PUTING: Prabowo untuk Indonesia Hilang (2030)

Tri Agus S Siswowiharjo, akrab dipanggil TASS, penulis, penyuka humor dan dosen di STPMD/APMD Yogyakarta

Fadli Zon, Wakil Ketua Umum Gerindra, mengatakan Indonesia butuh pemimpin seperti Presiden Rusia Vladimir Putin, yang dinilainya sebagai sosok cerdas, tidak planga plongo, dan enggan berhutang banyak. Sebagian sifat Putin itu ada pada diri Prabowo Subianto. Namun Indonesia butuh pemimpin seperti Putin versi positif. Yang jelek-jelek dari diri Putin, rakyat sama sekali tidak membutuhkannya. Prabowo seperti Putin versi positif.

Fadli kembali berkicau lewat akun twitternya soal Indonesia butuh Putin tersebut. Menurut dia, Putin bisa dimaknai untuk Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto. Putin menurutnya bisa disingkat Prabowo untuk Indonesia. “PUTIN bisa jg singkatan dr PRABOWO UNTUK INDONESIA (PUTIN). Insya Allah bawa kebangkitan RI bukan kebangkrutan,” kicau Fadli, Sabtu (31/3).

Cuitan Fadli kemudian mendapat tanggapan dari warganet. Melalui Facebook, Twitter dan media sosial lainnya netizen mengritisi Fadli. Di antaranya mengapa partai yang sering mengritik pemerintah sebagai antek asing dan aseng justru oposisi merindukan pemimpin asing seperti Putin? Partai yang selalu mengritik pemerintah lainnya juga menggadang-gadang pemimpin asing. PKS mengidolakan Erdogan dari Tuki sementara PAN mengidolakan Lee Kuan Yew dari negara tetangga Singapura.

Sebenarnya tak ada yang salah suatu partai mengidolakan pemimpin asing. Hanya saja tampak tak konsisten. Mari kita lihat bagaimana warganet menanggapi Fadli terkait Putin.

Seorang pemilik akun Facebook menulis “Gara2 KPU larang gambar Soekarno, Soeharto, Habibie & Gus Dur, idola pindah ke Putin, Erdogan & Lee Kuan Yew” Masih pemilik akun yang sama, ia juga menulis, “Macan Asia eh cuma micin Asia. Soekarno kecil eh cuma bajunya. Putin? Prahara untuk Indonesia?”

Sebuah akun lainnya mengunggah tiga buah foto, Putin, Erdodan dan Lee Kuan Yew. Gambar tiga tokoh itu disertai tulisan: “Ada kesamaan dari tiga tokoh ini. Mereka menjalankan demokrasi semu. Oposisi dan pers ditindas. Di Rusia Putin adalah demokrasi itu sendiri. Ia bahkan menjadi ancaman bagi negara tetangga. Ukrine? No, Mykrine. Di Turki sejumlah oposisi dan kaum intelektual dijebloskan ke penjara. Di Singapura nyaris tak ada oposisi. People Action Party (PAP) terlalu dominan. Pers dan aktivis HAM tiarap karena UU ISA (Internal Security Act) yang “kejam”.

Sebuah cuitan yang singkat di twitter datang dari pemilik akun yang suka plesetan. Begini plesetannya: “VLADIMIR PUTIN. PRABOWO PUTOUT.”
Umumnya para warganet mengritik Prabowo yang kini mulai turun gunung menyambut Pilkada 2018. Ada yang menyindir bukan turun gunung tapi turun kelas. Hal ini terkait pernyataan-pernyataan Prabowo yang kurang bermutu. Dari soal Indonesia Bubar 2030, sampai menuduh elit Jakarta yang bermental maling. Elit Jakarta siapa? Paling elit di Jakarta itu ya Anies Baswedan dan Sandiaga Uno he he he.

Terkait Indonesia bubar pada tahun 2030, banyak yang menganggap ini sebuah pernyataan pemimpin yang tak optimis. Tidak memberikan harapan. Namun ada juga yang mengatakan Indonesia bubar 2030 artinya semua nanti dikendalikan oleh asing. Kita tak menjadi tuan di negara sendiri. Karena itu ada sebuah status Facebook: “Setya Novanto dituntut 16 th penjara. Jika vonis sama, maka saat SN selesai jalani hukuman RI sudah bubar”.

Warganet juga ada yang mengusulkan agar Komisi Pemilihan Umum (KPU) membuat aturan baru misalnya ada debat calon presiden dalam bahasa Inggris, ada juga yang mengusulkan adu membaca Alquran. Terkait hal ini sebuah status Facebook yang juga ada di twitter menulis tajam: “Mereka yg usul debat capres dlm bhs Inggris sama noraknya dgn yg usul adu baca Alquran antar capres.”

Masih dari pemilik akun yang sama, ia menulis: “Test paling penting bagi capres 2019 bukan bhs Inggris atau baca Quran tapi test kesehatan jiwa”.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR