Selesai Tugasmu Sebagai Pengompor di Dunia, Tak Perlu Diteruskan di Akherat

“Selamat jalan mas Agus “Lenon” Edi Santoso, Pengompor aksi protes kelas wahid. Semoga husnul khotimah.” Itulah status di dinding Facebook Hairus Salim, aktivis 80an dari Yogyakarta.

Ya, salah satu aktivis 80an yang melegenda, Agus Edy Santoso mendahului kita kemarin. Agus Lennon, panggilan akrabnya dikenal sebagai aktivis yang konsisten melawan ketidakadilan sejak awal 80an. Lennon bahkan dikenal sebagai pengompor dalam berbagai aksi baik yang dilakukan mahasiswa maupun warga masyarakat lainnya.

Saya tak ingat persis kapan mengenal sosok ini. Tapi yang pasti saya dikenalkan oleh Amir Husin Daulay (AHD), satu lagi legenda aktivis 80an. Dua sosok ini sering saya temui di kontrakan Kandang Sapi, Pejaten Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Saat itu UNAS kampus AHD adalah pusat gerakan mahasiswa di Jakarta.

IMG-20200113-WA0081

Sebagai aktivis Lennon cukup komplet. Ia sering datang di diskusi Kelompok Studi Proklamasi (KSP) bersama Denny J.A., Janminofri Nazir, Nazrina Zuryani, mahasiswa IKIP Jakarta dan aktivis lainnya. Lennon juga giat mengadvokasi rakyat di banyak daerah dan melakukan aksi bersama massa di berbagai kota. Ia tak hanya mempengaruhi orang lain melalui kecakapan dan kesabaran berbicara, Lennon juga mempengaruhi publik melalui buku.

Setidaknya ada dua penerbitan buku lahir dari tangannya, Frantz Fanon Foundation (FFF) dan Teplok. FFF antara lain menerbitkan Di Bawah Lentera Merah karya Soe Hok Gie, Demokrasi untuk Indonesia karya Hasan Tiro, sementara Teplok antara lain menerbitkan buku tentang Tan Malaka: Dari Penjara ke Penjara, Madilog, dan Aksi Massa. Buku Mereka yang Berani Menantang Risiko karya Seta Basri tentang sepak terjang Pijar juga diterbitkan Teplok.

IMG-20200113-WA0082

Saat mahasiswa IKIP Jakarta akan menggelar Aksi Anti Kekerasan di Kampus Rawamangun menyusul Peristiwa 5 Agustus 1989 dan ditangkapnya beberapa mahasiswa ITB, saya menjumpai selebaran ajakan aksi. Namun di selebaran yang konon beredar di beberapa kampus di Jakarta itu, dicantumkan penyanyi Iwan Fals sebagai salah satu pengisi acara. Saya menduga selebaran (belum dikenal istilah hoax) itu kerjaan duo Amir dan Lennon. Maksudnya baik agar aksi berjalan meriah. Ketika saya tanyakan tentang selebaran itu di Kandang Sapi, mereka cuma ngakak.

Menurut Lennon, ada dua mazhab dalam peta pemikiran dan gerakan angkatan 80an. Pertama, “Mazhab Jakarta” dengan Hariman Siregar cs sebagai idolanya. Mazhab ini menganut pandangan jangan bicara konsepsi atau ideologi ideal ekonomi dan politik ke depan selama Soeharto berkuasa. Yang penting semua energi diarahkan untuk menjatuhkan Soeharto. Bila bangunan rejim militeristik Orde Baru runtuh, maka ada space (ruang) untuk bicara apa saja.

Kedua, “Mazhab Salatiga” yang dimotori Arief Budiman. Mazhab ini berpandangan bahwa hanya gerakan sosialismelah jalan untuk membebaskan Indonesia dari kemiskinan dan ketergantungan. Soeharto boleh saja berkuasa, tapi gerakan sosialisme harus menjadi sokoguru sistem politik dan ekonomi Indonesia. Mazhab ini kurang bernafsu menjatuhkan Soeharto. Getol bicara sosialisme, tanpa banyak membicarakan soal menjatuhkan rejim militeristik.

Lennon dan beberapa kawan pada 1993 mendirikan Pusat Informasi dan Pendidikan Hak Asasi Manusia (PIPHAM). Tujuan organisasi ini untuk menumbuhkan penghargaan atas hak asasi manusia. PIPHAM giat menyebarkan informasi tentang HAM antara lain melalui penerjemahan buku terbitan PBB tentang HAM ditujukan untuk guru berisi bagaimana menyatukan isu-isu HAM ke dalam intruksional di kelas.

Mewakili PIPHAM Lennon diundang menghadiri konperensi internasional tentang Timor Leste di Portugal pada 1993 yang diadakan di Universitas Porto. Profesor Barbedo Magelhans menjadi tuan rumah konperensi ini. Saya bersama Rachland Nashidik, Khatibul Umam Wiranu New, Roy Pakpahan, dan Sandra Fertasari (almarnumah) menghadiri konperensi yang sama pada tahun 1997. Dia juga menghadiri acara serupa, kampanye kemerdekaan Timor Leste di Australia.

Soal Timor Leste memang Lennon dan PIPHAM lebih dulu namun akhirnya aktivis PIJAR melalui Solidamor yang diketuai Coki Naipospos makin kencang mengkampanyekan isu Timor Leste. Termasuk Solidamor menyelenggarakan konperensi internasional di Jakarta menghadirkan Prof. Barbedo. Karena itu Lennon kalau ketemu saya sering menggoda, “Cie cie anak buah Profesor Barbedo.”

Pada 2004 Lennon dan AHD umroh. Mereka mengalami peristiwa religius yang susah dijelaskan. Saat jalan-jalan mencari udara segar di sekitar Hotel Sheraton Mekkah, tiba-tiba ‘mak bedunduk’ ada Ka’bah di depan mereka. Reflek mereka sujud dan sholat, dan menangis.

Masih di Mekkah, paginya Lennon dan AHD tawaf. AHD bilang, “Mengapa tawaf muter kekiri? Padahal arah kanan sunnah.” Lennon menjawab, “Allah memang memihak kiri sebenarnya.”

Saat Lennon dan AHD bertemu di akherat mungkin mereka akan membicarakan Jokowi. Pada 2014 AHD mendukung Jokowi. Katanya, “Mbuh piye carane Jokowi presiden.” Sebaliknya, Lennon anti Jokowi atau tidak suka terhadap Jokowi. Apakah mereka akan berdebat, entahlah.

IMG-20200113-WA0083

Soal pilihan Lennon yang kritis terhadap Jokowi, ada satu peristiwa yang patut dicatat. Suatu saat dalam perjalanan di Jawa Timur ia perlu segera istirahat di sebuah rumah sakit, komplek PT Perkebunan. Lennon kepada petugas rumah sakit mengatakan, “Sampaikan ke bosmu, ada kawan yang sakit di RS PTP namanya Agus Edi Santoso.” Kawan Lennon yang menjabat sebagai komisaris itu kemudian “mengerjai” Lennon. Setiap perawat memberi obat dan makan ke Lennon, selalu mengatakan, “Rumah Sakit ini pro Jokowi, dokter dan perawat pro Jokowi, pegawai pro Jokowi.”

Meski beda pilihan, namun antara Dedy Mawardi, sang komisaris di PTP itu dengan Lennon tetap baik. “Ded, kita boleh beda pilihan politik tapi yang musti kita camkan adalah perkawanan kita. Perkawanan itu aset di atas segala perbedaan politik kita”. Itu kalimat dari Agus Edy Santoso terakhir ke Dedy. Bagi Dedy, Lennon adalah kawan dan guru kemanusiaan yang telah mendahului kita semua.

Pada Januari 2018 saya rombongan satu mobil dengan Lennon dari Jogja menuju Salatiga, menjumpai idola Mazhab Salatiga, Arief Budiman yang sedang sakit. Setahun berikutnya saya kembali bertemu (terakhir kali), saat sama-sama takziah di rumah Mohamad Yamin di Yogyakarta.

Selamat jalan Agus Lennon, terima kasih telah membuat mahasiswa dan kaum muda 80an berani melawan rejim Soeharto. Oh ya tak perlu mengompori lagi di akherat sana ya. Salam buat AHD dan kawan-kawan.

(Foto-foto ditulusan ini dari: Timor Maubere, Rico Aditjondro, Sri Hidayati)

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR