Saat Mitos masih Pengaruhi Masyarakat Buang Popok Bayi di Kali

Pengambilan sampah di Kali Surabaya oleh Ecoton (Foto: Supriyadi)

Evakuasi popok bayi dan sampah lainnya di Kali Surabaya oleh Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) atau Lembaga Konservasi Lahan Basah, berakhir. Mulai Kamis hingga Selasa, 6 – 11 Juli 2017, tim yang dibentuk Ecoton melakukan penyisiran di sepanjang Kali Surabaya dimulai dari Kecamatan Bambe, Gresik hingga Rolag Gunungsari, Surabaya. Mereka berhasil memungi popok di sungai tersebut sebanyak 3,2 kwintal.

Masih maraknya membuang popok bayi di kali, menurut salah seorang relawan tim evakuasi sampah Kali Surabaya, Amiruddin Muttaqin, karena masyarakat masih terjebak pada mistos yang selama ini masih mereka yakini. Keyakinan turun-temurun yang masug mempengaruhi pola pikir masyarakat itu adalah ahwa popok bayi atau pakaian bayi sebaiknya dihanyutkan ke sungai.

“Mitos yang membuat masyarakat, hingga saat ini memang masih terjadi di masyarakat kita. Kalau membakar popok bayi maupun pakaian akan berdampak negatif pada bayi. Salah satu cara pilihan masyarakat, yaitu membuang popok bayinya ke sungai, “ kata Amir, sapaannya.

Tentang mitos ini, lanjut Amir, memang tidak bisa menyalahkan masyarakat. Karena yang terjadi dalam lingkup masyarakat tidak ada edukasi dari pihak pemerintah; bagaimana cara mengamankan popok bayi, diiketahui ada pipis bayi yang di dalamnya terdapat hidrogel.

“Kita tidak semata-mata menyalahkan masyarakat. Tentang bahaya sampah, terutama popok yang dibuang sembarangan. Ini terjadi memang selama ini tidak pernah ada edukasi dari pihak pemerintah, “ ungkap Amir.

Amir juga menjelaskan, selain itu juga diketahui popok bayi mengandung fases bayi yang mengandung Escherichia-Coli, merupakan bakteri yang terdapat dalam usus manusia dan hewan.

Perlu diketahui, tahun 2016 lalu jumlah bakteri Escherichia-Coli di Kali Surabaya mencapai 240.000/ 100 ml. Padahal ambang batasnya hanya 10.000/10 ml.

“Kondisi air memburuk setiap tahun. Sejak tahun 2006, Ecoton melakukan penelitian sudah mulai parah. Kali Surabaya Escherichia Ecoli atau masyarakat mengenal E-Coli, “ terang Amir.

Hasil-transek-kali-Surabaya

Penyusuran di Kali Surabaya itu, tim Ecoton bukan hanya memunguti popok, baik yang mengapung maupun menyangkut di ranting-ranting pohon ponggir sungai. Tim juga mendapati, sejumlah jamban yang didirikan di pinggiran sungai.

Budaya membuang popok ke sungai ini, memang pernah diakui warga yang tinggal di kawasan bantaran sungai. Nur, perempuan yang tak mau menyebutkan namanya lengkap, sejak menempati rumahnya di bantaran Gunungsari. Ia selalu membuang popok ke sungai.

“Ya dari dulu saya kalau buang popok di kali. Dulu popok kan tidak seperti sekarang yang djual di toko-toko dari kain biasa juga saya buang ke kali. Saat ini cucu saya yang sudah menggunakan popok beli, kalau sudah tidak dipakai ya dibuang ke kali, “ cerita Nur.

Masih cerita Nur, hal itu sudah menjadi tradisi sejak dulu. Popok bayi jika dibakar akan berkibat kulit bayi bentol-bentol. “Karena hal itu tidak saya inginkan ya saya buang ke kali saja, “ tambah Nur.

Nur juga mengaku, bersedia jika pemerintah memberi tempat khusus popok dengan cara tidak dibakar. Ada tempat untuk membasmi popok bayi asal tidak membahayakan mitos dalam membesarkan bayi.

“Kalau memang popok bayi mencemari kali. Kita akan patuhi aturan itu jika pemeintah mau membuatnya, “ kata Nur.

Mengenai banyaknya popok yang dibuang ke sungai ini. Pengajar Hukum Lingkungan Universita Airlangga (Unair) Surabaya Suparto Wajoyo mengatakan, pemerintah perlu melakukan peringatan dini, yaitu caranya memasang CCTV di setiap sudut jembatan penyeberangan.

“Itu bisa dilakukan saya rasa. Kita tempat CCTV di sudat jembatan, sesuai lokasi pemerintah daerah setempat. Semua bisa terpantau, yang di Mojokerto memantau di pendopo, Kota Surabaya memantau di balai kota, pemerintah provinsi Jawa Timur, memantau di kantor gubernur, “ kata Suparto.

Masih kata Suparto, di kota-kota maju masalah lingkungan menjadi isu utama. Semisal, ada tumpukan sampah di sungai, maka sirine di balai kota akan berbunyi. Sehingga seluruh pemangku kepentingan bisa langsung terjun untuk mengevakuasi tumpukan sampah tersebut.

Suparto memberi contoh, pemerintah Kota Surabaya sebenarnya sudah berjalan di garis yang benar, sayangnya untuk masalah lingkungan masih banyak yang perlu dibenahi.

“Harus ada strategi partisipasi rakyat serta memanfaatkan teknologi misalnya memasang CCTV di kantong-kantong rawan tumpukan sampah sehingga sampah bisa termonitor,” ucap Suparto.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR