PERTUMBUHAN ASIA PASIFIK TURUN, TAPI TETAP UNGGUL

JAKARTA – Meskipun pertumbuhan ekonomi Asia sedang menurun, pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Pasifik akan terus mengungguli perekonomian global. Demikian menurut Regional Economic Outlook Update: Asia and Pacific, IMF (Oktober 2015).

“Konsumsi domestik, didukung dengan pasar tenaga kerja yang kuat dan harga energi yang lebih rendah, akan menjadi pendorong utama pertumbuhan, dan pemulihan di negara maju akan memberikan dorongan selanjutnya,” demikian kata Changyoog Rhee, Direktur IMF untuk kawasan Asia Pasifik.

Laporan ini juga mencatat bahwa petumbuhan itu akan menurun sedikit menjadi 5,4% di tahun 2015-2016. sejalan dengan perkembangan global. Selain itu, dampak negative dari pertumbuhan Cina ke seluruh kawasan ini mungkin lebih besar daripada yang perkiraan sebelumnya. Perekonomian negara Tembok Besar itu akan terus melakukan penyeimbangan kembali ke arah konsumsi domesik dan diperkirakan akan tumbuh sebesar 6,3 persen pada 2016.

Sementara itu, Pertumbuhan di negara-negara ekonomi utama ASEAN diperkirakan akan menurunpada tahun 2015-16, yang disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk harga komoditas yang lebih rendah (Indonesia dan Malaysia), ketidakpastian politik (Malaysia), dan pertumbuhan yang melemah di Cina. Harga komoditas yang lebih rendah mengindikasikan adanya resiko penurunan lainnya dengan implikasi yang merugikan bagi investasi perusahaan dalam sektor-sektorutama yang memproduksi komoditas, demikian menurut para penulis laporan tersebut.

Sumber: IMF, World Economic Outlook database; IMF Staff and Projections
Sumber: IMF, World Economic Outlook database; IMF Staff and Projections

Di sisi lain, gejolak pasar ekuitas baru-baru ini serta perubahan rezim nilai tukar diperkirakan tidak akan memberikan dampak yang signifikan dalam pertumbuhan jangka pendek. Namun, menurut Rehee, “kebijakan yang diperlukan untuk mengatasi kerentanan dan penyeimbangan kembali perekonomian,cenderung akan mengurangi pertumbuhan utama, sambil memastikan keberlanjutan (sustainability) dalam jangka menengah.”

“Tingkat hutang perekuitas (leverage) yang tinggi juga akan bisa mengakibatkan guncangan yang semakin parah, terutama jika suku bunga domestik melonjak saat kondisi keuangan global mengencang”,lanjut Rhee. Oleh karena itu, menurutnya, negara-negara Asia Pasifik harus mempertimbangkan kebijakan-kebijakan yang akomodatif dimana ada tersedia ruang kebijakan, namun kompromi harus tetap diutamakan. (np).

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR