Sempurnakan Makna Literasi, 10 Fotografer-Penulis Berkolaborasi dalam Pameran Satu

9 dari 10 seniman dalam pameran Fotografi dan Puisi "SATU", yang digelar di House of Sampoerna 10 Agustus – 2 September 2017 (Foto : Ika).

Puisi berjudul “Untuk Yos” itu dibaca dengan intonasi rendah dan kadang tinggi. Suara serak-serak basahnya cukup mendominasi rekaman audio visual suara Wina Bojonegoro dalam membacakannya. Penyair itu memang sedang membahasakan foto karya Peter Wang, pasangannya dalam berkarya untuk buku sekaligus Pameran Fotografi dan Puisi berjudul “SATU”.

Peter-Wina adalah pasangan yang didapuk dalam pameran tersebut. Selain 10 pasangan seniman Surabaya di House of Sampoerna yang digelar  mulai 10 Agustus hingga nanti 2 September 2017 mendatang.

Pameran Fotografi dan Puisi berjudul “SATU”, kata salah satu penggagas pemeran Heti Palestina Yunani, sebenarnya digagas secara spontan. Ada 10 fotografer dan penulis puisi yang ditampilkan.

“Selain pasangan Wina-Peter yang sudah  ditampilkan pada malam pembukaan. Ada pasangan fotografer-penulis Leo Arief Budiman dan  saya. B.G. Fabiola Natasha berpsangan dengan Vika Wisnu, Haryo Suryo Kusumo dan Didik Siswantono, serta Mamuk Ismuntoro dan Sol Amrida, “ jelas Heti, panggilannya.

Lain Peter-Wina lain pula Leo-Heti. Keduanya menyatukan foto dan puisi dalam empat tampilan. Seperti puisi “Jiwa” karya Heti divisualisasikan bersama dalam cetakan foto di atas kain. Puisi “Maafkan Alam” terpisah dalam cetakan foto di atas kanvas dan Heti yang menulis di atas buku folio bergaris ukuran A4.

Karya Heti Palestina Yunani & Leo Arif Budiman (foto : Leo)

Sementara pasangan Fabiola-Vika menarik pengunjung dalam bentuk manekin untuk puisi “Ziarah”. Seolah menyatu bersama di atas papan kayu yang dilukis Fabiola. Pun demikian, Mamuk dan Sol memilih sederhana dalam suasana ruang kerja fotografer-penulis. “Keduanya memasang mesin ketik yang menghasilkan ketikan di atas kertas buram bersanding dengan foto Mamuk. Dipigura  denagan frame kecil, mirip suasana di sebuah meja kerja, “ ungkap Heti masih dalam suasana penjelasan.

Di sisi lain dalam sebuah dinding,  Haryo-Didik menggantung keempat fotonya secara bolak-balik antara foto dan puisi. “Ini pasangan yang dibeli kebabasan. Ada lima pasangan memang diberikan kebebasan untuk memvisualisasikan karya mereka. Sejak berkarya, setiap pasangan bisa sebebas mungkin saling merespon, “ imbuh Heti.

Pameran untuk “SATU”,  mamang  diselaraskan antara bahasa visual dan bahasa teks yang diserahkan masing-masing  berpasangan. Prinsipnya lima fotografer berkarya foto, yang lima penulis berkarya puisi.

”Namun tak jelas siapa yang merespon siapa. Ada kalanya puisi dihasilkan dari foto atau foto dibuat setelah puisi jadi. Hubungan saling merespon antara mereka ini terjadi sejak 2015. Semula dimaksudkan untuk merealisasikan persahabatan semata dalam satu buku berjudul ”JOMBLO”, Photo-Poem Book, ” cerita Heti.

Menariknya, dalam pameran itu antara mereka terlihat menjalin kerjasama cukup intens. Meski dilatarbelakngi cukup berbeda; fotografer dan penulis. Seperti Peter Wang, selama ini dikenal sebagi pengusaha, Mamuk Ismuntoro dikenal sebagai documentary photographer), Eed/Haryo  seorang fotografer, dan  Fabiola dikenal Chinese Painter dan pengajar.

Leo Arif  Budiman seorang pembatik dan mengajar pada kelas-kelas batik, Heti Palestina Yunani seorang  jurnalis dan pengajar, Vika Wisnu seorag pengajar dosen, dan Didik Ismuntoro seorang bankir), Sol Amrida produser film dan musisi. serta Wina seorang novelis dan pengusaha travel tour.

Dibantu Eddy Purnomo dari Pana Foto (kurator foto) dan redaktur Media Indonesia Damhuri Muhammad (kurator puisi), SATU dibagi dalam 10 sub tema yaitu Cinta, Kuat, Berlari, Gelora, Kontemplasi, Tulus, Berani, Kenangan, Ramai dan Tumbuh. Sub tema itu menghasilkan 50 foto dan 50 puisi yang dicetak dalam buku yang rencananya akan dilaunching bersama sastrawan ternama Indonesia, Joko Pinurbo pada penutupan pameran 2 September. Khusus untuk pameran SATU, sepuluh orang ini menunjukkan 30 foto dan 30 puisi dalam beberapa macam bentuk.

Bisa jadi penuangan visual ini berbeda dengan publik. Maka, pameran SATU juga menyediakan Pohon Puisi. Ada tiga foto untuk bisa direspon penikmat pameran dengan cara menuliskan puisi di atas kertas yang digantung di Pohon Puisi. Secara khusus, SATU yang bentuk lain dari kata manunggal, kumpul, gabung, sepakat, seia sekata, padu, dsb-nya juga dipersembahkan untuk memaknai HUT Kemerdekaan RI ke-72 atau bisa terjemahan dari Bhineka Tunggal Ika. Menyesuaikan perayaan Proklamasi RI, SATU juga mereferensikan kebhinekaan dalam suku, agama, ras, pendidikan, profesi, dan lain-lain. Semoga pameran yang ini menjadi pemicu maraknya kegiatan literasi di Kota Surabaya lewat fotografi dan puisi serta memberikan dorongan yang positif bagi persatuan dan kesatuan Indonesia.

“Pada intinya pameran ini digelar untuk menyempurnakan pemahaman literasi, selama ini yang dipahami publik, hanya dalam bentuk teks (baca buku). Visual juga merupakan karya literasi, “ kata Heti.

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR