Riska Darmawanti: Cara Perbaiki Bantaran Sungai: Cukup Infrastruktur Hijau

Program infrastruktur hijau yang dikerjakan Rob Beilfus (Dok Riska Darmawanti)

Kekhawatiran akan rusaknya bibir sungai yang biasanya disebut bantaran, akibat gerusan air sungai, pemerintah sebaiknya tak perlu memplengseng dengan cara betonisasi, sebaiknya dicoba juga infrastruktur hijau. Hal ini disampaikan peneliti Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) Riska Darmawanti. Lewat indwkaberita.comia berbagi.

Saat ini Riska sedang berkunjung ke kota-kota di Amerika Serikat, yang dimulai pada 23 April, sampai tanggal 2 Juni 2018. Berdasarkan pengamatannya dalam kunjungan tersebut, ia melihat bahwa bantaran sungai di sana, cukup dengan infrastruktur hijau.

“Setingkat Dinas PU (Pekerjaan Umum) di sana pada kota-kota di Amerika Serikat, terutama kota yang saya kunjungi di Kansas, Oletha, Shawnee, Mission Hill. Program penguatan bantaran sungai tidak hanya dilakukan dengan memplengseng atau membeton sungai,” kata Riska saat dihubungi,  Selasa, 29 Mei 2018.

Riska menjelaskan, bahwa mereka sangat berhati-hati untuk menentukan penguatan penguatan bantaran sungai. Mereka tidak melakukan dengan cara betonisasi.

“Perkenanlan saya dengan Rob Beilfus, seorang manager PU Kota Oletha. Kata dia, dua tahun terakhir banyak melakukan penguatan bantaran dengan menggunakan infrastruktur hijau. Karena dengan cara betonisasi akan merusak kehidupan hewan di air, ” jelas Riska.

Riska juga menyampaikan, bahwa untuk  program infrastruktur hijau itu, nilainya antara US$ 3 -7 juta. Dan menurut Rob, lanjut Riska,  lebih efektif bila dibanding dengan melakukan betonisasi.

“Pada lokasi yang dilakukan betonisasi, lebih mudah untuk mengalami longsor sedangkan tanaman dengan akar yang baik akan mengcengkram tanah sehingga mengurangi erosi yang terjadi,” ungkap Riska.

Rob Beilfus, manager PU Kota Oletha (Dok Riska Darmawanti)
Rob Beilfus, manager PU Kota Oletha (Dok Riska Darmawanti)

Ia juga menceritakan, pada saat kunjungannya ini, Rob sedang menjalankan program penguatan bantaran di Sungai Indian (Indian creek). Program yang merupakan bagian dari pengelolaan banjir (flood management). Program tersebut senilai US$ 3 juta, dan dijalankan untuk mengontrol erosi yang terjadi di Sungai Indian yang saat ini mengancam dinding batu dan perumahan. Rob menggunakan jasa kontraktor untuk implementasi program.

“Mereka menggunakan 2 campuran bibit tanaman, campuran tanaman hutan dan bantaran sungai. Semua tanaman yang digunakan adalah tanaman asli Kansas. Rob memperkirakan bahwa dalam 3 tahun, tanaman asli akan tumbuh secara menyeluruh, ” jelas Riska.

Salah satu bagian dari pengolaan banjir adalah mereka memperbaharui peta banjir 10 tahunan dan memindahkan rumah yang dianggap rentan terhadap banjir. Mereka menawarkan untuk membeli rumah sebesar 25% lebih tinggi dari harga pasar sehingga mereka setuju untuk menjual.

Apabila harga pasar rumah tersebut sangat tinggi (misalnya US$ 500 ribu). PU akan bekerja sama dengan pemilik rumah untuk mengubah struktur rumah sehingga mereka lebih adaptif terhadap banjir sehingga budget mereka menjadi lebih efektif.

Sebagai bagian dari implementasi Clean Water Act (CWA). Kota diharuskan untuk meregulasi pembangunan baik perkantoran atau perubahan sebelum dan sesudah pembangunan untuk mengurangi dampak stormwater terhadap perairan.

“Itu dilakukan untuk pengendalian dampak stormwater ketelah proses pembangunan, kota mengharuskan pengembang untuk membangun rain garden, swell, atau laban basah butaan, ” tutur Riska.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR