Posong, Petilasan Laskar Diponegoro Yang Sangat Eksotik di Temanggung

Posong, tempat berburu matahati terbit dan samudera awan yang mempesona, juga menjadi tempat petilasan Laskar Diponegoro (Foto: Edy Santry)

Kabupaten Temanggung Jawa Tengah lebih dikenal sebagai penghasil tembakau, dan masih belum banyak yang tau bahwa Temanggung juga menyimpan keindahan alam yang yang memukau. Selain gunung kembar Sindoro dan Sumbing yang memang sudah lama menjadi tujuan para pecinta alam, ada satu tempat daerah pegunungan yang mempesona yang belum banyak diketahui wisatawan, yaitu wisata alam Posong. Selain indah, Posong dikenal sebagai tempat Petilasan Laskar Diponegoro.

Dengan suhu udara pegunungan yang sejuk dan terletak di belahan antara Gunung Sindoro dan Sumbing serta dikelilingi hamparan perkebunan tembakau milik para petani, membuat tempat ini sangat indah dipandang. Selain sebagai tempat untuk berburu golden sunrise (detik-detik matahati terbit) dan samudera awan yang mempesona, dari tempat ini kita juga bisa menatap puncak 7 (tujuh) gunung sekaligus yakni Gunung Sumbing, Merapi, Merbabu, Telomoyo, Andong, Ungaran dan Gunung Muria dengan Gunung Sindoro sebagai latar belakang tempat ini berada.

Keindahan lain juga disuguhkan ditempat ini adalah, jika cuaca dalam jeadaan cerah, kita akan dapat menyaksikan pemandangan milky way langit Kota Temanggung pada malam harinya. Dan untuk menikmatinya,kita bisa mendirikan bascame ditempat-tempat yang sudah disediakan oleh pengelola.

Saat ini, tempat wisata yang berada di Desa Tlahab, Kecamatan Kledung tersebut sudah tersedia beberapa gazebo untuk beristirahat. Dan jika haus dan lapar, kita tak perlu khawatir, karena disini sudah banyak berdiri bangunan yang menjajakan makanan serta minuman hingga dipastikan pengunjung akan betah berlama-lama ditempat ini.

Edi Santry-Wartawan IndeksBerita, di lokasi Wisata Alam Posong Temangung yang juga menjadi Petilasan Laskar Diponegoro
Edi Santry-Wartawan IndeksBerita, di lokasi Wisata Alam Posong Temangung yang juga menjadi Petilasan Laskar Diponegoro

Selain gazebo, terdapat juga fliying fox di sekitaran area wisata ini. Dengan fasilitas tersebut,pengunjung dapat menikmati sensasi meluncur di sejuknya udara pegunungan yang di hiasi dengan hijaunya pohon-pohon pinus serta hamparan tanah pertanian yang sangat indah.

Rute untuk mencapai tempat ini juga sangat mudah untuk ditemukan. Dari jalan raya Temanggung – Wonosobo, setelah memcapai Desa Tlahab, akan kita temukan Gapura bertuliskan “Posong” di kanan jalan atau jika kita dari Wonosobo, gapura tersebut berada dikiri jalan. Dari gapura kita akan melewati jalan trasah (batu yang ditata) dan 100 meter kemudian kita akan temui gardu loket.

Dengan membayar restribusi Rp. 7.000, kita dapat meneruskan perjalanan sekitar 10 km ke tempat wisata ini berada. Pengunjung tak perlu takut kecapekan karena akses jalan dapat dilewati kendaraan baik roda dua maupun kendaraan roda empat hingga ke tempat parkir yang juga berada di aera wisata. Dan dalam perjalananpun,pengunjung akan disuguhi pemandangan indah khas pegunungan dan ladang-ladang para petani yang nampak tertata sedemikian indah.

Tempat Petilasan Laskar Diponegoro

Selain menyajikan keindahan panorama alam yang mempesona, area wisata Posong juga menyimpan sejarah yang erat kaitanya dengan perjuangan para pahlawan melawan kolonilisme penjajah. Pasalnya area wisata di lereng gunung Sindoro tersebut pernah menjadi Pos pertahanan prajurit Pangeran Diponogoro saat melawan pasukan Belanda.

Posong Temanggung, Petilasan Laskar Diponegoro

Adalah Ki Surodipo, salah seorang sahabat dan pembantu Pangeran Diponegoro yang memimpin perlawanan rakyat di Parakan, Wonosobo, Temanggung dan sekitarnya sekitarnya sekitar tahun 1925-1930. Dalam perjuanganya, Ki Surodipo membuat pos-pos pertahanan sekaligus sebagai tempat mengatur strategi di sekitar lereng Gunung Sindoro.

Pasca meninggalnya Raden Sumodilogo (Bupati Menoreh yang berkedudukan di Parakan), melalui mata-mata yang disebarkan, pihak Belanda mengetahui keberadaan pos-pos tersebut dan berencana melakukan penangkapan. Namun rencana penyerangan militer Belanda tersebut diketahui oleh Ki Surodipo. Dan sebelum militer Belanda sampai di Parakan, ia membawa semua prajuritnya meninggalkan pos-pos tersebut.

Militer Belanda yang menemukan pos-pos pertahanan laskar Diponegoro telah kosong ahirnya membakar semua pos tersebut. Dan dari pos yang telah dibakar oleh tentara Belanda itu, oleh penduduk setempat disebut sebagai Pos Gosong atau “Posong”.

Sedangkan Ki Surodipo dan pengikutnya menyusuri lereng gunung Sindoro bagian utara dan berhenti di sekitar air terjun di Desa Trocoh dan tempat inilah Ki Surodipo membuat basis pertahanan baru dalam melawan kolonialisme Belanda. Dan untuk mengenang perjuangan Ki Surodipo dan pengikutnya, area lembah di sekitar Curuh Trocoh tersebut oleh masyarakat Temanggung disebut dengan nama Lembah Surodipo yang panorama keindahanya pernah diulas indeksberita.com beberapa waktu lalu.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR