Separuh Abad Soekarno Berpulang: Jangan Pukul yang Lemah

Presiden pertama Republik Indonesia Ir Soekarno (Bung Karno). Sumber foto: wikipedia

Tak terasa Ir Soekarno telah berpulang setengah abad yang lampau. Begitulah relativitas waktu, terasa begitu cepatnya waktu bergerak. Penulis yang kebetulan menyaksikan proses pemakaman beliau di TMP (Taman Makam Pahlawan) Blitar (TMP lama), masih ingat dengan baik bagaimana suasana Kota Blitar saat itu. Penulis yang kebetulan sejak usia belia sudah tertarik pada perjalanan tokoh-tokoh besar, mungkin termasuk orang yang beruntung, karena bisa menyaksikan langsung upacara pemakaman dua Proklamator, yakni Bung Karno dan Bung Hatta.

Secara kebetulan saat Bung Hatta wafat pada tahun 1980, penulis sudah melanjutkan sekolah di Jakarta, sehingga bisa bergabung dengan kerumunan massa di TPU Tanah Kusir (Jakarta Selatan), untuk menjadi saksi upacara pemakaman Bung Hatta.

Mungkin sudah takdir bagi Kota Blitar, walaupun Bung Karno hanya sebentar saja tinggal di Blitar, namun dua entitas tersebut menjadi identik, dan masyarakat tak lagi peduli kalau sejatinya Bung Karno tidak dilahirkan di Blitar. Ketika Bung Karno meninggal (21 Juni 1970), saya masih duduk di bangku sekolah dasar, tentu pengetahuan saya tentang peta elite politik di Jakarta (saat itu), boleh dikatakan sangat terbatas, kalau tidak boleh disebut nol besar.

Setelah paham sedikit soal sosok Bung Karno, baru saya dengar, bahwa rezim Soeharto sengaja menjauhkan makam Bung Karno dari Jakarta, agar tidak menjadi beban moril dan politik dari rezim Soeharto yang sedang mengonsolidasi kekuasaan. Ada kekhawatirkan bila dimakamkan di sekitaran Jakarta, pusara Bung Karno akan menjadi “monumen” simbol perlawanan dari para Soekarnois yang jumlahnya masih besar kala itu. Pada saat pemakaman Bung Karno, Blitar menjadi lautan manusia, berduyun-duyun orang datang dari pelosok kampung atau desa, bahkan dari kota lain, demi menyaksikan kepergian Putra Sang Fajar.

Perkiraan rezim Soeharto benar adanya, pendukung Soekarno memang masih banyak, terlihat dari lautan manusia di Blitar, yang ingin menyaksikan prosesi pemakaman. Apa yang kita lihat di Blitar pada saat pemakaman adalah cetusan hati rakyat negeri ini terhadap Bapak Bangsa, yang berbeda jauh dengan perlakuan elite Jakarta. Mungkin kita semua sudah tahu, bagaimana perlakuan rezim Soeharto terhadap Bung Karno pada bulan-bulan terakhir menjelang wafatnya.

Salah satunya bisa dilihat dari mobil ambulans yang mengantar jasad Bung Karno dari RSPAD (Jakarta Pusat), ke Wisma Yaso (kini menjadi Museum Satria Mandala), bila kita sempat melihat film dokumenternya terlihat itu mobil butut, artinya bukan kendaraan yang layak untuk menghormati seorang Bapak Bangsa. Atau karena film dokumenter yang kita tonton (terkait mobil jenazah) masih dalam format hitam-putih, sehingga mobil itu terlihat kusam?

Harian Kompas pada awal Juni lalu, telah menayangkan ulang sebuah berita lama dari media yang sama, soal pelarangan perayaan HUT Bung Karno ke-66, diberitakan pelarangan dilakukan langsung oleh Jenderal Soeharto (Kompas, 6/6/1967). Melihat perlakuan terhadap Bung Karno pada tahun-tahun terakhir hidupnya, saya jadi teringat apa yang pernah dikatakan Indonesianist terkemuka Benedict Anderson (Pak Ben) dalam biografinya (terbit 2016). Frasa dimaksud adalah: jangan pukul (orang) yang lemah.

Ungkapan Pak Ben kiranya pas untuk menggambarkan bagaimana perlakuan rezim Soeharto terhadap Bung Karno, setelah nama terakhir ini tidak berkuasa lagi, dan kondisi fisiknya juga semakin rapuh. Bung Karno yang sudah dalam kondisi “lemah” masih juga “dipukul”. Dalam tradisi jawa, ada juga ungkapan yang rasanya pas untuk menggambarkan hubungan (secara personal) antara Jenderal Soeharto dan Bung Karno: tega larane, ra tega patine.

Maknanya adalah, kita mungkin masih sampai hati menyakiti seorang sahabat, namun ketika sahabat itu terjungkal dalam penderitaan teramat dalam, kita menjadi iba juga. Ungkapan ini sangat bagus untuk menggambarkan pasang surut hubungan antara dua sahabat atau kerabat. Jika dihubungkan dengan bagaimana Jenderal Soeharto memperlakukan Bung Karno pada akhir-akhir hidupnya, mengapa Soeharto seolah tidak memiliki rasa iba. Tentu soal ini akan tetap menjadi misteri, mengingat Soeharto sendiri juga telah tiada.

Nasib Bung Karno di penghujung hidupnya, seolah menggenapkan apa yang juga dialami Bapak Bangsa yang lain, pada beberapa tahun sebelumnya, yaitu Sutan Sjahrir. Di awal republik kita memiliki triumvirat, yang seolah tak terpisahkan dalam mengawal bangsa yang baru merdeka, mereka adalah Bung Karno, Bung Hatta dan Bung Sjahrir. Akhir hidup Bung Karno dan Sjahrir benar-benar sebuah ironi, keduanya meninggal dalam status sebagai “tahanan”.

Dari ketiga nama itu, tinggal Bung Hatta yang menjalani hari-hari tuanya dengan kondisi normal, selepas mengundurkan diri selaku Wapres pada pertengahan 1950-an. Sjahrir meninggal di Swiss (April 1966) dalam kondisi sepi, jauh dari negeri yang sangat dicintainya. Ironisnya pula, status tahanan politik yang disandang Sjahrir, berasal dari rezim Soekarno. Artinya Soekarno sendiri saat masih berkuasa, juga sempat bersinggungan dengan narasi Pak Ben dan pepatah jawa tersebut.

 

Penulis: Aris Santoso, dikenal sebagai pengamat militer terutama TNI-AD, yang saat ini menjadi editor buku

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR