Seknas Jokowi: Safari Politik Surya Paloh, Gejala Pragmagtisme Elite Politik

Dono Prasetyo (dokumen)

Pilkada 2020 masih setahun lagi (September 2020), apalagi Pilpres 2024, namun pragmatisme elite politik sudah dimulai. Hal tersebut disampaikan oleh Dono Prasetyo, Pimpinan Kolektif DPN Seknas Jokowi, menyikapi safari politik Surya Paloh – Ketua Umum Partai Nasdem, lewat pesan tertulisnya yang diterima redaksi pada Senin malam (11/11).

Seperti kita ketahui, Surya Paloh baru-baru ini berkunjung ke kantor pusat PKS. Rencananya safari politik akan terus berlanjut pada PAN dan Partai Demokrat. Dono beranggapan safari politik tersebut menjadi masalah dan menunjukan pragmatisme Partai Nasdem, karena tiga parpol tersebut berada di luar koalisi Kabinet Indonesia Maju.

“Apa mereka sudah siap-siap untuk tahun 2024? Belum genap sebulan usia Kabinet Indonesia Maju, elite politik sudah menunjukan gelagat pragmatismenya,” ujar Dono kepada Indeksberita.com.

Dono mengingatkan, manuver Surya Paloh sudah dimulai saat mengundang Gubernur DKI Anies Baswedan ke kantor DPP Partai Nasdem di tengah tarik-menarik penyusunan kabinet. Langkah Surya bisa dibaca sebagai reaksi atas rencana masuknya Prabowo (Gerindra) dalam kabinet Presiden Jokowi. Terlebih dengan adanya informasi yang muncul kemudian, bahwa Prabowo akan dipasangkan dengan Puan Maharani pada Pilpres 2024. Setelah bertemu dengan pimpinan PKS, dalam pembukaan Kongres Nasdem Surya Paloh kembali mengundang Anies.

Manuver politik Surya Paloh tersebut menurut Dono, secara gamblang menjelaskan satu hal penting, bahwa Nasdem maupun parpol yang lain, sejatinya sedang kekurangan kader potensial untuk maju dalam Pilkada tahun depan dan Pilpres 2024. Dan itu diakui Surya sendiri dalam Kongres II Partai Nasdem di Kemayoran baru-baru ini.

“Karena krisis kader itulah, Partai Nasdem mengundang tiga gubernur dari provinsi utama di Tanah Air, yakni Gubernur DKI, Gubernur Jabar, dan Gubernur Jatim. Mengajak tiga gubernur tersebut , merupakan cara Surya untuk membangun poros baru di luar poros Teuku Umar (kubu Megawati),” urai Dono.

Dono meyakini, Kubu Megawati juga menghadapi problem yang kurang lebih sama. Merasa anaknya (Puan Maharani) belum cukup siap dalam memasuki kontestasi Pilpres 2024, maka Megawati mengambil jalan pintas dengan cara memasangkan Puan dengan Prabowo. “Sudah tentu Prabowo akan menjadi capresnya, karena dianggap lebih berpengalaman,” imbuhnya.

Parpol lain juga begitu, hegemoni Ketua Umum terlalu kuat, sehingga kader lapis kedua sulit untuk dapat panggung. Kita boleh setuju atau tidak, partai seperti PKS atau PAN, tampaknya lebih berhasil dalam kaderisasi, ketimbang Partai Demokrat misalnya, yang terlalu fokus pada AHY, karena statusnya sebagai anak SBY.

Dalam hal kaderisasi, terlihat unsur relawan lebih siap. Hirarki dalam komunitas relawan tidak seketat seperti parpol. Itu sebabnya ketika Presiden Jokowi membutuhkan tenaga dari relawan, bisa secara cepat dipenuhi, seperti Fajrul Rachman (Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi) dan Wahyu Sakti Trenggono (Wakil Menhan). Dalam hal SDM berkualitas, komunitas relawan tidak pernah kekurangan orang. .

 

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR