Puisi Kebangsaan, Memukau Ribuan Penonton Iraw Tidung Borneo Bersatu 2020

Penampilan siswa SMK Negeri Nunukan yang mampu memukau ribuan penonton Iraw Tidung Borneo Bersatu 2020

Sebuah Puisi yang dibawakan salah satu peserta Iraw Tidung Borneo Bersatu 2020 serasa mampu menghipnotis ribuan masyarakat yang memadati Baloi ( rumah adat Tidung) di Desa Binusan, Nunukan, Kalimantan Utara ( Kaltara). Puisi yang dibaca oleh salah satu siswi SMK Negeri Nunukan tersebut memang tak panjang, namun dalam setiap kata – kata yang diucapkannya terasa mampu mengajak semua yang ada ditempat itu masuk kedalamnya.

Penambahan koreografi yang apik menambah suasana magis dalam setiap seruan dari Puisi yang dikarang sastrawan perbatasan Bambang Setiawan tersebut. Ribuan aplaus dan tepuk tangan dari semua yang hadir menandakan pengakuan kesempurnaan atas penampilan Arni dan teman – temanya itu.

Saat ditanya perihal puisinya, Arni mengungkapkan bahwa selain hoby, ia ingin mengajak masyarakat Indonesia terutama di Perbatasan agar kembali kepada jati diri bangsa yakni Indonesia yang berkepribadian. Arni menilai, kendati saat ini bukan zaman peperangan, namun sejatinya penjajahan masih terjadi.

“Budaya asing bahkan semakin menggerus kebangsaan kita. Melalui puisi ini, kami bukan hanya ingin sekedar tampil, tapi marilah kita sadar bahwa tak jarang budaya asing itu justru berpotensi memecah belah persatuan,” ujar Arni, Jumat (13/3/2020).

Lebih lanjut Arni menuturkan, banyak warisan nenek moyang yang saat ini justru ditingallan yakni budaya dan seni. Padahal menurutnya, dengan seni sesungguhnya persatuan dan kesatuan nasional dapat direkatkan terlebih untuk masyarakat yang berdomisili di wilayah Petbatasan.

Sayang sekali, ungkap Arni, generasi muda justru cenderung abai dan terkesan acuh pada budaya negri sendiri. Hal tersebut menurut Arni apabila tak dibangkitkan kesadarannya, maka sangat pasti nasionalisme akan tipis bahkan raib dalam diri generasi muda.

“Untuk itulah, puisi yang kami bawakan itu semoga mampu mengetuk sanubari kebangsaan kita semua,. Memang puisi tersebut berkesan kedaerahan, tapi apabila dicermati, akan mengandung pesan universal,” tandasnya.

Adapun Puisi berjudul Tidung Dalam Satu Tekat yang dibawakan Arni dan teman – temanya tersebut sebagai berikut :

Aku… Bukan anak dari zaman lampau
Aku bukan anak dari zaman penjajahan
Aku…hanyalah pembaca tentangnya
Sementara aku tak mendapat kan apa – apa darinya
Selain dari pusaka – pusaka yang dibawa oleh mangku bumi saat ini

Ya… sebuah peradaban yang terkikis oleh zaman
Kemana kalian wahai para petuah – petuahku ?
Bangkitlah, satukan tekat dalam jiwa kebersamaan
Karena kita satu .. satu darah
Darah Leluhur Tidung yang beradat

Jangan pernah ada permusuhan
Junjung tinggilah jiwa per persaudaraan
Ini bangsa kita..
Ini negeri kita…
Ini kebudayaan kita

Wahai Saudaraku…
Beri kami janji untukku
Beri satu keyakinan untukku
Meski kita beragam dalam bahtera negeri
Tidung tetap satu tekat
Menuju peradaban dunia
Ompong delunas insuai
(Gundah gulana hati bila bercerai berai)

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR