Sasarannya Istana, dan Perempuan Sebagai Pelaku Teror, Mengapa ?

Detaseman Khusus (Densus) 88/Anti Teror telah menangkap tiga orang yang diduga merancang serangan teror dengan bom bunuh diri ke istana negara. Salah seorang di antaranya adalah perempuan berinisial DYN yang akan berperan sebagai “pengantin” atau pelaku bom bunuh diri. Jal tersebut disampaikan oleh Kabag Penum Polri, Kombes Martinus Sitompul pada Sabtu sore, 9 Desember 2016.

“Pukul 15.40 WIB telah dilakukan penangkapan kepada tiga orang yaitu dua lelaki, NS dan AS, serta perempuan DYN,” kata Martinus Sitompul.

Masih menurutnya, pada saat penggeledahan di kamar kontrakan DYN, Polisi juga menemukan barang bukti berupa bom rakitan berbentuk penanak nasi elektronik (rice cooker), di kamar 104 kontrakan tiga lantai itu.

Melihat sasaran yang akan dituju adalah istana negara, dan calon ‘pengantin’ bom bunuh diri yang ditangkap berjenis kelamin perempuan, apakah ini menandai babak baru dari aksi terorisme di Indonesia? Jika sebelumnya, yang disasar adalah tempat keramaian, tempat ibadah, atau sekedar simbol negara, agar tujuan dan efek teror yang ditimbulkannya lebih kuat dan bergema, maka yang akan disasar pada pelaku yang ditangkap kemarin adalah Istana Negara, pusat kekuasaan. Sehingga benar apa yang ditenggarai oleh Kapolri, Jendral Tito Karnavian dan Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo. Bahwa aksi teroris itu nyata dan mengarah ke kekuasaan.

Demikian pula halnya dengan perempuan dengan inisial DYN, sebagai calon ‘pengantin’ teror. Jika ini terjadi, maka pertama kali perempuan menjadi pelaku utama aksi bom bunuh diri, bukan hanya sebagai pendukung aksi. Mengapa saat ini perempuan yang ingin menjadi pelaku bom bunuh diri?

Menurut Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Pol Boy Rafli, bisa jadi keinginan DYN untuk menjadi pelaku bom bunuh diri terinspirasi dari beberapa negara. Di beberapa aksi teror di beberapa negara, banyak wanita yang menjadi pelaku bom bunuh diri tersebut. Disamping itu menurutnya, DNY masih tergolong baru di jaringan teroris, yang masih semangat tetapi mudah terdokrin.

“DYN ini kelahiran 1989 (berusia 27 tahun), dia terdeteksi masih baru dalam jaringan teroris,” kata Boy melalui pesan singkat di Jakarta, Sabtu malam (10/12).

Saat ini polisi masih terus melakukan pengembangan terhadap kasus ini. Termasuk diantaranya, melakukan penggeledahan terhadap tempat tinggal orang tua DYN yang berlokasi di Blok Jati Waluya, Desa Bakung Lor, Kecamatan Jamblang, Cirebon.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR