Seknas Jokowi: Usul Memilih Presiden Melalui MPR, Upaya Memperkuat Oligarki

Gedung DPR-MPR RI (ilustrasi)

Mendukung Visi Politik Jokowi
Dalam beberapa kali kesempatan, Presiden Jokowi menyatakan tak setuju terhadap gagasan memilih presiden melalui MPR, seperti di masa Orde Baru dulu. Jokowi menilai sistem pemilihan Presiden langsung (one man one vote) seperti terjadi saat ini, sudah sangat tepat.

Pernyataan Presiden ini sebagai respons terhadap wacana amandemen konstitusi terkait peran MPR, yang sempat digulirkan segelintir elite partai. Atas sikap Jokowi terkait Pilpres tersebut, Seknas Jokowi, mendukung penuh.

Dukungan tersebut disampaikan oleh Dono Prasetyo-Pimpinan Kolektif DPN Seknas Jokowi. Organisasi relawan ini menegaskan pula bahwa sikap politik Jokowi tersebut merupakan wujud visi politik Jokowi yang jauh ke depan

“Kami segenap relawan yang tergabung dalam Seknas Jokowi, sangat mendukung sikap Pak Jokowi terkait sistem Pilpres. Demokrasi merupakan berkah terbesar bangsa ini sejak mencapai kemerdekaan, dan demokrasi ini akan kita wariskan pada generasi mendatang, secara berkelanjutan,” jelas Dono.

Dono mempertanyakan alasan dikembalikannya sistem pilpres ke sistem yang lama, yakni dipilih oleh MPR. Menurutnya itu merupakan upaya untuk memperkuat oligarki dari para elite partai.

“Terus terang saya sendiri tidak tahu, bagaimana ceritanya tiba-tiba muncul wacana semacam itu, saya khawatir para elite partai yang mengajukan usul memilih presiden melalui MPR adalah upaya memperkuat oligarki. Mereka ingin berkuasa selama mungkin. Ini jelas menyimpang dari nilai luhur demokrasi,” tegas Dono.

Upaya itu menurutnya, akan menutup ruang bagi lahirnya pemimpin generasi baru. Dono kemudian memberi contoh pengalaman Jokowi sendiri, sebagai seorang presiden yang dipilih langsung oleh rakyat.

“Tanpa pemilihan langsung, kita tidak akan menemukan figur sekaliber Jokowi, atau figur-figur lain seperti Tri Rismaharini, Khofifah, dan seterusnya. Dengan pemilihan langsung, masyarakat benar-benar firm terhadap tokoh yang menjadi pilihannya,” imbuh Dono.

Dono kemudian menyampaikan pengalamannya saat blusukan dalam upaya memenangkan Jokowi dalam Pilpres baru-baru ini. “Saat para relawan bertemu dan berdialog langsung dengan masyarakat, tak terdengar sekalipun aspirasi amandemen konstitusi, khususnya soal sistem pemilihan Presiden. Saya mohon para elite parpol, janganlah memelintir aspirasi rakyat, hanya karena ambisi sesaat,” jelas Dono penuh harap.

Dalam kalimat terakhirnya, Dono mengingatkan kembali, bahwa konstitusi yang dirumuskan para pendiri bangsa dimaksudkan untuk dilaksanakan guna membatasi kekuasaan. “Bahkan sejak awal republik, bapak bangsa sudah memberi keniscayaan, melalui jalan demokrasi, kesewenang-wenangan dalam penyelenggaraan negara tidak akan terjadi,” demikian Dono saat menutup pembicaraan.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR