Ribuan Umat Lintas Agama Laksanakan Doa Bersama di Myanmar

Hafiz Mufti Ali dalam Doa Bersama di Myanmar, meminta semua warga Myanmar saling menghormati dalam berserikat dan bergama (Foto Reuters)

Pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, melalui Partainya, telah mengambil langkah pertama, yang meredakan atmosfer permusuhan antar umat beragama. Tindakan itu dalam bentuk gelar doa bersama di Myanmar, yang diikuti oleh umat lintas agama, di sebuah stadion di Yangon.

Gelar doa bersama di Myanmar ini sebagai upaya untuk mengurangi ketegangan dan memperbaiki hubungan antara umat Budha dan Muslim. Tindakan ini sekaligus pula untu memenuhi tuntutan dari berbagai pihak, baik dari dalam negeri Myanmar maupun dari berbagai pihak di dunia, yang meminta Pemerintah Myanmar untuk memulai upaya perbaikan hubungan antara umat Buddha dan umat Islam. Tuntutan ini muncul pasca-eskalasi ketegangan yang menimbulkan kekerasan komunal dan memaksa lebih dari 520 ribu Muslim Rohingya Myanmar melakukan eksodus ke Bangladesh.

Dalam majelis doa yang diikuti oleh umat Buddha, Muslim, Hindu, Kristen, dan lain-lain tersebut, ribuan umat tampak khusyuk melaksanakan doa dengan dipimpin pemuka agama masing-masing.

Sebelum memulai doa, para pemuka agama menyampaikan orasi dan pesan persahabatan. Pemimpin Umat Budha, Iddhibala dalam pesanya menyampaikan agar tidak ada lagi saling benci apalagi sampai menumpahkan darah.

“Jangan ada pembunuhan satu sama lain, saling menyiksa, menghancurkan atau memusnahkan satu sama lain,” kata kepala biksu Buddha Yangon, Iddhibala, di hadapan khalayak seperti dikutip Reuters.

Ribuan masaa yang hadir serentak bertepuk tangan saat turun dari podium, Iddhibala berjabat tangan dan berpelukan dengan pemimpin Muslim, Hafiz Mufti Ali.

Dalam orasinya, Hafiz Mufti Ali juga menyampaikan pesan agar semua warga negara Myanmar harus berkolaborasi dalam persahabatan dan bekerja untuk negara.

“Kita harus hidup dalam persahanatan serta menghornati kebenasan hidup, kebebasan berserikat, kebebasan beragama, negara secara mutlak harus memenuhi semua hak ini,” ujarnya.

Hingga Senin 9 Oktober 2017 kemarin, gelombang baru pengungsi Rohingya menjadi sorotan media-media internasional. Dalam satu hari itu, sebanyak 11.000 Muslim Rohingya lari menuju Bangladesh.

Meski berbagai kecaman datang dari berbagai komunitas internasional, kebijakan non-simpatik terhadap Rohingya masih mendapat dukungan dari kelompok Buddha Ma Ba Tha.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR