PVMBG Ungkap Longornya Tanah di Kaltara Bukan Likuefaksi

Keterangan foto: tanah yang mengalami longsor di Kaltara.

Peristiwa longsornya tanah di wilayah beroperasinya PT Pipit Mutiara Jaya (IUP PMDN) site Bebatu, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara pada 29 Oktober 2019 lalu banyak menimbulkan tanda tanya. Tak sedikit pihak yang mengatakan peristiwa tersebut sebagai likuefaksi atau pencairan tanah.

Menanggapi hal tersebut, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui keterangan tertulisnya yang menjelaskan penyebab dari bergesernya tanah yang terjadi sekitar pukul 18: 15 WITA itu. Menurut Kepala PVMBG Kasbani, jenis gerakan tanah yang terjadi di kawasan tersebut berupa longsoran aliran (flow slide) yang terjadi pada tanah galian hasil tambang.

“Secara umum merupakan bagian dari Pulau Bangkudulis besar dengan morfologi berupa dataran dan rawa dari delta sungai Sesayap. Elevasi berada pada kisaran 5-30 mpdl,” tuturnya, Senin (4/11/2019).

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Tarakan dan Sebatik (Hidayat dkk., 1995), ungkap Kasbani, daerah bencana tersusun oleh Aluvium (Qa) yang terdiri dari lumpur, lanau, pasir, kerikil dan koral, endapan pantai, sungai, dan rawa.

Sedangkan berdasarkan Peta Prakiraan Gerakan Tanah Provinsi Kalimantan Utara, daerah bencana termasuk dalam potensi terjadi gerakan tanah menengah.

“Artinya daerah yang mempunyai potensi menengah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan,” papar Kasbani.

Gerakan tanah , lanjut Kasbani, sebelumnya pernah terjadi akan tetapi longsor yang terjadi kali ini merupakan yang terparah. Menurutnya, faktor penyebab terjadinya gerakan tanah dan banjir bandang diperkirakan karena kondisi tanah galian hasil tambang yang bersifat keropos dan lepas.

Selain itu, jelas dia, lokasi bencana merupakan tempat pembuangan lumpur. Pengaruh dari lumpur dan air pada tempat disposal (pembuangan lumpur) yang membuat tanah galian di sekitarnya menjadi jenuh air dan kehilangan daya dukung tanahnya sehingga longsor.

Terdapat pula aktivitas penambangan yang kurang memperhatikan hasil tanah galian bekas tambang.

“Bencana geologi yang terjadi adalah gerakan tanah yaitu longsoran yang berkembang menjadi aliran bahan rombakan akibat aktivitas penambangan dan bukan likuefaksi,” tandasnya

Untuk itu PVMBG mengeluarkan sejumlah rekomendasi, di antaranya, masyarakat atau pekerja tambang yang beraktivitas di sekitar lokasi kejadian agar waspada terhadap potensi longsor susulan.

Selain itu direkomendasikan dilakukan penataan area tambang pada daerah disposal terutama untuk drainase dan pembuangan lumpur agar tanah tidak jenuh. PVMBG juga meminta agar dipasang rambu-rambu peringatan dan garis polisi agar tidak ada yang masuk ke lokasi kejadian.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR