Rizal Ramli Loyalis Megawati

Drama pencalonan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur oleh PDI Perjuangan akan segera berakhir hari ini pada pukul 20.00 wib untuk memberi kejutan dan menjawab misteri paslon yang akan diusung.

PDI Perjuangan akan mengumumkan pasangan calon untuk memutus mata rantai “modal” yang telah lama menggelantung di ketiak penguasa yang menyebabkan penderitaan bagi para Kaum Marhaenis.

PDI Perjuangan sungguh beruntung mempunyai system rekrutmen kepala daerah yang flexible, memenuhi syarat threshold mengajukan calon sendiri, punya kader dan loyalis yang banyak dan tersebar luas sehingga memberikan banyak pilihan dalam menentukan pasangan calon.

Karena romantisme dan mempunyai elektabilitas yang tinggi sebagai petahana, Ahok merupakan pilihan pertama bagi PDI Perjuangan bila berpasangan dengan Djarot, tapi juga merupakan pilihan yang buruk.

Pilihan terhadap Ahok mendorong partai-partai islam membangun koalisi bersama dengan partai nasional lainnya untuk melawan, dan mendorong terjadinya kristalisasi fundamentalisme, radikalisme agama, gesekan antar etnik dan ras. Dilain hal, nilai pluralisme dan marheinisme yang di junjung tinggi oleh PDI Perjuangan akan retak dan hancur sungguhpun Ahok memenangkan pemilihan.

Pilihan kedua, Risma dan Sandiaga Uno merupakan pasangan yang dapat dipertimbangkan untuk diusung. Kekuatan Risma sebagai pemimpin local yang berhasil dan Sandiago pengusaha yang sukses akan menjadi kekuatan bersama. Namun pasangan ini tidak cukup kuat untuk menarik partai-partai Islam dan kelompok akar rumput bergembira dan berpesta di dalamnya. Tragisnya, bila kalah PDI Perjuangan akan kehilangan Surabaya dan Jawa Timur.

Pilihan unik dan mengejutkan adalah Rizal Ramli (Rajawali Ngepret) berpasangan dengan Djarot sebagai paslon. Bila PDI Perjuangan memutuskan pasangan ini di last minute, PDI Perjuangan telah memenangi pertarungan awal, karena dapat mendorong kelompok agama, nasionalis dan akar rumput bersatu.

Bersatunya partai-partai islam dan PDI Perjuangan dalam suatu koalisi mengusung Rizal-Djarot seperti mengingat kembali ucapan almarhum Taufik Kiemas (TK), “Jakarta ini milik partai islam, partai nasionalis hanya meminjam sementara”.

Rizal-Djarot merupakan kombinasi loyalis Megawati dan kader PDI Perjuangan yang dapat menerapkan dan membumikan Tri Sakti dan Nawa Cita di Jakarta. Ini merupakan jalsn sutera yang dapat membuka jalan penguasaan Pulau Jawa oleh PDI Perjuangan.

Ini semua berpulang kepada PDI Perjuangan, terutama Ketua Umumnya Megawati Sorkarno Putri. Memilih Ahok sama dengan PDI Perjuangan mendorong Indonesia di “persimpangan” jalan menuju kembali ke masa fasisme Orde Baru. Memilih Rizal Ramli berarti PDI Perjuangan mensegerakan terlaksananya Tri Sakti dan menerapkan ajaran Marhaenisme.

Mega harus ingat bahwa Pilkada DKI tahun 2017 adalah tahun bangkitnya Kaum Marhaen melawan pemilik modal dan ini akan merembet di propinsi lain di Indonesia. Sungguh.

Nazaruddin Ibrahim
Pengamat Politik dan Otonomi Daerah, sekarang Pengurus Komite Penggerak Nawacita (KPN). Pendapat tersebut di atas merupakan pendapat pribadi dan bukan lembaga.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR