih mudah melepas seorang Oerip ketimbang Soedirman, yang sudah tampil sebagai bapak spiritual dan simbol pemersatu TNI.

Figur Oerip memang tidak sekuat Soedirman. Dari segi usia pun Oerip (kelahiran 1893) terhitung sudah sangat senior dibanding rata-rata elite sipil dan militer kala itu. Banyak pihak mengingat bahwa Oerip mengalami tekanan batin yang sangat berat hingga kematiannya pada pertengahan November 1948 dalam status sebagai pensiunan Kasum. Oerip meninggal sekitar sebulan sebelum pasukan payung tentara Belanda menyerbu Yogyakarta dalam pertempuran berlarut yang kemudian dikenal sebagai Agresi Militer II.

Penulis : Aris Santoso, sejak lama dikenal sebagai pengamat militer (khususnya TNI AD). Kini bekerja sebagai editor buku paruh waktu
Penulis : Aris Santoso, sejak lama dikenal sebagai pengamat militer (khususnya TNI AD). Kini bekerja sebagai editor buku paruh waktu
BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR