PT Etmieco Sesalkan Kebijakan Bank BRI Wilayah Sultenggo

Gilbert Makanoneng Humas Etmieco Makmur Abadi menyesalkan kebijakan Bank BRI wilayah Sultenggo yang mempersulit penyaluran keredit bidang Perikanan

Jakarta  – Kebijakan Pemerintah Jokowi untuk melindungi para pelaku usaha dan memberikan kemudahan kredit modal pera pelaku usaaha nampaknya tidak direspon serius oleh lembaga keuangan ataupun perbankan.  PT Etmieco Makmur Abadi yang beralamat di Bitung Sulawesi Utara melalui Humasnya, Gibert Makanoneng pada wartawan di Jakarta mengatakan dirinya kecewa dengan pernyataan pihak Kanwil BRI Wilayah Sultenggo (Sulawesi Utara Tengah dan Gorontalo) yang menyatakan bahwa moratorium yang diberlakukan oleh Kementrian Kelautan dan perikan murni kesalahan para pelaku usaha perikanan sehingga para pelaku usaha perikan tidak lagi mendapat fasilitas kredit dari Bank BRI.

Gilbert menambahkan bahwa perusahaannya selama ini merupakan nasabah prime Bank BRI namun karena kebijakan Bank Plat Merah tersebut akhirnya PT. Etmieco tidak lagi bisa menambah modal usaha untuk mengembangkan usaha perikanan.

“Perusahaan kami inikan nasbah prime BRI tapi kenapa kami minta nambah modal aja susah kalo memang BRI takut kreditnya macet bisa kok BRI langsung pailitkan kami, nah inikan usaha kami baik-baik saja cuma karena kami ada musibah aja kami minta modal tambahan, jangan BRI melempar keslahan pada kementrian KKP,” tegas Gilbert.

Gilbert menerangkan bahwa perusahaannya  pada 23 Feruari dan 7 April 2017 lalu mengalami musibah berupa tenggelamnya dua kapal milik PT Etmieco oleh karena itu sudah seharusnya pihak BRI membantu perusahaannya.

“Pada Februari dan April lalu dua kapal kami tenggelam akhirnya berinisitif mengajukan tambabahan modal ke BRI sekitar 5 – 10 milyar karena pagu kami pada 2017 di BRI sebesar 50 Milyar tapi saat ini malah diturunkan ke angka 30 Milyar,” keluh Gilbert yang juga ketua bidang Jaringan Pendamping Kebijaoan Pembangunan (JPKP) yang notabene relawan Jokowi.

Gilbert menuturkan kebijakan penurunan pagu oleh kanwil BRI Sulutengggo terhadap pagu kredit perusaahaannya diakibatkan dirinya mengadukan persoalan tersebut ke pihak Otorita Jasa Keuangan (OJK).

“Kami  ngajuin kredit usaha sekitat 5 – 10 milyar karena memang pagu kami memenuhi kwalifikasi tapi aneh bukannya pengajuan kredit kami disetujui malah pagu kami diturunkan oleh kanwil BRI, apa karena kami mengadukan mereka ke OJK. kalopun iyakan itu hak kami selaku nasabah yang merasa ada kejabggalan atas kebijakan BRI tersebut,” terang Gilbert.

Gilbert juga menyangkan sikap OJK yang tidak merespon aduan perusahaannya. “Ini OJK juga tidak ada respon terhadap pengaduan kami apa karena BRI merupakan bang pemerintah,” tutup Gilbert

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR