Perteguh Konsensus Nasional, GP Ansor Gelar Kirab Satu Negeri

Upacara Pelepasan Kirab Satu Negeri Gerakan Pemuda Ansor di Nunukan, Minggu (16/9/2018). Foto Eddy Santry

Ratusan masa dari berbagai elemen masyarakat dan organisasi kepemudaan serta Mahasiswa melakukan upacara pelepasan Kirab Satu Negeri Gerakan Pemuda Ansor yang digelar di pelataran Tugu Dwikora, Nunukan, Kalimantan Utara, Minggu (16/9/2018). Nunukan merupakan salah satu wilayah yang dipilih oleh PP GP Ansor sebagai salah satu titik awal kirab selain daerah lainya.

Dilepas secara resmi oleh Pengurus Pusat GP Ansor, para peserta kirab selanjutnya akan menuju ke Tarakan, Tanjung Selor, Berau, Samarinda hingga Banjarmasin dan berahir di Yogyakarta.

Agus Salim, ketua panitia dari perhelatan itu menuturkan bahwa alasan dari dihelatnya Kirab Satu Negeri adalah karena keprihatinan GP Ansor terhadap upaya dari pihak-pihak tertentu yang berpotensi menggerus nasionalisme.

“Munculnya pihak-pihak baik sembunyi maupun terang-terangan yang berkeinginan merubah Pancasila dengan ideologi mereka, patut diwaspadai. Dan dengan kirab ini kami harap akan memotivasi semakin bulatnya tekat semua elemen bangsa dalam rasa nasionalisme,” ujar Agus.

Lebih lanjut Agus mengungkapkan, terpilihnya Nunukan sebagai salah satu zona keberangkatan 17 peserta Kirab, disamping Nunukan sebagai salah satu wilayah Perbatasan RI dengan Sabah-Malaysia, juga untuk mengenang kembali patriotisme dari para pejuang Dwikora saat konfroasi antara RI dengan Malaysia pada kurun waktu 1962 hingga awal 1965.

Upacara Pelepasan Kirab Satu Negeri Gerakan Pemuda Ansor di Nunukan
Upacara Pelepasan Kirab Satu Negeri Gerakan Pemuda Ansor di Nunukan

“Disamping aktualisasi nasionalisme di tapal batas, terpilihnya Nunukan sebagai salah satu zona keberangkatan agar bangsa Indonesia dapat mengambil hikmah dari perjuangan di Perbatasan ini saat konfrotasi,” paparnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua KNPI Kabupaten Nunukan Tamara Moriska mengapresiasi langkah yang dilakukan GP Ansor sebagai salah satu upaya dalam membedung potensi disintegrasi. Menurut Tamara, saat ini bangsa Indonesia tengah dilanda ujian terkait komitmen bangsa terhadap Pancasila.

“Mudahnya bangsa ini sekarang masuk dalam kubangan saling hujat, saling caci dan saling merendahkan pihak lain seharusnya menjadi keprihatinan bersama. Dan GP Ansor lewat Kirab Satu Negeri adalah salah satu dari cara mengajak semua elemen untuk kembali pada jati diri bangsa Indonesia diantaranya sikap arif dan penuh kebijaksanaan,” katanya.

Terkait potensi melunturnya nafas kebangsaan dalam kehidupan sekarang ini, Tamara menegaskan bahwa selagi semua komponen masih menempatkan Pancasila sebagai azas dalam bersikap, maka tak kan ada disintegrasi bangsa.

“Semua pondasi sebenarnya sudah terpapar gamblang melalui Pancasila. Tentang kita ini adlh makhkuk yg ber Tuhan, berkemanusiaan, berkeadilan, bergotong royong dan saling hormat agar keadilan sosial dapat terwujud,” papar Tamara.

Pelepasan Kirab Satu Negeri GP Ansor di Nunukan

Sementara itu Anggota DPRD Kabupaten Nunukan Andi Mutamir berharap acara-acara bernuansa kebangsaan terus diadakan walau oleh organisasi dan tema yang berbeda. Andi punya penilaian bahwa konflik horizontal di Indonesia terutama didaerah Perbatasan seperti api dalam sekam yang setiap waktu bisa menyala. Sehingga ,menurut Andi, perlu kepedulian semua pihak yang masih mencintai NKRI untuk bersama-sama memperteguh persatuan dan kesatuan.

Apalagi memasuki tahun politik yakni penyelenggaraan Pilpres dan Pileg 2019, menurut Andi tak menutup kemungkinan pesta demokrasi yang seharusnya menggembirakan justru menjadi ajang ketakutan karena maraknya saling hina bahkan saling bersitegang antar konstituent.

“Untuk itu, semua anak bangsa tak terkecuali yang berada di Perbatasan harus menyadari hal ini. Karena bisa saja saat Pemilu nanti ada pihak-pihak yang menunggangi pesta demokrasi untuk tujuan lainya,” ujar Andi.

Selain itu, menurut Andi,maraknya ujaran kebencian,hoax dan tutur kata serta sikap profokatif bukanlah spontanitas nanum memang secara sistematis dilakukan pihak tertentu yang menghendaki terjadinya ketegangan hingga kekisruhan. Karena Andi berkeyakinan bahwa hoax dan ujaran kebencian bukanlah budaya bangsa Indonesia.

“Budaya bangsa Indonesia itu adalah saling asah, asih, asuh dan saling hormat menghormati. Disamping itu, budaya Indonesia juga mampu menjaga kebhinekaan sebagaimana yang terjadi pagi ini, walau dari latar belakang yang berbeda, namun saling berbaur dalam satu misi yakni bersama menjaga kedaulatan NKRI,” pungkas Politisi PPP tersebut.

Terkait Kirab Satu Negeri yang diinisiasi GP Ansor, hari ini dimulai secara serentak di 5 wilayah perbatasan RI dengan negara tetangga. Para peserta kirab dengan membawa 17 bendera merah putih akan melakukan long march secara estavet menuju Yogyakarta sebagai titik ahir Kirab.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR