Prabowo Kehilangan Kata-kata dan Greget

Oleh : Mohd. Inpiktus

Kalau kita lihat video pidato Prabowo barusan tentang hotel-hotel mewah di Jakarta, dan tentang orang-orang yang tidak sanggup memasukinya, terus terang, kita kasihan melihatnya. Kasihan melihat Prabowo mencoba memainkan lakon yang tidak bisa ia perankan.

Ia mencoba memerankan tokoh yang berpihak pada rakyat kecil. Ia bukan rakyat kecil. Ia tak pernah jadi rakyat kecil sepanjanv hidupnya. Alih-alih menunjukkan simpati, pidato itu tampak seperti ejekan kepada para pendengarnya: “kalian tak pernah masuk ke hotel mewah, kalian tak sanggup”. Kalau itu diucapkan oleh sesama rakyat kecil, itu akan jadi satire yang getir. Keluar dari mulut Prabowo, ucapan itu benar-benar menjadi ejekan yang merendahkan, menghilangkan nalar kemanusiaan dalam ambisinya menjadi presiden.

Bukan cuma bukan rakyat kecil. Prabowo jelas bukan orang yang peduli dan bisa berempati pada rakyat kecil. Ke mana-mana ia lebih sering naik pesawat pribadi. Kita tak akan menyaksikan dia duduk di kelas ekonomi. Maka pidato Prabowo yang mengomeli kemewahan itu adalah pidato yang mengomeli dirinya sendiri. Lantas, siapa yang sedang ia kritik dengan pidato itu? Di mata orang yang berakal, Prabowo tampak seperti orang yang sedang mandi air comberan di depan banyak orang. Prabowo sudah kehilangan kata-kata. Ini persia dia mengomeli emak-emak di Boyolali. Saya kasihan lihat Prabowo yang seperti sudah lama kehilangan touch dengan emak-emak dalam kehidupannya. Padahal mungkin maksud emak-emak baik, memperbincangkan kegantengan dan kejombloan Prabowo.

Belum lagi usaha-usahanya untuk melucu saat menyebut nama-nama hotel mewah seperti Ritz Carlton dst. Tidak tampak natural, juga tidak lucu. Itu banyolan konyol sekelas Tarsan Srimulat. Tidak punya greget dalam menarik simpatik rakyat. Padahal ini pilpres lho.

Prabowo tampak lelah, tak punya energi saat berpidato. Jangankan energi intelektual untuk berpikir menuangkan pidato cerdas, sekadar untuk berkata-kata pun ia sudah tampak lelah. Ia tak bisa berbohong pada usianya.

Kenapa sih masih memaksakan diri bertarung di Pilpres? Barangkali karena ingin mencatatkan rekor sejarah republik dan semoga Rekor Muri sebagai calon presiden yang paling banyak ikut Pilpres.

Begitulah sontoloyo-sontoloyo.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR