Protes Atas Dipindahkannya Kedubes AS ke Yerusalem, 52 Warga Palestina Tewas

Warga Palestina di Perbatasan Gaza Senin (14/5/2018) melakukan aksi protes atas dipindahkannya Kedubes AS ke Jerusalem. Protes yang berujung bentrokan tersebut telah menewaskan 52 warga Pakestina dan ribuan lainya luka-luka. (sumber foto: reuters)

Sedikitnya 52 warga Palestina tewas akibat bentrokan dengan tentara Israel di Perbatasan Gaza terkait protes atas dipindahkannya kedubes AS ke Yerusalem. Puluhan ribu demonstran Palestina dilaporkan membanjiri perbatasan Gaza – Israel sepanjang Senin 14 Mei waktu setempat. Bentrokan pun pecah di lima titik di sepanjang perbatasan Gaza dan Israel. Pengunjuk rasa, beberapa bersenjatakan ketapel, melemparkan batu ke pasukan keamanan Israel, yang melepaskan tembakan gas air mata dan rentetan tembakan.

Unjuk rasa tersebut digelar menjelang peringatan ‘Nakba’ atau ‘Malapetaka’ yang jatuh tanggal 15 Mei 1948, saat ratusan ribu warga Palestina terusir dari rumah mereka. Diperkirakan, aksi protes akan memuncak pada Selasa 15 Mei.

Pada saat yang sama berlangsung pesta pembukaan Kedutaan Besar AS di Yerusalem. Pesta tersebut dihadiri para pejabat AS, termasuk anak dan menantu Presiden Donald Trump, Ivanka dan Jared Kusher.

Pengakuan Trump atas Yerusalem yang diperebutkan sebagai ibu kota Israel pada Desember membuat marah rakyat Palestina, yang mengatakan Amerika Serikat tidak bisa lagi menjalankan perannya sebagai perantara yang jujur dalam proses perdamaian dengan Israel.

Palestina menginginkan Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara yang ingin mereka bangun di Tepi Barat yang diduduki dan Jalur Gaza. Sementara Israel menganggap semua kota, termasuk sektor timur yang direbutnya dalam perang Timur Tengah 1967 dan dianeksasi, sebagai “ibu kota abadi dan tak terpisahkan” dalam sebuah langkah yang belum memenangkan pengakuan internasional.

Demonstrasi di sepanjang perbatasan Gaza-Israel itu merupakan lanjutan dari rangkaian protes sejak 30 Maret, yang dilakukan untuk menuntut hak kembali jutaan warga Palestina yang terusir dari rumah-rumah mereka saat Israel mencaplok tanah Palestina dan berdiri pada 15 Mei 1948.

Kementerian Kesehatan Palestina merilis data baru korban akibat bentrokan mencapai 52 warga tewas dan 2.400 lainnya terluka. Pihak pemerintah Palestina menyebut bentrokan tersebut sebagai ‘pembantaian’.

“Pembantaian mengerikan tersebut dilakukan oleh tentara Israel yang melawan orang-orang heroik,” kata juru bicara Palestina Youssef Mahmoud seperti dilansir dari Reuters.

Sementara militer Israel menyebut tiga demonstran di antaranya yang tewas sebagai militan bersenjata, yang berusaha memasang peledak di dekat pagar perbatasan di Gaza bagian selatan. Personelnya akan mempertahankan perbatasan dan melepas tembakan untuk menghentikan serangan, jika ada perusakan pagar perbatasan dan upaya penyusupan.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR