Rumah Tani Indonesia: Impor Beras? Menteri Pertanian Harus Mundur

Logo Rumah Tani Indonesia (Foto dokumen)

Menteri Pertanian Amran Sulaiman yang sudah tiga tahun dipercaya oleh Presiden untuk mencapai tingkat produktivitas pertanian untuk kedaulatan pangan, dipandang gagal dalam menunaikan kewajibannya oleh Rumah Tani Indonesia. Melalui Direktur Eksekutifnya Jones Batara Manurung, Rumah Tani Indonesia mempertanyakan, mengapa diantara data-data spektakuler produktifitas pertanian yang disajikannya selama 3 tahun ini, harga beras naik dan kemudian kita harus mengimpornya? Atas dasar itu Rumah Tani Indonesia meminta Menteri Pertanian harus mundur.

Jones mengingatkan, pada masa kampanye Pilpres, Jokowi selaku calon Presiden menyampaikan bahwa demi mengangkat harkat dan martabat Petani maka kebijakan impor beras harus dihentikan. Dan setelah terpilih, Presiden Jokowi menerapkan kebijakan kedaulatan pangan harus menjadi prioritas, yang termaktub secara jelas dalam Nawacita-nya Jokowi. “Kebijakan Presiden tersebut merupakan kebijakan yang pro petani,” ujar Jones.

Terpilihnya Amran Sulaiman sebagai Menteri Pertanian oleh Presiden Joko Widodo tentu karena Amran Sulaiman dipandang memiliki kapasitas untuk mengemban tugas tersebut. Dan dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun ini, Mentan selalu melaporkan pencapaian yang spektakuler bahwa Indonesia telah pada tahap pencapaian kedaulatan pangan yang ditunjukkan dengan angka-angka statistik produksi komoditi pangan pokok yang meningkat dari waktu ke waktu. Dan Jonas melihat ada yang aneh dengan data-data yang disampaikan Mentan Amran.

“Baru saja laporan akhir tahun dilansir, yang menunjukkan tahap pencapaian kedaulatan pangan hampir pada semua komoditi, tiba-tiba Menteri Pertanian melakukan impor beras sebesar  500.000 ton. Itu menunjukkan bahwa pondasi yang dibangunnya selama 3 tahun tersebut sangat keropos,” urainya.

Pernyataan Menteri Pertanian dihadapan media, bahwa impor beras menunjukkan bahwa pemerintahan Joko Widodo – JK begitu mencintai rakyat, menurut Jonas justru sangat bertolak belakang dengan semangat Nawacita Jokowi. Dalam konteks ini, Amran sudah membelokkan semangat Nawacita Jokowi,

Ini harus jadi catatan merah bagi Amran, karena menjadi beban bagi Presiden Joko Widodo. Jonas pun kembali mengingatkan, Mentan Amran pernah sesumbar, apabila dia gagal menjalankan amanat Presiden Joko Widodo (Stop Impor) maka Amran bersedia mundur.

“Atas dasar itu Rumah Tani Indonesia meminta Menteri Pertanian mundur. Dan saat ini merupakan waktu yang tepat. Masih ada banyak figur yang memiliki kapasitas yang selaras dengan semangat  yang diusung Presiden Joko Widodo untuk mewujudkan kedaulatan pangan,” tegasnya.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR