Reboisasi Mangrove Ditargetkan Sebagai Ekowisata di Perbatasan

Keterangan foto: Bibit Mangrove yang telah berusia 3 bulan dan siap tanam untuk reboisasi pantai di Kaltara.

Selain untuk tanggul alam dari abrasi, pemerintah mentargetkan reboisasi mangrove seluas 35 hektar di Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara), akan mampu menjadi habitat bagi fauna asli Kalimantan. Selain itu, wilayah yang telah dihijaukan juga diharapkan mampu menjadi menjadi obyek ekowisata di Perbatasan.

Hal tersebut ditutukan Kepala Seksi (Kasi) Kepala Seksi Rehabilitasi Hutan dan Lahan Dinas Kehutanan Kaltara, Nustam kepada Pewarta, Senin (27/1/2020). Menurut Nustam, dari 35 hektar lahan yang masing – masing berada di Pantai Sungai Nyamuk seluas 8 hektar dan di Pantai Tanjung Harapan seluas 27 hektar, penanaman yang dikerjakan CV. Tengkawang Sari itu telah mencapai 88 persen.

“Penanaman dari bibit mangrove di lahan – lahan tersebut telah rampung sekitar 88 persen. Sambil dilakukan penyulaman hingga Februari 2020 apabila terdapat bibit yang berpotensi mati atau kurang sehat,” jelas Nustam

Lebih lanjut Nustam menuturkan bahwa bibit yang akan ditanam adalah jenis Api Api yang dikembangbiakan atau disemai oleh para petani lokal. Hal tersebut menurut Nustam, selain untuk memberdayakan masyarakt setempat, juga dikarenakan untuk reboisasi mangrove, bibit yang ditanam harus sesuai dengan iklim dan menyesuaikan kultur tanah di wilayah tersebut.

Keterangan foto: Lokasi Reboisasi Mangrove di Sebatik, Kalimantan Utara
Keterangan foto: Lokasi Reboisasi Mangrove di Sebatik, Kalimantan Utara

” Tidak lantas semua bibit bopeh ditanam di satu tempat. Karena harus menyesuaikan iklim dan kultur tanahnya. Nah , untuk di Sebatik bibit yang paling sesuai adalah dari jenis Api Api yang dikembangbiakan para petani setempat,” paparnya

Ketika Pewarta mendatangi tempat persemaian bibit mangrove di Desa Aji Kuning, memang terdapat hamparan penyemaian bibit baik yang masih tunas, tumbuh daun hingga siap tanam. Diketahui, bibit yang siap untuk ditanam adalah apabila daun sudah tumbuh minimal 4 lembar.

” Yang sudah siap tanam inilah kami akan segera dbawa ke lokasi untuk ditanam dan digunakan mengganti bibit yang layu,” ujar Andi Lulu salah seorang pekerja dari penanaman mangrove tersebut.

Sebagaimana diketahui, wilayah Sebatik terutama didaerah pantai riskan mengalami abrasi. Sehingga menurut Aktivis lingkungan hidup, Niko Ruru, reboisasi mangrove tersebut adalah hal yang layak didukung. Karena menurut Niko, hingga saat ini mangrove yang terbilang kuat dalam menahan gelombang adalah dari jenis Bakau atau Api Api.

“Pada intinya, kita dukung dan apresiasi dengan reboisasi tersebut. Tinggal kedepan adalah perawatan agar mangrove di Sebatik tersebut benar – benar dapat dimanfaatkan dengan baik diantaranya sebagai ekowisata,” tandas Niko.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR