PROJO: 2019 Kedepankan Etika Dalam Berpolitik dan Rasa Persaudaraan

Ketua Umum DPP Projo, Budi Arie Setiadi

Akhir tahun biasa digunakan sebagian besar baik lembaga maupun perorangan untuk melakukan evaluasi atas setahun dalam menapaki perjalananya. Peristiwa dan tingkah laku tak jarang menjadi koreksi guna memperbaiki sikap dan untuk tahun kedepan. Dewan Pimpinan Pusat Pro Jokowi (PROJO) menilai tahun 2018 adalah warsa yang penuh ujian bagi perpolitikan bangsa Indonesia. Untuk itu PROJO berharap tahun depan etika dalam berpolitik dan rasa persaudaraan dikedepankan.

Euforia politik menjelang berlangsungnya Pesta Demokrasi seakan membuat sebagian anak bangsa lepas dari khitah kebangsaanya. Uajaran kebencian, hasutan, fitnah dan hoax menurut PROJO adalah sebuah kemunduran dari cita-cita demokrasi di Indonesia.

“Padahal cita-cita Demokrasi Pancasila adalah proses membangun peradaban. Namun yang kita lihat sekarang ini sangat jauh dari hal itu. Sekarang saya lihat, banyak yang berdiri dalam kebanggaanya saat menebarkan berita dusta, melontarkan fitnah dan hasutan serta ujaran kebencian,” ujar Ketua Umum PROJO , Budi Arie Setiadi kepada pewarta, Senin (31/12/2018).

Karena hal tersebut, Budi merasa prihatin apabila di penghujung tahun 2018 ini, tidak menjadi koreksi bersama. Demokrasi Pancasila, tandas Budi, mustahil akan terwujud apabila mereka yang sadar tentang etika dalam berpolitik tak memperdulikan atau bahkan turut serta menjadi pelaku pengkebirian demokrasi.

“Ini bukan tugas perorangan atau golongan, ini tugas suci kita semua sebagai anak-anak bangsa. Kita harus aktif untuk terus memproduksi gagasan dan program serta tindakan nyata yg berguna bagi kemajuan bangsa dan peningkatan kesejahteraan rakyat,” tandasnya.

Untuk itu Budi meminta agar segala prilaku dan tutur kata di tahun 2018 yang sarat dengan hal negatif terutama menuju Pemilu 2019, dapat dihilangkan di tahun 2019. Hakikat Pemilu menurut Budi adalah Pesta Rakyat yang penuh kegembiraan dan bukan hal yang menakutkan apalagi sampai menyebabkan lunturnya persaudaraan. Karena apabila sepanjang perpolitikan masih diwarnai saling hujat, saling hina antar sesama anak bangsa, maka negara yang baldatun thayibatun wa rabbun ghafur hanya angan belaka.

Budi juga meminta semua elit politik dapat menjadi suri tauladan yang baik bagi masyarakat. Menurut Budi, sebagian masyarakat masih gemar meniru dan menjadikan elit politik sebagai referensi tindakan keseharianya. Sehingga menurut mantan Aktivis Universitas Indonesia itu, elit politik mempunyai tanggung jawab lebih dibanding masyarakat awam terhadap arah perjalanan bangsa.

“Mari kita sama- sama menjaga proses politik di tahun 2019 dengan penuh optimisme , semangat persaudaraan dan penuh kegembiraan. Kita jadikan tahun 2019 sebagai tahun nya kemenangan rakyat,” pintanya

Budi juga mengingatkan, bencana alam yang melanda Indonesia dapat menjadi sarana instropeksi tentang betapa pentingnya sebuah persaudaraan. Solidaritas yang tak memandang latar belakang, seharusnya mampu di impelentasikan di kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia.

Terkait malam pergantian tahun, Budi meminta kepada semua pihak yang merayakanya dengan suka cita, agar menyisihkan kegembiraanya berupa simpati bagi para korban di lokasi bencana. Karena sejatinya sifat bansa Indonesia, menurut Budi, adalah peka terhadap penderitaan sesama dan responsif dalam sikap solidaritas.

“Saya atas nama pribadi dan Keluarga besar PROJO mengucapkan Selamat Tahun Baru 2019. Jika Sang Fajar menerbitkan terang , maka Sang Waktu akan menghadirkan harapan. Energi Rakyat adalah optimisme. Kepada sudara-saudaraku yang sedang mendapat ujian berupa bencana alam, semoga senantiasa diberi ketabahan dan yakinlah bahwa Tuhan tak kan menguji diluar kemampuan hambaNya,” pungkas Budi.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR