Sambut Hari Kartini, Tim Kementan Turun ke Lapang Susun Rencana Tata Kelola Air Waduk Jatigede

Sumedang,- Kementerian Pertanian, Kamis (21/4), menurunkan tim yang dipimpin Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Infrastruktur Pertanian, Ani Andayani dan Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Infrastruktur Budi Indra Setiawan untuk melihat dan memastikan kemampuan aliran air Waduk Jatigede dalam mensuplai kebutuhan air bagi petani.

“Aliran air Waduk Jatigede itu mulai aliran ke Bendung Rentang di Majalengka yang merupakan pintu gerbang pembagian air bagi irigasi lahan pertanian dan suplesi ke sungai Cimanuk bagi kawasan pangan di Kabupaten Majalengka, Cirebon dan Indramayu,” ujar Ani saat meninjau Waduk Jatigede bersama tim.

Ani menjelaskan memahami manajemen air irigasi yang bersumber dari Waduk Jatigede sangat penting dilakukan guna mengantisipasi terjadinya kekeringan di saat musim kemarau.  Seperti yang telah dijelaskan oleh Konsultan Supervisi Waduk Jatigede, kini telah dirancang tata kelola air irigasi sekunder di bendung yang sedang dilakukan modernisasi di dua lokasi yaitu Waladan dan Rambatan dan rehab di Bendung Rentang.

“Ini sangat penting mengingat saat petani akan memasuki musim tanam 2 (MT II) yaitu periode Mei hingga Agustus 2016 dimana pada periode ini Waduk Jatigede akan mengalirkan air pada debit antara 21,47 m3 per detik hingga 116,89 m3 per detik , sehingga pemenuhan terhadap kebutuhan debit air bisa mencapai 64 persen hingga 100 persen,” jelas Ani.

Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk dan Cisanggarung, Kementerian PUPR akan melakukan sistem buka tutup pada pintu irigasi melalui Bendung Rentang  selama 12 jam yakni mulai 1 April 2016 sampai dengan 31 Agustus 2016 atau selama 5 bulan.

“Bila air dari Jatigede kini mengalir 60 m3 per detik yang sampai di bendung Rentang sekitar 50 m3 per detik atau sekitar 16 persen kehilangan,” ungkap Ani berdasarkan informasi yang diperoleh dari BBWS Cimanuk dan Cisanggarung.

Bendung Rentang menerapkan pelayanan irigasi selama 24 jam selama 4 bulan, namun karena saat ini sedang dilakukan modernisasi di bendung tersebut, meskipun air Jatigede cukup tetapi tidak akan sampai ke petani karena terhalang belum siapnya proses modernisasi Bendung Rentang.

Manajemen tata kelola air penting untuk meningkatkan produksi pangan, khususnya padi. Kementan menekankan perlunya sistem tata kelola air yang kolaboratif dan terpadu antara Kementerian LHK , Kementerian PUPR dan Kementan. Kolaborasi ini juga perlu didukung segenap unsur atau pihak-pihak terkait baik termasuk petani dan masyarakat selaku pengguna air dan juga TNI AD beserta aparatur setempat selaku pembina dalam mengawasi penggunaan air.

“Dengan demikian, tidak akan terjadi kebocoran  aliran air irigasi yg seharusnya sampai ke sawah-sawah petani,” terang Ani.

Efisiensi pemanfaatan air irigasi sangat ditentukan oleh dedikasi petani untuk memahami jumlah tertentu air terbaik untuk produksi tanamannya. Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Litbang Kementerian PUPR bahwa untuk menghasilkan 1 ton beras di Indonesia saat ini diperlukan air sebanyak 2500 m3, sedangkan di negara-negara produsen beras seperti Vietnam dan Thailand cukup dengan 1600 m3 air.

“Hal ini perlu diantisipasi dengan penerapan sistem irigasi yang tepat dan efisien, terlebih saat ini telah banyak varietas benih unggul dan teknologi budidaya padi yang dihasilkan oleh Badan Litbang Kementan yang lebih efisien dalam penggunaan air,” tambah Ani.

Selain itu, kata Ani, menghitung kecukupan air bagi Budidaya padi sawah, padi gogo, atau padi gogo rancah atau jenis tanaman pangan lainnya menjadi aspek penting yang perlu diteliti lebih lanjut dan disosialisasikan kepada petani. Adopsi hasil inovasi Badan Penelitian dan Pengembangan Kementan akan lebih mudah disosialisasikan apabila disajikan dalam bahasa petani dan dilakukan secara tekun.

Ani mengungkapkan, tata kelola air harus ditinjau pula dari ketersediaan air irigasinya dimana destinasi akhir pemanfaat air di suatu daerah. Misalnya penggunaan sumber air suplemem dimana jika aliran air dari waduk atau dari bendung belum sampai atau karena pergeseran musim hujan dan air kurang.

“Pembuatan sumur air dangkal dengan geolistrik untuk sumber air suplemen secara persis adalah merupakan opsi solusinya seperti yang telah dilakukan di Desa Rancahan dan Desa Kedokan Gabus Kecamatan Gabus Wetan Kabupaten Indramayu,” pungkas Ani.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR